Finansial

Daftar 5 Bank dengan Kenaikan Penyaluran KPR Paling Pesat Selama Kuartal 1 Tahun 2026

Rista Wulandari
×

Daftar 5 Bank dengan Kenaikan Penyaluran KPR Paling Pesat Selama Kuartal 1 Tahun 2026

Sebarkan artikel ini
Daftar 5 Bank dengan Kenaikan Penyaluran KPR Paling Pesat Selama Kuartal 1 Tahun 2026

Sektor tanah air masih menghadapi tantangan yang cukup berat hingga kuartal I-2026. Pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di berbagai bank besar cenderung melambat dan hanya mencatatkan angka satu digit, yang menjadi indikator bahwa hunian belum sepenuhnya pulih.

Kondisi ekonomi makro, termasuk daya beli masyarakat yang masih dalam tahap pemulihan, menjadi faktor utama di balik lesunya ekspansi kredit properti. Selain itu, tingkat suku bunga yang masih berada di level tinggi turut menahan minat masyarakat untuk mengambil komitmen jangka panjang dalam mencicil rumah.

Dinamika Pertumbuhan KPR Perbankan

Data menunjukkan bahwa KPR secara nasional hanya tumbuh sekitar 4,5% pada Maret 2026 dengan total nilai mencapai Rp 842,7 triliun. Angka ini mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya yang sempat menyentuh pertumbuhan 5%.

Meskipun secara umum melambat, terdapat perbedaan performa yang cukup mencolok di antara bank-bank besar di Indonesia. Berikut adalah rincian pertumbuhan penyaluran KPR pada kuartal I-2026:

  1. PT Bank (BRI): Mencatatkan pertumbuhan paling agresif dengan angka double digit sebesar 11,06% (yoy) menjadi Rp 67,3 triliun.
  2. PT Bank Negara Indonesia (BNI): Tumbuh sebesar 9,32% (yoy) dengan total penyaluran mencapai Rp 73,9 triliun.
  3. PT Bank Tabungan Negara (BTN): Sebagai pemain utama di sektor properti, mencatatkan pertumbuhan 6,84% menjadi Rp 306,12 triliun.
  4. PT Bank Mandiri: Membukukan kenaikan sebesar 5,78% (yoy) dengan total penyaluran Rp 69,5 triliun.
  5. PT Bank Central Asia (BBCA): Mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,25% (yoy) menjadi Rp 142,4 triliun.

Perbedaan angka pertumbuhan ini mencerminkan strategi masing-masing bank dalam menyikapi kondisi pasar yang sedang menantang. Sementara sebagian besar bank fokus pada konsolidasi aset, beberapa lembaga keuangan tetap mampu mencatatkan performa di atas rata-rata melalui berbagai inovasi produk dan program promosi.

Faktor Penghambat dan Proyeksi ke Depan

Pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5% hingga 5,4% dinilai belum cukup kuat untuk memicu lonjakan permintaan properti secara masif. Selain itu, faktor eksternal seperti fluktuasi harga global juga memberikan tekanan tersendiri bagi stabilitas ekonomi domestik.

Untuk memberikan gambaran lebih jelas mengenai kinerja KPR di bank-bank besar, berikut adalah perbandingan data penyaluran KPR pada kuartal I-2026:

Nama Bank Nilai Penyaluran (Triliun Rupiah) Pertumbuhan (yoy)
BTN Rp 306,12 6,84%
BCA Rp 142,4 5,25%
BNI Rp 73,9 9,32%
Bank Mandiri Rp 69,5 5,78%
BRI Rp 67,3 11,06%

Data di atas menunjukkan bahwa meskipun BTN memegang pangsa pasar terbesar, BRI justru menjadi bank dengan laju pertumbuhan tercepat pada periode awal tahun 2026. Perlu diingat bahwa data ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada serta kondisi pasar properti di kuartal berikutnya.

Strategi Perbankan Menjaga Kualitas Aset

Di tengah perlambatan pertumbuhan, tetap memprioritaskan kualitas aset agar rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) tetap terjaga. Saat ini, rata-rata NPL KPR di industri perbankan nasional berada di kisaran 3,1%.

Untuk menjaga performa tersebut, perbankan menerapkan beberapa langkah strategis sebagai berikut:

  1. Pengetatan proses seleksi debitur melalui screening kredit yang lebih mendalam.
  2. Penguatan aktivitas penagihan atau collection bagi debitur yang mengalami kendala pembayaran.
  3. Pemanfaatan insentif pemerintah seperti Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).
  4. Sinergi dengan program pemerintah seperti skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).
  5. Pengembangan KPR berbasis digital untuk meningkatkan aksesibilitas dan efisiensi proses.

Selain langkah-langkah di atas, perbankan juga mulai melirik potensi wilayah yang didukung oleh proyek infrastruktur pemerintah. Strategi ini diharapkan mampu menjangkau segmen rumah menengah ke bawah yang memiliki permintaan lebih stabil dibandingkan segmen lainnya.

Tantangan Musiman dan Harapan Pemulihan

Beberapa bank, seperti BTN, menyebutkan bahwa perlambatan realisasi KPR juga dipengaruhi oleh faktor musiman. Kondisi cuaca ekstrem yang terjadi di akhir 2025 hingga awal 2026 sempat menghambat penyelesaian fisik proyek perumahan, yang secara langsung menunda proses pencairan kredit.

Selain itu, momentum hari besar keagamaan juga memberikan dampak pada progres konstruksi di lapangan. Namun, pihak perbankan tetap optimistis bahwa permintaan sebenarnya masih ada dan hanya tertunda karena faktor teknis .

Untuk mendorong minat masyarakat, berbagai bank terus meluncurkan menarik. Sebagai contoh, BCA melalui ajang Expoversary menawarkan bunga spesial KPR yang kompetitif serta diskon biaya provisi dan asuransi.

Langkah kreatif seperti ini diharapkan dapat menjadi katalis bagi pemulihan sektor properti di sepanjang tahun 2026. Dengan kombinasi antara insentif pemerintah, strategi pemasaran yang agresif, dan manajemen risiko yang disiplin, perbankan diproyeksikan masih memiliki ruang untuk tumbuh di kisaran 8% hingga akhir tahun.

Disclaimer: Data yang disajikan dalam artikel ini berdasarkan laporan kuartal I-2026 dan dapat mengalami perubahan sesuai dengan kondisi ekonomi terkini serta kebijakan masing-masing institusi perbankan. Informasi ini bukan merupakan saran investasi atau keputusan finansial.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.