Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih belum berjalan secepat potensinya. Meski likuiditas perbankan terbilang tinggi, realisasi kredit ke sektor riil belum sebanding. Bank Indonesia mencatat masih ada celah besar antara kapasitas ekonomi dan kinerja aktual yang terjadi di lapangan.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyebut bahwa kondisi ini juga tercermin dari belum maksimalnya penyaluran kredit perbankan. Padahal, likuiditas yang tersedia cukup besar, terlihat dari rasio alat likuid perbankan yang mencapai 27,6 persen. Sayangnya, sisi permintaan atau demand belum seimbang dengan penawaran yang ada.
Kondisi Kredit Perbankan dan Gap Ekonomi
Situasi ini menciptakan apa yang disebut sebagai “kredit gap” atau celah kredit. Artinya, ada dana yang siap disalurkan, tapi belum terserap secara maksimal oleh pelaku usaha atau masyarakat. Padahal, kredit merupakan salah satu pendorong utama aktivitas ekonomi.
1. Data Kredit Belum Terserap Penuh
Salah satu indikator yang menunjukkan adanya celah ini adalah tingginya jumlah kredit yang disetujui namun belum ditarik. Data BI menyebut, kredit yang belum terealisasi mencapai Rp2.506 triliun atau sekitar 22,65 persen dari total plafon yang tersedia. Angka ini menunjukkan potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal.
2. Likuiditas Tinggi Belum Dorong Kredit
Meski likuiditas perbankan tinggi, penyaluran kredit belum sebanding. Rasio alat likuid mencapai 27,6 persen, menunjukkan bahwa bank memiliki banyak dana menganggur. Namun, sisi permintaan dari debitur belum sepadan, baik karena minimnya minat usaha maupun keterbatasan kapasitas debitur itu sendiri.
Kebijakan BI untuk Menutup Celah Ekonomi
Bank Indonesia tidak tinggal diam. Sejumlah langkah telah diambil untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor riil, salah satunya melalui Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM).
1. Insentif Likuiditas Sebesar Rp427,5 Triliun
BI telah menyalurkan insentif likuiditas senilai Rp427,5 triliun. Program ini memberikan insentif kepada bank yang aktif menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Salah satu bentuk insentifnya adalah pengurangan Giro Wajib Minimum (GWM) menjadi 3,5 persen, sehingga bank memiliki lebih banyak dana yang bisa digunakan untuk penyaluran kredit.
2. Dorong Sinergi Lintas Sektor
Menurut Destry, menutup celah ekonomi bukan tugas BI saja. Diperlukan sinergi antara otoritas moneter, fiskal, dan pelaku usaha. Mengutip Stephen Covey, Destry menyebut bahwa sinergi bisa membuat satu tambah satu hasilnya jauh lebih besar dari sepuluh. Artinya, kolaborasi yang baik bisa mempercepat pemulihan dan pertumbuhan ekonomi.
Penyebab Rendahnya Penyerapan Kredit
Meski dana tersedia, beberapa faktor menyebabkan kredit belum terserap maksimal. Ini bukan soal keengganan bank, tapi lebih pada dinamika ekonomi dan kondisi lapangan.
1. Minat Usaha yang Masih Rendah
Banyak pelaku usaha belum berani mengajukan kredit karena ketidakpastian ekonomi. Meski BI memberikan insentif, jika permintaan dari sisi usaha belum bangkit, penyaluran kredit akan tetap terbatas.
2. Kualitas Debitur yang Terbatas
Tidak semua pihak yang mengajukan kredit memiliki kualitas yang memenuhi syarat. Bank tetap harus menjaga prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan dana, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi.
Tantangan ke Depan
Menutup celah ekonomi bukan perkara instan. Butuh waktu dan kerja sama dari berbagai pihak. BI terus mendorong agar kredit bisa tersalurkan lebih cepat dan tepat sasaran.
1. Meningkatkan Kualitas Permintaan Kredit
Langkah selanjutnya adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas permintaan kredit. Ini bisa dilakukan melalui stimulus dari pemerintah, seperti program insentif bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM).
2. Edukasi dan Pendampingan bagi Debitur
Bank dan otoritas juga perlu memberikan pendampingan agar lebih banyak pelaku usaha memahami pentingnya kredit produktif. Edukasi ini bisa meningkatkan kepercayaan dan minat untuk mengajukan pinjaman.
Data Penyaluran Kredit dan Potensi
Berikut adalah rincian data penyaluran kredit berdasarkan informasi dari BI:
| Kategori | Jumlah (Rp Triliun) | Persentase dari Plafon |
|---|---|---|
| Kredit Disetujui Namun Belum Ditarik | 2.506 | 22,65% |
| Insentif Likuiditas BI | 427,5 | – |
| Rasio Alat Likuid Perbankan | – | 27,6% |
Data ini menunjukkan bahwa potensi penyaluran kredit masih besar. Namun, realisasi tergantung pada seberapa besar minat dan kemampuan debitur untuk menarik dana tersebut.
Kesimpulan
Gap ekonomi yang masih terjadi di Indonesia menunjukkan bahwa pertumbuhan belum mencapai potensi maksimal. Likuiditas yang tinggi belum diimbangi dengan penyerapan kredit yang optimal. BI terus berupaya melalui berbagai kebijakan, tapi kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama untuk mempercepat pemulihan ekonomi.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersumber dari informasi resmi Bank Indonesia per Februari 2026. Angka dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan ekonomi dan kebijakan yang berlaku.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













