Permata Bank tengah mengkaji draft POJK baru yang sedang digodok oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Aturan ini salah satunya membahas soal Rencana Bisnis Bank (RBB) yang kini mulai menyertakan pos kredit program pemerintah. Sebuah langkah yang menunjukkan upaya sinkronisasi antara kebijakan makro dengan strategi operasional perbankan.
Langkah ini bukan sekadar formalitas. Bank harus bisa tetap menjaga keseimbangan antara arahan regulator dan risk appetite internal. Apalagi, RBB adalah dokumen komitmen resmi bank kepada OJK. Artinya, segala rencana usaha hingga penyaluran kredit harus diselaraskan dengan aturan main yang baru.
Draft POJK RBB Terbaru: Apa Saja Isinya?
Regulator ingin bank lebih aktif mendukung program prioritas nasional lewat saluran kredit. Salah satu caranya adalah dengan memasukkan kredit program pemerintah sebagai bagian dari rencana penyaluran dana dalam RBB. Ini juga sejalan dengan target pertumbuhan kredit nasional sebesar 10% hingga 12% di akhir tahun.
Namun, OJK tetap memberikan ruang fleksibilitas. Bank tetap bisa menyesuaikan strategi kreditnya berdasarkan profil risiko masing-masing. Artinya, tidak semua bank wajib mengikuti instruksi secara seragam. Ada pertimbangan appetite dan toleransi risiko tiap institusi.
1. Penyesuaian RBB dengan Program Prioritas Pemerintah
Bank diminta menyusun RBB yang mencerminkan alokasi dana untuk program pemerintah. Ini termasuk proyek infrastruktur, UMKM, maupun program produktif lainnya. Tujuannya agar likuiditas perbankan bisa langsung mendorong ekonomi riil.
2. Sinkronisasi Risk Appetite dan Regulasi
Meski ada dorongan untuk menyalurkan kredit program pemerintah, bank tetap harus menjaga prinsip manajemen risiko. Hal ini penting agar tidak terjadi overexposure pada sektor tertentu yang berpotensi bermasalah di kemudian hari.
3. Evaluasi Berkala terhadap Implementasi
Draft POJK ini juga mendorong bank untuk melakukan evaluasi berkala atas pelaksanaan RBB. Jika ada ketimpangan antara rencana dan realisasi, bank harus siap melakukan penyesuaian strategi secara cepat dan tepat.
Respons Permata Bank terhadap Draft POJK
Permata Bank melalui Direktur Keuangan dan Unit Usaha Syariah, Rudy Basyir Ahmad, menyatakan bahwa pihaknya tengah aktif berdialog dengan OJK. Tujuannya untuk memastikan bahwa setiap kebijakan baru bisa diimplementasikan tanpa mengganggu strategi bisnis jangka panjang bank.
Dialog ini bukan hanya soal kepatuhan, tapi juga soal harmonisasi. Bank ingin memastikan bahwa komitmen terhadap regulator tetap selaras dengan kapabilitas operasional dan profil risiko yang dimiliki.
1. Kajian Internal terhadap Draft
Sebelum merespons secara publik, Permata Bank melakukan kajian mendalam terhadap isi draft POJK. Termasuk dampaknya terhadap portofolio kredit saat ini dan rencana pengembangan ke depan.
2. Penyelarasan Strategi Bisnis
Setelah kajian selesai, bank akan menyelaraskan strategi bisnis dengan ketentuan baru. Ini mencakup penyesuaian target penyaluran kredit, pengelolaan risiko, serta pengaturan anggaran operasional.
3. Komunikasi Aktif dengan Regulator
Proses ini tidak berhenti di internal bank. Permata Bank terus menjalin komunikasi dengan OJK untuk memastikan bahwa interpretasi terhadap aturan baru sudah tepat dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Dampak Regulasi Baru terhadap Perbankan
Perubahan dalam POJK RBB ini punya potensi dampak yang cukup luas. Tidak hanya bagi bank besar seperti Permata, tapi juga untuk bank umum lainnya. Terutama dalam hal alokasi dana dan pengelolaan risiko.
Bank yang memiliki fokus kuat pada korporasi atau ritel perlu mengevaluasi ulang porsinya. Apakah masih relevan dengan tuntutan regulasi baru atau perlu dialokasikan ulang ke program pemerintah.
1. Penyaluran Kredit Lebih Terarah
Dengan adanya aturan ini, bank diharapkan bisa menyalurkan kredit secara lebih terarah. Terutama untuk mendukung program-program strategis nasional seperti infrastruktur, energi terbarukan, dan pengembangan UMKM.
2. Risiko Portofolio yang Perlu Dikelola
Memasukkan kredit program pemerintah ke dalam RBB juga membawa tantangan tersendiri. Bank harus memastikan bahwa portofolio kredit tetap sehat dan tidak terlalu bergantung pada satu sumber risiko.
3. Adaptasi terhadap Perubahan Kebijakan
Bank juga perlu meningkatkan kapasitas adaptasi terhadap perubahan kebijakan. Apalagi, dunia perbankan saat ini harus siap menghadapi dinamika eksternal yang terus bergerak cepat.
Tantangan dan Peluang Bagi Bank
Dari sisi peluang, regulasi ini bisa menjadi celah bagi bank untuk memperluas jaringan dan penetrasi pasar. Terutama jika bisa memanfaatkan program pemerintah untuk masuk ke segmen yang sebelumnya belum tersentuh.
Namun, tantangan juga tidak bisa diabaikan. Bank harus punya sistem kontrol yang kuat agar tidak terjebak pada risiko politik atau ekonomi yang tidak terduga.
1. Peluang Ekspansi ke Segmen Baru
Program pemerintah sering kali menargetkan daerah-daerah yang kurang terlayani. Ini bisa menjadi peluang bagi bank untuk memperluas jangkauan dan menarik nasabah baru.
2. Risiko Ketergantungan pada Sektor Publik
Di sisi lain, jika bank terlalu agresif menyalurkan kredit ke program pemerintah, bisa jadi akan terjadi ketergantungan. Padahal, sektor publik punya karakteristik risiko yang berbeda dari swasta.
3. Perlunya Teknologi dan Data Analitik
Untuk bisa mengelola portofolio dengan baik, bank butuh teknologi dan data analitik yang memadai. Ini guna memprediksi risiko dan peluang secara lebih akurat.
Kesimpulan
Draft POJK RBB terbaru membawa angin segar sekaligus tantangan bagi dunia perbankan. Permata Bank, seperti bank lainnya, harus bisa membaca situasi dan menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitas bisnisnya.
Harmonisasi antara kebijakan makro dan strategi mikro menjadi kunci utama. Dan tentu saja, dialog yang terus terjalin dengan regulator akan sangat menentukan sejauh mana adaptasi ini bisa berjalan mulus.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini didasarkan pada draft POJK yang tengah digodok dan masih bisa berubah sewaktu-waktu. Keputusan akhir akan ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













