Lahan bekas tambang sering kali meninggalkan jejak yang tidak mudah dihilangkan. Tidak hanya rusaknya ekosistem alam, tapi juga dampak sosial yang dirasakan masyarakat sekitar. Di Kelurahan Talang Jambe dan Talang Betutu, Palembang, kondisi ini menjadi kenyataan sejak era 1970-an. Wilayah seluas 105 hektare pernah digunakan untuk penggalian tanah liat, meninggalkan lubang besar dan lahan tandus yang rentan terhadap banjir, longsor, dan penumpukan sampah.
Namun, kisah ini tidak berakhir dengan lahan mati dan masyarakat yang terpuruk. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel berupaya membangkitkan kembali kawasan tersebut. Langkah ini tidak hanya soal pemulihan lingkungan, tapi juga penciptaan nilai ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Transformasi Lahan Bekas Tambang Jadi Ruang Produktif
Pemulihan lahan bekas tambang bukan perkara semalam. Butuh pendekatan holistik yang menyentuh aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Program TJSL yang dijalankan Pertamina Patra Niaga ini dirancang dengan empat pilar utama: Permata, Pesona, Perkasa, dan Pelangi. Masing-masing memiliki fokus yang saling melengkapi untuk menciptakan dampak berkelanjutan.
Pendekatan ini juga menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam meraih PROPER Emas dari Kementerian Lingkungan Hidup. Sebuah pengakuan atas kinerja lingkungan dan sosial yang unggul.
1. Permata: Menghidupkan Kembali Ekonomi Lokal
Program Permata menjadi salah satu pendorong utama pemulihan ekonomi di kawasan bekas tambang. Dari total 0,42 hektare lahan yang direklamasi, sebagian besar dimanfaatkan untuk kegiatan produktif masyarakat. Salah satu inovasinya adalah pengembangan Keramba Jaring Apung bertenaga surya.
Inisiatif ini tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga memberikan dampak langsung terhadap pendapatan masyarakat. Pengrajin batu bata mencatat peningkatan pendapatan hingga 25 persen. Sementara itu, Kelompok Wanita Tani mengalami lonjakan pendapatan hingga 133 persen. Angka ini menunjukkan bahwa lahan bekas tambang bisa menjadi ladang penghidupan baru.
2. Pesona: Kelola Sampah, Ciptakan Nilai Ekonomi
Masalah sampah kerap diabaikan, padahal potensinya besar untuk diolah menjadi nilai ekonomi. Program Pesona hadir sebagai solusi untuk mengelola sampah rumah tangga secara efektif. Capaian yang dicatat cukup mengesankan: 85 persen sampah terkelola, atau sekitar 3.600 kg per bulan.
Salah satu inovasi unik yang dikembangkan adalah pengolahan minyak jelantah dan ampas makanan menjadi pakan ikan. Inisiatif ini dikelola oleh kelompok UMKM setempat, yang tidak hanya membantu mengurangi limbah, tapi juga menciptakan pendapatan tambahan.
Pengumpulan minyak jelantah juga dilakukan di wilayah lain, seperti AFT Boyolali. Langkah ini menjadi upaya preventif untuk mengurangi risiko pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah rumah tangga yang tidak terkelola.
3. Perkasa: Siap Hadapi Bencana dengan Kapasitas Masyarakat
Lahan bekas tambang rentan terhadap risiko bencana seperti longsor dan banjir. Program Perkasa hadir untuk memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi situasi darurat. Salah satu langkah konkretnya adalah penanaman 250 pohon kelapa di area bekas galian.
Pohon kelapa dipilih karena akarnya yang kuat dan mampu memperkokoh struktur tanah. Selain itu, program ini juga mencakup pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi warga.
Di sisi lain, Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda menggandeng BPBD Sidoarjo untuk membentuk Forum Sister Village. Forum ini menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana melalui pelatihan dan simulasi penanganan darurat.
4. Pelangi: Wujud Kehadiran Ruang untuk Anak dan Keluarga
Anak-anak adalah masa depan. Program Pelangi hadir dengan pengembangan RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) dan ruang bermain anak. Inisiatif ini tidak hanya memberikan ruang bermain, tapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas gizi anak-anak di wilayah tersebut.
Dengan adanya ruang bermain yang aman dan nyaman, anak-anak bisa tumbuh dengan lebih sehat dan aktif. Sementara orang tua mendapatkan ruang untuk bersosialisasi dan menjalin kebersamaan.
Dampak Berkelanjutan yang Dirasakan Masyarakat
Transformasi lahan bekas tambang ini tidak hanya soal perubahan fisik. Lebih dari itu, ini adalah tentang memberikan harapan baru bagi masyarakat. Dari lahan yang sebelumnya tidak produktif, kini menjadi sumber penghidupan, ruang bermain, dan bahkan pusat ekonomi sirkular.
Pendekatan terintegrasi yang digunakan oleh Pertamina Patra Niaga memastikan bahwa setiap program tidak berjalan sendiri-sendiri. Melalui replikasi lintas unit, model ini bisa diterapkan di wilayah lain dengan tantangan serupa.
Disclaimer
Data dan capaian yang disebutkan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah seiring waktu. Informasi terkini sebaiknya dikonfirmasi langsung ke sumber terkait.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













