Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Januari 2026 mencatatkan angka Rp54,6 triliun. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa kondisi ini masih berada dalam batas wajar sesuai dengan desain APBN yang telah ditetapkan. Meski mengalami defisit, Purbaya menilai hal ini sebagai bagian dari strategi pengelolaan fiskal yang bertujuan untuk mendukung pemulihan ekonomi berkelanjutan.
Pendapatan negara hingga akhir Januari tercatat sebesar Rp172,7 triliun. Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp227,3 triliun. Selisih ini menunjukkan bahwa pengeluaran masih lebih tinggi daripada pemasukan negara. Namun, Purbaya menekankan bahwa defisit ini tidak berlebihan dan masih bisa dikelola dengan baik mengingat berbagai prioritas belanja yang sedang digenjot di awal tahun.
Rincian Pendapatan Negara
Pendapatan negara yang tercatat sebesar Rp172,7 triliun berasal dari berbagai sumber. Komponen utamanya adalah penerimaan pajak yang mencapai Rp116,2 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan, yaitu 30,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan ini mencerminkan pemulihan aktivitas ekonomi yang semakin baik serta peningkatan kepatuhan wajib pajak.
Selain pajak, negara juga memperoleh pendapatan dari bea cukai sebesar Rp22,6 triliun. PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) menyumbang Rp33,9 triliun. Purbaya menyebut bahwa PNBP menunjukkan pemulihan yang cukup baik, terutama dari komponen yang bersifat berulang. Ini menunjukkan bahwa pendapatan non-pajak mulai kembali stabil dan tidak hanya bergantung pada sumber yang bersifat insidental.
Belanja Negara yang Meningkat Signifikan
Di sisi pengeluaran, belanja negara tercatat sebesar Rp227,3 triliun. Belanja pemerintah pusat menyumbang Rp131,9 triliun, atau naik 53,3 persen year-on-year. Lonjakan ini menunjukkan bahwa pemerintah mempercepat realisasi anggaran di awal tahun untuk menopang berbagai program prioritas.
Transfer ke daerah juga terus menjadi fokus, dengan realisasi sebesar Rp95,3 triliun. Angka ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung pembangunan daerah serta menjaga daya beli masyarakat di berbagai wilayah. Purbaya menyebut bahwa percepatan belanja ini penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026.
Penyebab Defisit APBN
-
Pendapatan yang Masih Terbatas di Awal Tahun
Meski penerimaan pajak dan PNBP menunjukkan tren positif, namun secara keseluruhan pendapatan negara masih belum seimbang dengan pengeluaran. Ini wajar mengingat penerimaan negara biasanya meningkat secara bertahap sepanjang tahun. -
Prioritas Belanja untuk Stimulus Ekonomi
Pemerintah sengaja meningkatkan belanja di awal tahun untuk mendukung program prioritas, termasuk investasi infrastruktur, subsidi energi, dan bantuan sosial. Hal ini bertujuan untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi. -
Transfer ke Daerah yang Tinggi
Realisasi transfer ke daerah mencerminkan komitmen pemerintah dalam menjaga keseimbangan pembangunan nasional. Namun, angka ini juga turut membebani posisi APBN di awal tahun.
Perbandingan Pendapatan dan Belanja Negara (Periode Januari 2026)
| Komponen | Jumlah (Rp Triliun) |
|---|---|
| Penerimaan Pajak | 116,2 |
| Penerimaan Bea Cukai | 22,6 |
| PNBP | 33,9 |
| Total Pendapatan Negara | 172,7 |
| Belanja Pemerintah Pusat | 131,9 |
| Transfer ke Daerah | 95,3 |
| Total Belanja Negara | 227,3 |
| Defisit APBN | 54,6 |
Strategi Pengelolaan Defisit
-
Peningkatan Efisiensi Anggaran
Pemerintah akan terus memantau realisasi belanja untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan dampak maksimal. Ini mencakup evaluasi berkala terhadap program-program prioritas. -
Optimalisasi Penerimaan Negara
Langkah-langkah akan terus dilakukan untuk meningkatkan penerimaan pajak dan PNBP. Termasuk di dalamnya adalah penguatan sistem perpajakan serta pengawasan terhadap sumber pendapatan non-pajak. -
Pengendalian Defisit dalam Batas Aman
Defisit APBN saat ini masih berada dalam batas aman, yaitu di bawah 3 persen terhadap PDB. Pemerintah akan terus memastikan bahwa defisit tidak melampaui ambang batas yang ditetapkan.
Proyeksi ke Depan
Purbaya menyampaikan bahwa defisit di awal tahun ini tidak akan berdampak negatif pada stabilitas fiskal secara keseluruhan. Seiring berjalannya waktu, penerimaan negara diperkirakan akan meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi. Realisasi belanja juga akan terus dimonitor agar tetap sesuai dengan target yang telah ditentukan.
Pemerintah optimistis bahwa APBN 2026 akan tetap berjalan sesuai rencana. Kebijakan fiskal yang responsif dan adaptif akan terus diterapkan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan negara.
Disclaimer
Angka-angka yang disajikan dalam artikel ini bersifat sementara dan dapat berubah seiring dengan perkembangan realisasi APBN sepanjang tahun. Data bersumber dari Kementerian Keuangan dan disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Februari 2025. Perubahan kondisi ekonomi makro dapat mempengaruhi angka-angka ini di masa mendatang.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













