Nasional

Mengapa Garitan Kalongliud Harus Jadi Inspirasi Pertanian Sirkular Terpadu?

Fadhly Ramadan
×

Mengapa Garitan Kalongliud Harus Jadi Inspirasi Pertanian Sirkular Terpadu?

Sebarkan artikel ini
Mengapa Garitan Kalongliud Harus Jadi Inspirasi Pertanian Sirkular Terpadu?

Program Garitan Kalongliud lahir dari kolaborasi Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor ANTAM dan masyarakat Desa Kalongliud, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Inisiatif ini bukan sekadar bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, tetapi dirancang sebagai model pertanian sirkular terpadu yang mengedepankan keberlanjutan lingkungan, ekonomi, dan sosial.

Langkah ini menunjukkan bahwa pengembangan desa bisa dilakukan dengan memanfaatkan potensi lokal secara bijak. Bukan hanya soal produksi, tapi juga tentang bagaimana masyarakat bisa tumbuh bersama dalam sistem yang saling mendukung.

Membangun Model Pertanian Sirkular yang Terintegrasi

Model pertanian sirkular di Kalongliud dirancang untuk menjawab tantangan penggunaan lahan yang tidak optimal, pengelolaan limbah, hingga ketergantungan pada pupuk kimia. Pendekatan ini menggabungkan berbagai elemen penting agar hasilnya berkelanjutan dan menguntungkan semua pihak.

1. Pemanfaatan Lahan Tidur Menjadi Produktif

Salah satu pencapaian utama dari program ini adalah pemulihan lahan tidur seluas 35 hektar. Lahan yang dulunya tidak produktif kini menjadi area pertanian yang menghasilkan berbagai , terutama cabai. Langkah ini tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tapi juga memberikan kerja baru bagi warga.

2. Pengolahan Limbah Menjadi Pupuk Organik

Program ini memanfaatkan sekitar 25 ton limbah kotoran ternak domba untuk diolah menjadi pupuk organik. Dengan pendekatan ini, penggunaan pupuk kimia bisa dikurangi hingga 50 persen. Selain mengurangi biaya produksi, penggunaan pupuk organik juga lebih ramah lingkungan.

3. Efisiensi Air dengan Sistem Irigasi Tetes

Pengelolaan air menjadi salah satu fokus utama dalam sistem sirkular ini. Dengan menerapkan teknologi tetes, efisiensi penggunaan air meningkat hingga 60 persen. Ini sangat penting mengingat wilayah Kalongliud sebelumnya menghadapi tekanan pada sumber daya air.

4. Penanaman Pohon untuk Penurunan Emisi

Sebagai bagian dari upaya pemulihan lingkungan, sebanyak 3.000 pohon ditanam di sepanjang sempadan Sungai Cinyurug. Langkah ini berkontribusi pada penurunan emisi karbon sebesar 21,5 ton CO2eq per musim tanam. Selain membantu mitigasi , penanaman pohon ini juga memperkuat ekosistem lokal.

Dampak Ekonomi dan Sosial yang Nyata

Perubahan yang terjadi di Kalongliud tidak hanya terlihat dari segi produksi pertanian. Ada yang lebih dalam, terutama dalam struktur ekonomi dan sosial masyarakat desa.

1. Peningkatan Pendapatan Kelompok Tani

Sebelum program ini berjalan, di Kalongliud bekerja secara individual dan bergantung pada tengkulak. Kini, mereka terorganisir dalam empat resmi yang dibentuk melalui Surat Keputusan Desa. Pendapatan kelompok tani meningkat hingga 65 persen, sementara biaya produksi, terutama pupuk, turun sekitar separuhnya.

2. Pembentukan BUMDes sebagai Pusat Distribusi

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berperan penting dalam memperkuat akses distribusi hasil pertanian. Dengan adanya BUMDes, petani memiliki posisi tawar yang lebih baik dan tidak lagi bergantung pada tengkulak. Ini adalah langkah strategis dalam membangun ekonomi desa yang mandiri.

3. Inovasi Lokal Mengubah Masalah Menjadi Peluang

Keong yang dulunya menjadi hama kini dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik cair. Inovasi ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan kreatif, masalah bisa diubah menjadi peluang. Masyarakat tidak hanya belajar bertani, tapi juga berinovasi.

Partisipasi Masyarakat Rentan dan Indeks Kepuasan

Program ini dirancang inklusif, sehingga kelompok masyarakat rentan juga bisa terlibat secara aktif.

1. Libatkan Kelompok Rentan dalam Ekonomi Desa

Sebanyak 68 individu dari kelompok rentan seperti buruh tani, lansia, anak-anak, keluarga pra-sejahtera, dan mantan penambang liar dilibatkan dalam sistem ekonomi desa. Mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat, tapi juga bagian dari solusi.

2. Tingkat Kepuasan Masyarakat Capai 90,82 Persen

Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap program ini mencapai 90,82 persen. Angka ini menunjukkan bahwa program tidak hanya memberikan dampak ekonomi, tapi juga diterima dengan baik oleh masyarakat secara keseluruhan.

Peran Local Hero dan Rumah Belajar Garitan

Transformasi di Kalongliud tidak terlepas dari peran tokoh masyarakat setempat.

1. Kang Wahyu sebagai Penggerak Inovasi

Kang Wahyu dikenal sebagai local hero yang memimpin gerakan perubahan di desa. Bersama masyarakat, ia mendorong adopsi teknologi pertanian baru dan memperkuat kolaborasi komunitas.

2. Rumah Belajar Garitan Jadi Pusat Pembelajaran

Rumah Belajar Garitan yang dibangun di desa kini menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat lokal maupun pengunjung dari luar daerah. Lebih dari 696 orang telah berkunjung ke sini, menjadikannya model yang mulai direplikasi di desa lain.

Evaluasi SROI: Investasi yang Menghasilkan Manfaat Sosial Tinggi

Evaluasi berbasis Social Return on Investment (SROI) menunjukkan nilai 4,34. Artinya, setiap satu investasi menghasilkan manfaat sosial lebih dari empat rupiah. Ini membuktikan bahwa program ini tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tapi juga memiliki dampak sosial yang besar.

Data dan Rincian Program Garitan Kalongliud

Komponen Hasil
Luas lahan dipulihkan 35 hektar
Limbah domba dimanfaatkan 25 ton
Penghematan pupuk kimia 50%
Efisiensi penggunaan air 60%
Penurunan emisi karbon 21,5 ton CO2eq/musim
Peningkatan pendapatan petani 65%
Keuntungan usaha cabai (2024–2025) Rp246.258.000
Indeks kepuasan masyarakat 90,82%
SROI 4,34

Program Garitan Kalongliud menunjukkan bahwa pertanian sirkular bukan sekadar konsep. Dengan pendekatan yang tepat, kolaborasi antara perusahaan dan masyarakat bisa menghasilkan dampak nyata yang berkelanjutan.

Disclaimer: dan pencapaian dalam artikel ini bersifat sesuai dengan informasi terakhir yang tersedia hingga Februari 2026. Angka dan kondisi bisa berubah seiring waktu.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.