Sektor keuangan digital di Indonesia mencatatkan tren yang sangat dinamis pada awal 2026. Layanan pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang lebih dikenal dengan istilah paylater melalui perusahaan pembiayaan atau multifinance menunjukkan lonjakan performa yang signifikan.
Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penyaluran pembiayaan paylater mencapai angka Rp 12,81 triliun per Februari 2026. Angka ini mencerminkan pertumbuhan yang cukup impresif sebesar 55,85 persen secara tahunan atau year on year.
Faktor Pendorong Lonjakan Pembiayaan Paylater
Pertumbuhan yang terjadi pada awal tahun ini bukan tanpa alasan. Berbagai variabel ekonomi dan perilaku konsumen di pasar digital menjadi katalis utama yang membuat angka pembiayaan terus merangkak naik.
Pihak OJK melalui Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML), Agusman, memberikan penjelasan terkait fenomena ini. Peningkatan permintaan pembiayaan dari masyarakat menjadi motor penggerak utama di balik angka fantastis tersebut.
Momentum hari besar keagamaan seperti Ramadan dan Lebaran turut memberikan kontribusi besar terhadap kenaikan volume transaksi. Masyarakat cenderung memanfaatkan kemudahan akses paylater untuk memenuhi kebutuhan konsumsi selama periode tersebut.
Selain faktor musiman, berikut adalah beberapa alasan utama yang membuat paylater semakin diminati oleh masyarakat luas:
- Kemudahan akses melalui ekosistem digital yang semakin terintegrasi.
- Fleksibilitas pembayaran yang sangat membantu segmen usia produktif.
- Jangkauan layanan bagi masyarakat yang belum tersentuh akses keuangan formal.
- Integrasi fitur paylater pada berbagai platform belanja daring.
Transisi perilaku konsumen menuju metode pembayaran digital ini diprediksi akan terus berlanjut. Perusahaan multifinance pun mulai menyesuaikan strategi bisnis mereka agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar yang semakin menuntut kecepatan dan kemudahan.
Menakar Kualitas Kredit dan Risiko Gagal Bayar
Di balik pertumbuhan yang pesat, aspek kualitas kredit tetap menjadi prioritas utama bagi regulator. OJK terus memantau ketat angka Non Performing Financing (NPF) gross agar tidak terjadi pembengkakan kredit macet di sektor multifinance.
Kondisi NPF gross paylater perusahaan pembiayaan per Maret 2026 tercatat berada di level 2,51 persen. Angka ini menunjukkan perbaikan yang cukup baik jika dibandingkan dengan posisi Januari 2026 yang sempat berada di angka 2,79 persen.
Untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai perbandingan kinerja pembiayaan dan kualitas kredit, berikut adalah ringkasan data yang dihimpun dari laporan OJK:
| Indikator Kinerja | Posisi Januari 2026 | Posisi Februari 2026 | Posisi Maret 2026 |
|---|---|---|---|
| Total Pembiayaan BNPL | – | Rp 12,81 Triliun | – |
| NPF Gross BNPL | 2,79% | – | 2,51% |
| Pertumbuhan YoY | – | 55,85% | 53,53% |
Catatan: Data di atas merupakan ringkasan dari laporan OJK dan dapat mengalami perubahan sesuai dengan pembaruan data berkala dari otoritas terkait.
Tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun pertumbuhan pembiayaan sangat tinggi, perusahaan multifinance mampu menjaga rasio kredit bermasalah tetap berada dalam koridor yang terkendali. Hal ini menjadi indikator positif bagi stabilitas industri keuangan digital di Indonesia.
Langkah Strategis Menjaga Stabilitas Industri
OJK tidak tinggal diam melihat perkembangan sektor ini. Berbagai langkah preventif terus didorong agar pertumbuhan yang terjadi tetap sehat dan tidak menimbulkan risiko sistemik di masa depan.
Peningkatan kualitas penilaian kredit menjadi fokus utama yang ditekankan kepada seluruh pelaku usaha multifinance. Dengan sistem penilaian yang lebih akurat, perusahaan dapat memitigasi risiko gagal bayar sejak awal pengajuan kredit.
Berikut adalah langkah-langkah yang disarankan untuk menjaga kesehatan portofolio paylater:
- Memperketat proses verifikasi data nasabah sebelum persetujuan kredit.
- Mengoptimalkan penggunaan teknologi AI dalam analisis profil risiko calon debitur.
- Melakukan edukasi keuangan secara berkelanjutan kepada pengguna paylater.
- Memperkuat sistem pemantauan real time terhadap perilaku pembayaran nasabah.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa kinerja pembiayaan BNPL akan tetap berada dalam tren positif sepanjang tahun 2026. Dukungan ekosistem digital yang semakin matang dan kebutuhan akan layanan keuangan yang fleksibel akan menjadi fondasi utama pertumbuhan sektor ini.
Masyarakat kini semakin terbiasa dengan kemudahan yang ditawarkan oleh layanan paylater. Namun, kedisiplinan dalam penggunaan dan pembayaran tetap menjadi kunci utama agar manfaat dari layanan ini dapat dirasakan secara maksimal tanpa menimbulkan beban keuangan di kemudian hari.
Dengan pengawasan yang ketat dari OJK dan komitmen dari perusahaan multifinance untuk meningkatkan tata kelola, masa depan pembiayaan digital di Indonesia terlihat cukup menjanjikan. Sinergi antara inovasi teknologi dan manajemen risiko yang disiplin akan menjadi penentu keberhasilan industri ini dalam jangka panjang.
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan data resmi dari OJK per Mei 2026. Informasi mengenai angka pembiayaan, persentase pertumbuhan, dan rasio NPF bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan laporan kinerja terbaru dari perusahaan pembiayaan terkait.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













