Ketegangan di Selat Hormuz kembali memicu gejolak pada pasar energi global. Harga minyak mentah dunia mencatatkan kenaikan signifikan setelah serangkaian bentrokan antara militer Amerika Serikat dan Iran kembali memanas di jalur distribusi minyak paling vital tersebut.
Para pelaku pasar kini berada dalam posisi siaga tinggi menyusul laporan mengenai serangan terhadap kapal tanker di wilayah perairan strategis itu. Meskipun terdapat pernyataan mengenai gencatan senjata yang masih berlaku, ketidakpastian pasokan energi tetap menjadi momok utama bagi stabilitas harga minyak dunia.
Dinamika Harga Minyak Dunia
Harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Juli mengalami kenaikan sebesar 1,1 persen menjadi USD101,13 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turut menguat 0,6 persen ke level USD95,40 per barel.
Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran mendalam investor terhadap gangguan pasokan yang terus berlanjut. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur air yang menyalurkan sekitar seperlima dari total kebutuhan minyak dan gas dunia, menjadikannya titik paling krusial dalam peta energi global.
Berikut adalah rincian pergerakan harga minyak mentah berdasarkan data pasar terbaru:
| Jenis Minyak | Kontrak | Harga Terakhir | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Brent | Juli | USD101,13 | +1,1% |
| WTI | Juni | USD95,40 | +0,6% |
Data di atas menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi akibat sentimen geopolitik. Perlu diingat bahwa angka-angka ini bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi di lapangan serta kebijakan ekonomi global.
Eskalasi Konflik di Selat Hormuz
Situasi di Selat Hormuz semakin rumit setelah blokade yang diterapkan militer Amerika Serikat sejak pertengahan April terus berlanjut. Langkah ini diambil sebagai bentuk tekanan terhadap Teheran, yang secara efektif menutup jalur distribusi minyak sejak akhir Februari.
Ketegangan mencapai titik baru ketika Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melaporkan tindakan tegas terhadap kapal-kapal tanker berbendera Iran. Aksi saling serang ini menciptakan atmosfer ketidakpastian yang menekan psikologi pasar secara langsung.
Beberapa tahapan eskalasi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir mencakup:
- Pencegatan serangan Iran terhadap tiga kapal perang Amerika Serikat yang melintasi Selat Hormuz.
- Pelumpuhan dua kapal tanker minyak kosong berbendera Iran oleh CENTCOM di Teluk Oman pada hari Jumat.
- Penyerangan target militer di pelabuhan Qeshm dan kota Bandar Abbas sebagai balasan atas tindakan Iran.
- Peninjauan proposal perdamaian 14 poin yang hingga saat ini belum mencapai kesimpulan final.
Transisi dari ketegangan militer menuju negosiasi diplomatik masih menjadi sorotan utama. Meskipun terdapat upaya untuk mengakhiri konflik, pasar minyak tetap merespons dengan kewaspadaan tinggi terhadap setiap pergerakan kapal di selat tersebut.
Dampak Ekonomi dan Proyeksi Masa Depan
Di luar dinamika Timur Tengah, data ekonomi Amerika Serikat memberikan gambaran yang cukup kontras terhadap pasar tenaga kerja. Sektor non-pertanian mencatatkan penambahan 115 ribu pekerjaan, melampaui ekspektasi ekonom yang sebelumnya hanya memprediksi angka di kisaran 65 ribu.
Tingkat pengangguran yang stabil di angka 4,3 persen memberikan sedikit ruang napas bagi para pengambil kebijakan. Namun, fokus utama tetap tertuju pada inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak akibat perang, yang secara tidak langsung menekan pertumbuhan upah riil.
Fitch Ratings merespons situasi ini dengan melakukan revisi terhadap asumsi harga minyak untuk tahun 2026 dan 2027. Berikut adalah rincian proyeksi harga minyak yang telah diperbarui:
- Proyeksi Brent 2026: USD87 per barel (sebelumnya USD70).
- Proyeksi Brent 2027: USD65 per barel (sebelumnya USD63).
- Proyeksi WTI 2026: USD80 per barel (sebelumnya USD65).
- Proyeksi WTI 2027: USD60 per barel (sebelumnya USD58).
Revisi ini didasarkan pada asumsi bahwa penutupan Selat Hormuz akan berlangsung lebih lama dari perkiraan semula. Fitch memperkirakan durasi penutupan selat mencapai lima bulan, sebuah peningkatan signifikan dibandingkan estimasi awal yang hanya satu hingga dua bulan.
Proses pembukaan kembali jalur distribusi ini diprediksi akan berjalan penuh gejolak. Mengingat 20 persen konsumsi minyak global sangat bergantung pada jalur ini, setiap gangguan kecil pun akan memiliki dampak berantai terhadap harga komoditas di tingkat konsumen.
Para analis pasar tenaga kerja menilai bahwa meskipun terjadi perbaikan, langkah bank sentral terkait suku bunga tetap akan sangat berhati-hati. Kenaikan suku bunga dipandang sebagai opsi terakhir jika inflasi akibat energi terus melampaui target yang ditetapkan.
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan data yang tersedia pada periode Mei 2026. Informasi mengenai harga minyak, kebijakan militer, dan proyeksi ekonomi bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan situasi geopolitik serta kebijakan resmi dari otoritas terkait. Pembaca disarankan untuk selalu memantau pembaruan berita terkini dari sumber-sumber kredibel.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













