Finansial

Rupiah Terus Terpuruk Akibat Ketegangan Timur Tengah, BI Pastikan Intervensi Berkelanjutan

Danang Ismail
×

Rupiah Terus Terpuruk Akibat Ketegangan Timur Tengah, BI Pastikan Intervensi Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
Rupiah Terus Terpuruk Akibat Ketegangan Timur Tengah, BI Pastikan Intervensi Berkelanjutan

Rupiah kembali terpuruk di awal pekan ini. Pagi Rabu (4/3/2026), nilai tukar rupiah tercatat di level Rp 16.922 per dolar AS, melemah 0,29% dibanding hari sebelumnya. Pelemahan ini tak lepas dari ketegangan yang terus memanas di Timur Tengah.

Sentimen negatif dari antara Iran, Israel, dan keterlibatan AS mulai menyebar ke . Jalur strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama ekspor minyak global, mulai dihindari kapal-kapal dagang karena risiko keamanan yang tinggi. Situasi ini berimbas langsung pada harga minyak mentah dan nilai tukar mata uang negara-negara eksportir minyak, termasuk .

Rupiah Terus Tertekan, BI Siap Intervensi

Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam. Destry Damayanti, Deputy Gubernur Senior BI, menyampaikan bahwa pihaknya terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen, baik di pasar domestik maupun offshore.

Langkah-langkah BI mencakup transaksi spot, transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Selain itu, BI juga aktif membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menyerap likuiditas berlebih dan menguatkan rupiah.

  1. Transaksi Spot: Intervensi langsung di pasar spot untuk menstabilkan nilai tukar harian.
  2. Transaksi NDF dan DNDF: Digunakan untuk mengendalikan ekspektasi nilai tukar di pasar offshore dan domestik.
  3. Pembelian SBN Sekunder: Menyerap likuiditas berlebih dan memberikan tekanan pada suku bunga.

Destry menegaskan bahwa pelemahan rupiah masih sejalan dengan tren regional. Secara rata-rata, mata uang Asia Tenggara (MTD) juga melemah 0,51%, dan rupiah tercatat lebih stabil dibandingkan dengan sejumlah mata uang tetangga.

Konflik Timur Tengah Picu Sentimen Negatif Global

Analisis dari Ibrahim Assuaibi, seorang analis mata uang, menunjukkan bahwa ketegangan di kawasan Teluk Persia semakin memanas. Serangan udara Israel ke Lebanon dan balasan dari Iran ke infrastruktur energi negara-negara Teluk serta kapal-kapal tanker di Selat Hormuz memicu ketidakpastian global.

Iran bahkan dilaporkan telah menyatakan penutupan Selat Hormuz, jalur penting bagi sebagian besar ekspor minyak dunia. Kondisi ini membuat perusahaan asuransi menarik pertanggungan mereka untuk kapal yang melewati kawasan tersebut.

  • Kapal tanker dan kontainer menghindari Selat Hormuz.
  • Perusahaan asuransi membatalkan polis untuk kapal di kawasan tersebut.
  • Iran mengancam akan menembak kapal yang mencoba melewati jalur tersebut.

Sentimen ini memicu lonjakan harga minyak mentah, yang berdampak langsung pada neraca perdagangan negara eksportir minyak seperti Indonesia. Kenaikan harga minyak juga berpotensi memicu tekanan inflasi dan memperlebar defisit neraca perdagangan.

Data Cadangan Devisa dan Arus Modal Asing

Meski menghadapi tekanan , BI mencatat bahwa cadangan devisa nasional tetap terjaga. Pada akhir Januari 2026, cadangan devisa berada di level US$ 154,6 miliar. Angka ini masih dianggap cukup aman untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan likuiditas pasar keuangan.

Tabel berikut menunjukkan arus modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik sepanjang tahun 2026:

Bulan Arus Modal Asing (Rp)
Januari Rp 10,2 triliun
Februari Rp 8,5 triliun
Maret (hingga 4 Maret) Rp 7,0 triliun
Total Rp 25,7 triliun

Arus modal asing yang masuk cukup signifikan, menunjukkan bahwa investor masih memiliki kepercayaan terhadap pasar keuangan Indonesia. Namun, BI tetap waspada terhadap volatilitas yang bisa terjadi kapan saja akibat perkembangan geopolitik global.

Dampak Terhadap Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Lonjakan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dan memicu inflasi. BI dan pemerintah terus memantau perkembangan ini secara ketat.

Beberapa dampak yang bisa terjadi:

  • Inflasi bahan bakar dan transportasi meningkat.
  • Biaya produksi industri naik karena ketergantungan pada energi .
  • Defisit neraca perdagangan membesar akibat impor minyak yang lebih mahal.

Namun, BI optimis bahwa dampaknya bisa dikelola dengan baik melalui kebijakan makroprudensial dan koordinasi lintas sektor.

Strategi Jangka Pendek dan Tengah BI

Untuk menghadapi ketidakpastian global, BI menyusun beberapa strategi jangka pendek dan menengah:

  1. Penguatan Intervensi Pasar: Terus melakukan transaksi di pasar spot, NDF, dan DNDF untuk menjaga ekspektasi nilai tukar.
  2. Pengelolaan Likuiditas: Menggunakan SBN sekunder untuk menyerap likuiditas.
  3. Koordinasi Kebijakan: Bekerja sama dengan Kementerian Keuangan dan lembaga terkait untuk menjaga stabilitas makroekonomi.
  4. Komunikasi Publik yang Jelas: Memberikan sinyal kuat kepada pasar bahwa BI siap menjaga rupiah tetap stabil.

Haruskah Masyarakat dan Investor Khawatir?

Rupiah memang sedang tertekan, tapi bukan berarti dalam keadaan darurat. BI telah menunjukkan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan domestik. Selama cadangan devisa terjaga dan arus modal asing masih masuk, tekanan terhadap rupiah masih bisa dikelola.

Namun, masyarakat dan pelaku pasar tetap perlu waspada. Geopolitik global yang tidak menentu bisa berubah kapan saja. Investor disarankan untuk tidak terlalu panik dan terus memantau perkembangan kebijakan BI serta situasi di kawasan Timur Tengah.

Kesimpulan

Pelemahan rupiah di tengah ketegangan Timur Tengah adalah dampak dari sentimen global yang sedang tidak bersahabat. BI terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas, dan cadangan devisa masih dalam posisi yang aman. Meski begitu, risiko kenaikan harga minyak dan potensi tekanan inflasi tetap perlu diwaspadai.

Disclaimer: Data dan kondisi pasar bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan geopolitik global serta kebijakan pemerintah dan BI. Informasi dalam artikel ini disajikan berdasarkan data hingga .

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.