Finansial

Suku Bunga Kredit Belum Mendorong Pertumbuhan Pinjaman Hingga 2026

Fadhly Ramadan
×

Suku Bunga Kredit Belum Mendorong Pertumbuhan Pinjaman Hingga 2026

Sebarkan artikel ini
Suku Bunga Kredit Belum Mendorong Pertumbuhan Pinjaman Hingga 2026

Transmisi suku bunga kredit masih terasa tersendat meskipun Indonesia (BI) telah menurunkan sebesar 125 basis poin sejak awal 2025. Angka tersebut seharusnya memberi langsung pada penurunan biaya di sektor perbankan. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa efeknya belum terasa secara luas.

Per Maret 2026, suku bunga kredit baru turun sekitar 44 basis poin. Angka ini jauh di bawah ekspektasi dan menandakan adanya hambatan dalam mekanisme transmisi kebijakan moneter. Padahal, BI sendiri sudah mempertahankan BI Rate di level 4,25% sejak beberapa bulan terakhir, menunjukkan sikap konsolidasi terhadap arah kebijakan.

Kendala di Jalur Transmisi Suku Bunga

1. Waktu Jatuh Tempo Deposito Lama

Salah satu alasan utama transmisi suku bunga kredit lambat adalah adanya jeda waktu antara penurunan BI Rate dan jatuh tempo deposito lama. Banyak bank masih terikat dengan struktur dana berjangka yang nilainya tinggi dan bunga tetap, sehingga tidak langsung merespons penurunan suku bunga acuan.

2. Risiko Debitur yang Tinggi

Bank cenderung menjaga premi risiko tetap tinggi sebagai antisipasi terhadap potensi gagal bayar. Apalagi, ketidakpastian ekonomi global dan domestik masih menjadi sorotan. Dalam kondisi seperti ini, bank lebih memilih mempertahankan suku bunga kredit agar tetap aman dari risiko kerugian.

3. Biaya Operasional yang Masih Tinggi

Margin keuntungan menjadi pertimbangan penting. Biaya operasional bank dalam negeri masih tergolong tinggi dibandingkan dengan negara tetangga. Untuk menjaga profitabilitas, banyak bank enggan menurunkan suku bunga kredit secara signifikan meski BI Rate sudah turun.

Dampak pada Pertumbuhan Kredit

bisa terganggu jika transmisi suku bunga terus mandek. Korporasi pun mulai waspada dan menunda pengajuan pinjaman karena harga dana masih dianggap mahal. Alih-alih mengandalkan kredit bank, mereka lebih memilih instrumen pendanaan seperti obligasi.

Fenomena ini berpotensi membuat pertumbuhan kredit melambat ke level bawah 8%. Padahal, seharusnya era suku bunga rendah bisa mendorong ekspansi kredit lebih cepat, terutama di kalangan pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) serta konsumen ritel.

Respons Bank-Bank Besar

BCA Catat Penurunan SBDK

Bank Central Asia (BCA) mencatatkan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) di kisaran 6,85% hingga 8,89% per akhir Maret 2026. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 7,84% hingga 9,47%.

Hera F. Heryn, EVP Corporate Communication BCA, menyampaikan bahwa penyesuaian suku bunga dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai faktor , likuiditas, serta dinamika pasar. Meski demikian, BCA tetap menjaga prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.

Total kredit BCA tumbuh 5,6% year-on-year (yoy) hingga kuartal I-2026, mencapai Rp 994 triliun. kredit bermasalah (LAR) juga tercatat lebih rendah, yaitu 5,1% dibandingkan 6,0% pada tahun sebelumnya. NPL BCA pun stabil di angka 1,8%.

KB Bank Masih Terbatas Turunkan Suku Bunga

KB Bank mencatat SBDK di kisaran 9,17% hingga 9,72% per April 2026, turun dari level 9,5% hingga 10% pada periode yang sama tahun lalu. Presiden Direktur KB Bank Kunardy menjelaskan bahwa biaya dana yang tinggi, khususnya dari special rate deposito besar, menjadi kendala utama.

Meski begitu, likuiditas bank dinilai masih solid. KB Bank pun menerapkan prinsip selektivitas ketat dalam penyaluran kredit, fokus pada nasabah dengan profil risiko rendah dan prospek profitabilitas jelas. ke depannya adalah menurunkan suku bunga secara bertahap, terutama pada segmen korporasi dan ritel.

Allo Bank Fokus pada Portofolio Digital

Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo, menyampaikan bahwa bank telah melakukan penyesuaian suku bunga secara bertahap sejak tahun lalu. Namun, besaran penurunan masih terbatas karena dominasi deposito dalam struktur dana bank.

Portofolio kredit Allo Bank didominasi oleh produk digital seperti PayLater dan pinjaman konsumsi jangka pendek. Produk ini memiliki risiko dan risk-adjusted return yang lebih tinggi, sehingga suku bunga pun tidak serta-merta bisa diturunkan.

Destya menambahkan bahwa sensitivitas terhadap suku bunga berbeda-beda antarsegmen. Untuk produk dengan tenor panjang atau yang price-sensitive, penurunan suku bunga bisa mendorong permintaan. Namun, untuk pinjaman jangka pendek seperti PayLater, faktor utama yang menarik nasabah adalah kemudahan akses dan kecepatan persetujuan.

Tantangan ke Depan

Transmisi suku bunga yang lambat bukan hanya masalah teknis, tapi juga mencerminkan kondisi makro ekonomi yang belum sepenuhnya mendukung. BI pun terus mendorong penurunan special rate deposito agar bank memiliki ruang untuk menyesuaikan suku bunga kredit.

Namun, bank juga harus tetap menjaga likuiditas dan margin keuntungan agar tetap berkelanjutan. Artinya, penurunan suku bunga kredit tidak bisa dilakukan secara agresif dan harus disesuaikan dengan kondisi pasar serta risiko yang ada.

Data Perbandingan SBDK Beberapa Bank (April 2026)

Bank Rentang SBDK (%) Catatan
BCA 6,85 – 8,89 Turun dari 7,84 – 9,47 (Q1 2025)
KB Bank 9,17 – 9,72 Turun dari 9,5 – 10 (Q1 2025)
Allo Bank Disesuaikan bertahap Masih terbatas

Kesimpulan

Transmisi suku bunga kredit yang mandek menjadi tantangan tersendiri bagi pertumbuhan kredit di tahun ini. Meski BI sudah menurunkan BI Rate, dampaknya belum terasa luas di lapangan. Berbagai faktor seperti struktur dana bank, risiko kredit, dan biaya operasional masih menjadi penghalang.

Bank besar seperti BCA, KB Bank, dan Allo Bank pun mulai merespons dengan langkah-langkah strategis. Namun, penurunan suku bunga kredit masih dilakukan secara bertahap dan terbatas. Untuk mendorong pertumbuhan kredit yang lebih sehat, dibutuhkan sinergi antara kebijakan moneter BI dan strategi internal bank.

Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terkini hingga April 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan kondisi makroekonomi dan kebijakan moneter.

Fadhly Ramadan
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.