Harga minyak dunia kembali melonjak tajam, mencatat level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah, khususnya pasca-serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran. Situasi ini memicu ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur krusial yang mengangkut sekitar 20 persen minyak global.
Pasca-kejadian, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa angkatan laut AS siap mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz jika diperlukan. Namun, ancaman dari Iran yang bersumpah akan menyerang kapal apa pun yang mencoba melewati selat tersebut, membuat pasar minyak langsung bereaksi. Investor dan pelaku pasar mulai mengantisipasi gangguan pasokan yang signifikan, terutama dari negara-negara penghasil minyak besar di Teluk Persia.
Dampak Geopolitik terhadap Harga Minyak Global
Lonjakan harga minyak tidak datang begitu saja. Ada faktor-faktor kunci yang mendorong kenaikan ini, terutama yang berkaitan dengan ketegangan di kawasan Teluk Persia. Berikut adalah beberapa poin penting yang menjelaskan bagaimana geopolitik memengaruhi harga minyak secara global.
1. Penutupan Sebagian Selat Hormuz
Iran mengancam akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan yang menewaskan Ayatollah Khamenei. Selat ini merupakan jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Sekitar 20 juta barel minyak mentah melewati selat ini setiap hari.
2. Gangguan Produksi di Irak
Irak, salah satu anggota OPEC dan produsen minyak besar, mengurangi produksinya sebesar 700.000 barel per hari dari ladang Rumaila. Pengurangan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan eskalasi konflik yang dapat membahayakan infrastruktur produksi dan ekspor minyak.
3. Ancaman Blokade Laut yang Berkepanjangan
Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup untuk waktu lama, pasokan minyak global akan terganggu secara signifikan. Banyak negara produsen minyak di Teluk Persia terpaksa mencari rute alternatif, yang tentunya memakan biaya lebih tinggi dan waktu lebih lama.
4. Reaksi Pasar Finansial
Lonjakan harga minyak berdampak langsung pada indeks saham energi. Investor mencari instrumen keuangan seperti ETF leverage dan inverse untuk memanfaatkan volatilitas pasar. Hal ini menunjukkan bahwa ketidakpastian geopolitik tidak hanya memengaruhi harga komoditas, tetapi juga menciptakan peluang dan risiko baru di pasar modal.
Pergerakan Harga Minyak Dunia
Pergerakan harga minyak mentah Brent dan WTI pada awal Maret 2026 mencerminkan betapa rapuhnya keseimbangan pasar energi global. Kenaikan yang mencapai hampir 10 persen dalam sehari menunjukkan bahwa sentimen pasar sangat sensitif terhadap isu geopolitik.
Perbandingan Harga Minyak Mentah (3 Maret 2026)
| Jenis Minyak | Harga Sebelumnya | Harga Setelah Lonjakan | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|
| Brent | USD 77,50/barel | USD 80,08/barel | 3% |
| WTI | USD 71,30/barel | USD 73,41/barel | 2,9% |
Lonjakan ini terjadi dalam konteks ketegangan yang terus meningkat. Investor mulai memperhitungkan skenario terburuk, termasuk kemungkinan harga minyak mencapai USD 100 per barel jika gangguan pasokan berlangsung lama.
Skenario Ekstrem dan Proyeksi Harga
Beberapa analis memperkirakan bahwa harga minyak bisa melonjak hingga USD 100 per barel jika Selat Hormuz benar-benar ditutup dalam jangka panjang. OCBC Bank, dalam laporannya, menyebut bahwa harga Brent sempat menyentuh USD 85 per barel sebelum stabil kembali.
Namun, bank tersebut juga mencatat bahwa skenario dasar mereka tidak memperkirakan blokade permanen. Mereka menilai bahwa cadangan minyak dari anggota OPEC akan menjadi penyangga utama jika pasokan terganggu. Meski begitu, risiko tetap tinggi selama ketegangan geopolitik belum mereda.
Faktor Fundamental yang Tetap Berlaku
Meskipun geopolitik menjadi pendorong utama lonjakan harga minyak, faktor fundamental seperti permintaan global dan kapasitas produksi tetap menjadi penentu jangka panjang. Ed Egilinsky dari Direxion menyatakan bahwa meskipun risiko geopolitik dapat memicu volatilitas jangka pendek, keseimbangan antara penawaran dan permintaan akan kembali menjadi faktor utama dalam menentukan arah harga.
Permintaan minyak global saat ini masih relatif stabil, meskipun ada kekhawatiran terkait perlambatan ekonomi di beberapa negara besar. Di sisi lain, produksi dari negara-negara non-OPEC seperti Amerika Serikat dan Kanada terus meningkat, memberikan sedikit ruang gerak bagi harga untuk terus naik dalam jangka panjang.
Penutup
Harga minyak saat ini berada di titik kritis, dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik yang semakin memanas. Penutupan sebagian atau seluruh Selat Hormuz dapat memicu kenaikan harga yang signifikan, bahkan hingga level tiga digit. Namun, faktor fundamental seperti permintaan global dan cadangan strategis masih menjadi penahan laju kenaikan jangka panjang.
Investor dan pelaku pasar perlu terus memantau perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah. Ketidakpastian ini tidak hanya berdampak pada harga energi, tetapi juga pada stabilitas ekonomi global secara keseluruhan.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan perkembangan terkini hingga Maret 2026. Harga minyak dan kondisi geopolitik dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













