Permintaan global yang melemah membuat ekspor batubara Indonesia terus tertekan. Data Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor komoditas ini turun 16,04% secara tahunan menjadi US$ 1,82 miliar di Januari 2026. Volume ekspornya pun menyusut 2,87% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi sektor batubara nasional.
Dari sisi perbankan, kredit ke sektor pertambangan, termasuk batubara, juga menunjukkan performa yang kurang menggembirakan. Bank Indonesia mencatat kredit untuk modal kerja di sektor ini minus 8,8% secara tahunan, mencapai Rp 158 triliun. Sementara kredit investasi tumbuh terbatas di level 25,9% year-on-year, turun dari 27,8% di Desember 2025. Kondisi ini mendorong sejumlah bank untuk semakin selektif dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor batubara.
Penyesuaian Portofolio Kredit di Sektor Batubara
Seiring dengan dinamika pasar global dan komitmen terhadap prinsip keberlanjutan, sejumlah bank besar di Indonesia mulai meninjau ulang alokasi kredit mereka, termasuk ke sektor batubara. Penyesuaian ini tidak serta merta menghentikan pembiayaan, tetapi lebih ke arah evaluasi dan selektivitas yang lebih tinggi.
1. Bank Central Asia (BCA)
BCA membatasi eksposur kredit ke sektor batubara hanya sekitar 2,5% dari total portofolio kreditnya yang mencapai Rp 993 triliun. Meski begitu, bank ini tetap menyalurkan pembiayaan untuk mendukung pasokan listrik nasional, terutama di daerah pelosok. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyatakan bahwa pembiayaan ini masih relevan selama masa transisi energi, karena energi baru terbarukan belum sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhan nasional.
2. CIMB Niaga
CIMB Niaga juga menunjukkan sikap yang sama. Presiden Direktur Lani Darmawan menyatakan bahwa bank ini sangat selektif dalam menyalurkan kredit ke sektor batubara. Penilaian dilakukan secara menyeluruh, mulai dari arus kas hingga kesiapan perusahaan dalam menghadapi dinamika pasar. Bank ini juga tidak serta merta membuka fasilitas kredit untuk pemain baru di sektor ini.
3. Bank Mandiri
Portofolio kredit Bank Mandiri di sektor batubara mencapai Rp 67,1 triliun atau sekitar 4,49% dari total penyaluran kreditnya per Desember 2025. Meskipun demikian, kualitas kreditnya tetap terjaga dengan rasio NPL di level 0,00%. Ini menunjukkan bahwa bank ini tetap memberikan kredit kepada pelaku industri batubara yang memiliki kualitas dan kinerja baik.
4. Bank Negara Indonesia (BNI)
BNI mencatat penyaluran kredit ke sektor batubara sebesar 4,2% dari total kreditnya secara bank only, baik pada Desember 2025 maupun periode yang sama di 2024. Jumlahnya yang stagnan menunjukkan bahwa bank ini tidak menambah eksposur secara agresif, tetapi tetap mempertahankan kredit kepada pelaku usaha yang sudah teruji.
Faktor yang Mendorong Selektivitas Perbankan
Berbagai faktor global dan domestik turut memengaruhi keputusan perbankan dalam menyalurkan kredit ke sektor batubara. Dari sisi makroekonomi hingga isu lingkungan, semua menjadi pertimbangan dalam proses evaluasi.
1. Pelemahan Harga Batubara Global
Harga batubara yang relatif rendah pada akhir 2025 dan awal 2026 menjadi salah satu penyebab utama turunnya minat ekspor. Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyatakan bahwa pelemahan harga ini dipengaruhi oleh turunnya harga minyak dunia, yang pada akhirnya memberi tekanan pada harga komoditas energi lainnya, termasuk batubara.
2. Peralihan ke Energi Baru Terbarukan (EBT)
Semakin banyak negara yang beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Peralihan ini secara langsung mengurangi permintaan global terhadap batubara. Sebagai respons, sebagian bank mulai mengurangi eksposur terhadap energi fosil, termasuk batubara, sebagai bagian dari komitmen terhadap prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).
3. Komitmen ESG dan Keuangan Berkelanjutan
Praktik keuangan berkelanjutan menjadi fokus utama banyak bank saat ini. Pembiayaan yang tidak memenuhi standar ESG mulai dihindari. Namun, peluang tetap terbuka bagi pelaku industri batubara yang menerapkan prinsip ESG dengan baik. Ini menunjukkan bahwa bank tidak menutup diri sepenuhnya dari sektor ini, tetapi lebih selektif terhadap praktik bisnisnya.
Strategi Ke Depan untuk Sektor Batubara
Meskipun menghadapi tantangan, sektor batubara masih memiliki peluang jika mampu beradaptasi dengan perubahan global. Salah satu pendekatan yang bisa ditempuh adalah melalui hilirisasi dan penerapan prinsip ESG.
1. Hilirisasi Batubara
Pengembangan industri hilir berbasis batubara, seperti produksi dimethyl ether (DME) melalui proses gasifikasi, bisa menjadi nilai tambah. Dengan menghasilkan produk bernilai tinggi, sektor ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada ekspor mentah, tetapi juga meningkatkan daya saing di pasar global.
2. Penerapan Prinsip ESG
Perusahaan batubara yang ingin tetap menarik bagi perbankan harus menerapkan prinsip ESG secara konsisten. Ini mencakup pengelolaan lingkungan yang baik, tanggung jawab sosial, dan tata kelola perusahaan yang transparan. Bank lebih tertarik menyalurkan kredit kepada pelaku usaha yang memiliki komitmen kuat terhadap keberlanjutan.
3. Penyesuaian Strategi Bisnis
Pelaku industri batubara perlu menyesuaikan strategi bisnisnya agar tetap relevan. Ini termasuk diversifikasi pasar, peningkatan efisiensi operasional, serta pengembangan produk yang lebih ramah lingkungan. Bank akan lebih mudah memberikan dukungan pembiayaan kepada perusahaan yang menunjukkan arah bisnis yang berkelanjutan.
Tabel Perbandingan Portofolio Kredit Sektor Batubara per Bank
| Bank | Portofolio Kredit Batubara | Persentase dari Total Kredit | Kualitas Kredit (NPL) |
|---|---|---|---|
| BCA | Rp 24,8 triliun (estimasi) | 2,5% | Tidak ada data spesifik |
| CIMB Niaga | Tidak diumumkan secara detail | Selektif | Baik |
| Bank Mandiri | Rp 67,1 triliun | 4,49% | 0,00% |
| BNI | Rp 37,8 triliun (estimasi) | 4,2% | Stabil |
Catatan: Data bersifat estimasi berdasarkan informasi yang tersedia hingga Desember 2025. Angka dapat berubah seiring laporan keuangan tahunan dan kebijakan internal masing-masing bank.
Kesimpulan
Selektivitas perbankan dalam menyalurkan kredit ke sektor batubara bukan berarti penutupan akses pembiayaan. Ini lebih merupakan penyesuaian strategi yang sejalan dengan dinamika global dan komitmen terhadap keberlanjutan. Pelaku industri batubara yang ingin tetap menarik bagi perbankan harus mampu menunjukkan komitmen terhadap prinsip ESG dan mengembangkan strategi bisnis yang berkelanjutan. Dengan begitu, sektor ini masih memiliki peluang untuk tumbuh meski dalam kondisi yang penuh tantangan.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga Januari-Desember 2025. Angka dan kebijakan dapat berubah seiring perkembangan ekonomi dan kebijakan internal masing-masing bank.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













