Ilustrasi. Foto: Dok MI
Kelas menengah sering kali dianggap sebagai tulang punggung ekonomi suatu negara. Kelompok ini berada di antara kelas atas dan kelas bawah, dengan karakteristik yang unik: bukan hanya soal pendapatan, tapi juga gaya hidup, akses layanan, dan cara pandang terhadap masa depan. Mereka bukan yang paling kaya, tapi juga bukan yang paling susah. Mereka punya penghasilan cukup untuk hidup nyaman, menabung, bahkan berinvestasi.
Tapi sebenarnya, seberapa besar sih pengeluaran yang masuk dalam kategori kelas menengah? Dan apa saja ciri-cirinya yang bisa dikenali secara umum? Jawabannya nggak sekadar soal angka di rekening tabungan, tapi lebih dalam dari itu.
Definisi dan Besaran Pengeluaran Kelas Menengah
Menurut Bank Dunia, klasifikasi kelas masyarakat didasarkan pada konsumsi per kapita dibandingkan dengan garis kemiskinan. Ini bukan soal pendapatan total, melainkan pengeluaran aktual yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Berikut klasifikasi kelas berdasarkan konsumsi per kapita:
- Miskin: Konsumsi per kapita di bawah garis kemiskinan
- Rentan: Antara 1 hingga 1,5 kali garis kemiskinan
- Menuju Kelas Menengah: Antara 1,5 hingga 3,5 kali garis kemiskinan
- Kelas Menengah: Antara 3,5 hingga 17 kali garis kemiskinan
- Kelas Atas: Lebih dari 17 kali garis kemiskinan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per September 2024, garis kemiskinan ditetapkan sebesar Rp595.242 per kapita per bulan. Dengan demikian, kelas menengah adalah mereka yang memiliki konsumsi per kapita antara Rp2.083.347 hingga Rp10.119.114 per bulan.
| Kategori | Konsumsi per Kapita (per bulan) |
|---|---|
| Miskin | < Rp595.242 |
| Rentan | Rp595.242 – Rp892.863 |
| Menuju Kelas Menengah | Rp892.863 – Rp2.083.347 |
| Kelas Menengah | Rp2.083.347 – Rp10.119.114 |
| Kelas Atas | > Rp10.119.114 |
Disclaimer: Angka ini dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan dan kondisi ekonomi nasional.
Ciri-ciri Masyarakat Kelas Menengah
Kelas menengah nggak cuma soal angka di slip gaji. Ada beberapa ciri yang umumnya melekat pada kelompok ini, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun gaya hidup. Ciri-ciri ini bisa jadi indikator kasar untuk mengenali apakah seseorang termasuk dalam kelas ini atau belum.
1. Pendapatan dan Pengeluaran Stabil
Salah satu ciri paling dasar dari kelas menengah adalah adanya penghasilan tetap yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar dan sekunder. Mereka nggak hanya bertahan hidup, tapi juga bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan atau investasi.
2. Kepemilikan Aset
Kelas menengah umumnya memiliki aset berupa rumah dan kendaraan pribadi. Ini bukan barang mewah, tapi lebih ke simbol stabilitas ekonomi. Mereka punya tempat tinggal tetap dan sarana transportasi yang mendukung mobilitas.
3. Akses ke Layanan Berkualitas
Masyarakat kelas menengah biasanya mampu membiayai pendidikan anak di lembaga berkualitas, baik itu sekolah swasta maupun les tambahan. Selain itu, mereka juga punya akses ke layanan kesehatan yang memadai, termasuk asuransi.
4. Kebebasan Finansial
Mereka tidak terlalu bergantung pada bantuan pemerintah atau orang lain. Kelas menengah punya kontrol atas keuangan pribadi, bisa mengatur pengeluaran, tabungan, dan bahkan investasi jangka panjang.
5. Gaya Hidup dan Investasi
Gaya hidup kelas menengah cenderung sadar akan kesehatan dan masa depan. Mereka sering berolahraga, menjaga pola makan, dan tidak jarang sudah mulai berinvestasi untuk jaminan hari tua.
Faktor yang Mendorong Munculnya Kelas Menengah
Kelas menengah nggak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang memainkan peran penting dalam tumbuhnya kelompok ini. Faktor-faktor ini bisa bersifat ekonomi, sosial, maupun kebijakan publik.
1. Pertumbuhan Ekonomi dan Distribusi Pendapatan
Pertumbuhan ekonomi yang stabil dan inklusif bisa mendorong lebih banyak orang keluar dari kemiskinan dan naik ke kelas menengah. Tapi pertumbuhan saja nggak cukup. Distribusi pendapatan yang merata juga penting agar manfaat ekonomi bisa dirasakan oleh lebih banyak orang.
2. Lapangan Kerja dan Pendidikan
Lapangan kerja yang menawarkan gaji layak dan tunjangan memadai adalah salah satu pendorong utama munculnya kelas menengah. Di sisi lain, pendidikan yang baik memungkinkan individu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, sehingga meningkatkan taraf hidup.
3. Mobilitas dan Kerentanan
Meski kelas menengah terus bertambah, kelompok ini tetap rentan terhadap penurunan status ekonomi. Misalnya, mereka yang berada di ambang batas kelas menengah bisa dengan mudah terdorong kembali ke kelas bawah jika terkena PHK atau krisis ekonomi.
Peran Kelas Menengah dalam Stabilitas Sosial
Kelas menengah bukan cuma penting secara ekonomi, tapi juga sosial dan politik. Mereka adalah kelompok yang cenderung stabil, moderat, dan mendukung kebijakan yang berkelanjutan. Di banyak negara, kelas menengah menjadi penyeimbang antara kekuatan ekonomi dan kekuatan sosial.
Mereka punya suara yang cukup kuat dalam proses demokrasi, tapi juga tidak terlalu ekstrem dalam pilihan politik. Ini menjadikan mereka sebagai elemen penting dalam menjaga stabilitas nasional.
Penutup
Kelas menengah adalah cerminan dari kesehatan ekonomi suatu negara. Semakin besar proporsi kelas menengah, biasanya semakin stabil perekonomian dan sosialnya. Tapi untuk terus bertumbuh, kelas ini butuh dukungan dari berbagai sektor, termasuk pendidikan, lapangan kerja, dan kebijakan distribusi pendapatan yang adil.
Mengenal lebih dalam tentang kelas menengah bukan hanya soal angka, tapi juga tentang bagaimana mereka menjalani hidup, merencanakan masa depan, dan berkontribusi pada masyarakat secara luas.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













