Edukasi

Siswa SDN 25 Banawa Sukses Terbitkan Buku Perdana Sebagai Persembahan Hardiknas 2026

Rista Wulandari
×

Siswa SDN 25 Banawa Sukses Terbitkan Buku Perdana Sebagai Persembahan Hardiknas 2026

Sebarkan artikel ini
Siswa SDN 25 Banawa Sukses Terbitkan Buku Perdana Sebagai Persembahan Hardiknas 2026

Peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 di Kabupaten mencatatkan torehan sejarah baru yang cukup emosional. Sebanyak 35 siswa dari SDN 25 Banawa berhasil membuktikan bahwa usia sekolah dasar bukanlah penghalang untuk melahirkan karya sastra yang bermakna.

Momen sakral yang berlangsung di Sioyong, Kecamatan Dampelas pada Sabtu, 2 2026, menjadi saksi peluncuran buku perdana hasil tulisan tangan para siswa tersebut. Pencapaian ini sekaligus menjadi manis bagi dunia literasi tingkat sekolah dasar di wilayah tersebut.

Lahirnya Karya Literasi dari Tangan Siswa

Buku yang diberi judul "Jejak Kasih Ayah dan Ibu" diperkenalkan kepada publik tepat di tengah rangkaian upacara peringatan Hardiknas. Karya ini merupakan kumpulan narasi menyentuh yang disusun secara kolektif oleh 35 siswa kelas 5 SDN 25 Banawa.

Proses penyerahan buku dilakukan langsung oleh Kepala SDN 25 Banawa, Hj. Nirmawati, S.Pd.I., M.Pd., bersama guru pembina literasi, Safrudin, S.Pd., M.Pd. Pihak sekolah menyerahkan karya tersebut kepada Donggala, Vera Elena Laruni, Ketua DPRD Donggala, M. Yasin Lataka, serta Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Donggala, Ansyar Sutiadi.

Keberhasilan ini tentu tidak datang secara instan karena melibatkan proses panjang dan dedikasi tinggi dari pihak sekolah. Berikut adalah rincian mengenai latar belakang dan proses kreatif di balik terciptanya buku tersebut:

1. Tahapan Pengembangan Literasi di Sekolah

  1. Penentuan visi sekolah untuk menghidupkan literasi secara konkret.
  2. Pelaksanaan program pembimbingan menulis cerita secara intensif.
  3. Pendampingan guru dalam menyusun narasi dan struktur cerita.
  4. Proses kurasi dan penyuntingan naskah oleh tim pembina.
  5. Produksi dan pencetakan buku sebagai bentuk apresiasi karya.

Keberhasilan SDN 25 Banawa dalam mengawal siswa hingga mampu menerbitkan buku menjadi contoh nyata bagaimana sebuah visi pendidikan diimplementasikan. Program ini membuktikan bahwa literasi bukan sekadar aktivitas membaca, melainkan sebuah ruang ekspresi yang luas bagi anak-anak untuk menuangkan pikiran serta perasaan mereka.

Mengubah Teori Menjadi Karya Nyata

Bagi Safrudin, mengajarkan literasi kepada anak-anak harus melampaui batas-batas teori di dalam kelas. Siswa perlu diberikan ruang untuk mengekspresikan diri agar suara mereka memiliki nilai dan dapat dinikmati oleh khalayak luas.

Pendekatan ini dilakukan agar para siswa terbiasa dengan aktivitas literasi yang produktif, bukan sekadar konsumtif. Berikut adalah perbandingan antara pola literasi konvensional dengan pola literasi produktif yang diterapkan di SDN 25 Banawa:

Aspek Literasi Literasi Konvensional Literasi Produktif (SDN 25 Banawa)
Fokus Utama Membaca buku teks Menulis dan berkarya
Peran Siswa Penerima informasi Pencipta narasi
Output Pemahaman materi Produk buku fisik
Tujuan Kelulusan ujian Ekspresi diri dan literasi

Tabel di atas menunjukkan perbedaan mendasar dalam sekolah mengelola potensi siswa. Dengan beralih ke pola produktif, siswa merasa lebih dihargai karena karya mereka mendapatkan pengakuan dari pihak-pihak penting di daerah.

Apresiasi Terhadap Inovasi Pendidikan

Langkah progresif yang diambil oleh SDN 25 Banawa mendapatkan apresiasi tinggi dari para pejabat daerah yang hadir dalam upacara tersebut. Keberhasilan ini dianggap sebagai bukti bahwa pendampingan yang tepat mampu memicu kreativitas siswa sekolah dasar secara maksimal.

Dukungan penuh dari Kepala Sekolah menjadi kunci utama yang mengarahkan agar literasi tidak berhenti pada tataran wacana saja. Program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk mulai menggerakkan potensi literasi siswa secara lebih serius dan terarah.

Berikut adalah beberapa poin penting yang menjadi catatan keberhasilan program literasi di SDN 25 Banawa:

  • Keterlibatan aktif 35 siswa kelas 5 dalam satu proyek kolaboratif.
  • Adanya dukungan penuh dari pimpinan sekolah dan guru pembina.
  • Pemanfaatan momen besar seperti Hardiknas untuk peluncuran karya.
  • Peningkatan kepercayaan diri siswa melalui publikasi buku.
  • Sinergi antara pihak sekolah dengan pemerintah daerah dalam mendukung literasi.

Pencapaian ini diharapkan tidak berhenti pada satu buku saja, melainkan menjadi pemantik semangat bagi di Donggala untuk terus berkarya. Literasi yang hidup di sekolah adalah fondasi kuat bagi kemajuan pendidikan di .

Disclaimer: Data, nama tokoh, dan rincian kegiatan dalam artikel ini merujuk pada peristiwa yang terjadi pada 2 Mei 2026. Informasi terkait kebijakan sekolah atau program pemerintah daerah dapat mengalami sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan regulasi dan situasi di lapangan.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.