Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings kembali menegaskan peringkat kredit PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Perusahaan tetap mempertahankan rating investasi BCA di level BBB dengan outlook negatif. Penegasan ini mencerminkan stabilitas kinerja bank terbesar ketiga di Indonesia itu, meskipun terdapat beberapa tantangan makroekonomi yang patut diwaspadai.
Penilaian ini dirilis oleh Fitch pada Selasa (21/4/2026), bersamaan dengan penegasan National Long-Term Rating BCA di level AAA(idn) dengan outlook stabil. Rating jangka panjang BCA didukung oleh Viability Rating (VR) sebesar bbb, yang menunjukkan daya tahan bisnis bank secara mandiri. Fitch mencatat bahwa BCA memiliki fondasi bisnis yang kokoh, terutama dari sisi franchise transaction banking dan basis dana murah yang luas.
Kekuatan Fundamental BCA yang Mendukung Rating
BCA terus menunjukkan performa solid di tengah dinamika sektor perbankan Indonesia. Keberhasilan bank ini tidak lepas dari strategi konservatif dalam pengelolaan risiko dan kemampuan menjaga likuiditas serta rentabilitas yang stabil.
1. Franchise Domestik yang Kuat
Sebagai bank swasta terbesar di Indonesia, BCA memiliki posisi dominan dengan pangsa aset mencapai sekitar 12% di akhir 2025. Ini menjadikannya bank ketiga terbesar secara keseluruhan. Keunggulan ini membantu BCA dalam mengakses dana murah dan memperluas basis pelanggan, baik ritel maupun korporat.
2. Pendanaan Murah dan Stabil
Proporsi Current Account Saving Account (CASA) milik BCA mencapai 84,6% dari total simpanan. Angka ini merupakan yang tertinggi di antara bank-bank yang dirating oleh Fitch. Dana murah ini menjadi tulang punggung pendanaan BCA, memungkinkan bank ini menjaga margin bunga bersih tetap kompetitif.
3. Risiko Kredit Terkendali
BCA menunjukkan kedisiplinan dalam proses underwriting. Rasio Non-Performing Loan (NPL) turun menjadi 1,7% di akhir 2025, dari 1,8% pada tahun sebelumnya. Total loan at risk juga menyusut menjadi 4,8%. Fitch mencatat bahwa angka ini adalah yang terendah di kalangan bank domestik berperingkat mereka.
4. Profitabilitas yang Konsisten
Operating profit terhadap risk-weighted assets mencapai 7,6% pada 2025, naik tipis dari 7,5% tahun sebelumnya. Meskipun diperkirakan sudah mendekati puncak, margin bunga BCA tetap terjaga berkat struktur aset yang menguntungkan dan biaya dana yang rendah.
5. Permodalan Kuat
Common Equity Tier 1 (CET1) BCA mencapai 29,2% di akhir 2025, naik dari 28,1% pada 2024. Angka ini termasuk salah satu yang tertinggi di kalangan bank besar Asia. Modal yang kuat ini menjadi benteng pertahanan BCA terhadap potensi risiko makroekonomi.
6. Likuiditas Luar Biasa
Liquidity Coverage Ratio (LCR) BCA mencapai 311%, jauh di atas batas minimum regulator. Net Stable Funding Ratio (NSFR) juga tinggi, yakni 159%. Likuiditas yang melimpah ini memastikan BCA mampu memenuhi kewajiban jangka pendek kapan pun dibutuhkan.
Faktor Makro yang Mempengaruhi Outlook Negatif
Meski kinerja internal BCA tergolong solid, outlook negatif tetap diberlakukan. Ini terkait erat dengan kondisi makroekonomi global dan domestik yang dinilai masih penuh ketidakpastian.
1. Outlook Negatif Indonesia
Fitch merevisi outlook sovereign Indonesia menjadi negatif pada Maret 2026. Alasannya adalah meningkatnya ketidakpastian kebijakan fiskal dan tekanan pada ketahanan eksternal. Ketegangan geopolitik, khususnya konflik Iran, juga menjadi faktor risiko yang bisa memicu lonjakan harga energi global.
2. Potensi Risiko Eksternal
Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah, termasuk tekanan dari kebijakan AS terhadap Irak, bisa berimbas pada stabilitas harga minyak dunia. Jika hal ini terjadi, tekanan inflasi di Indonesia pun bisa meningkat, memaksa Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan.
3. Keterbatasan Ruang Kebijakan Moneter
Di tengah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1% pada 2026 dan 5% pada 2027, ruang gerak kebijakan moneter dinilai semakin sempit. Apalagi jika inflasi terus terdorong oleh faktor eksternal, BI harus waspada dalam menyeimbangkan pertumbuhan dan stabilitas harga.
Dukungan Pemerintah dan Implikasi Rating
Fitch juga mempertahankan Government Support Rating (GSR) BCA di level bbb-, satu tingkat di bawah sovereign Indonesia. Ini menunjukkan keyakinan bahwa pemerintah memiliki kecenderungan tinggi untuk memberikan dukungan jika dibutuhkan, mengingat peran sistemik BCA dalam infrastruktur pembayaran nasional.
1. Potensi Revisi Rating ke Stabil
Fitch menyatakan bahwa jika outlook sovereign Indonesia kembali stabil, maka rating BCA juga berpotensi direvisi ke arah yang positif. Namun, sebaliknya, jika tekanan makroekonomi semakin meningkat, ada risiko penurunan rating.
2. Keterkaitan dengan Sektor Perbankan Nasional
Rating BCA tidak hanya mencerminkan kinerja individu bank, tapi juga kondisi industri perbankan secara umum. Fitch menilai bahwa lingkungan operasional perbankan Indonesia masih kondusif, meskipun tantangan global tetap menjadi ancaman.
Data Kinerja BCA Tahun 2025
Berikut ringkasan kinerja keuangan BCA di akhir 2025:
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Rasio NPL | 1,7% |
| Total Loan at Risk | 4,8% |
| Operating Profit/Risk-Weighted Assets | 7,6% |
| CET1 Ratio | 29,2% |
| CASA Ratio | 84,6% |
| LCR | 311% |
| NSFR | 159% |
Disclaimer: Data di atas bersumber dari laporan tahunan BCA dan penilaian Fitch Ratings per April 2026. Informasi dapat berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan kondisi makroekonomi dan kebijakan pemerintah.
Kesimpulan
Penegasan rating BBB oleh Fitch menunjukkan bahwa BCA tetap menjadi salah satu bank paling solid di Indonesia. Fundamental yang kuat, manajemen risiko yang cermat, dan likuiditas tinggi menjadi andalan utama bank ini. Namun, outlook negatif tetap menjadi pengingat bahwa tantangan eksternal, terutama dari sisi geopolitik dan kebijakan fiskal, belum sepenuhnya sirna. Untuk investor dan stakeholder, kinerja BCA tetap layak diikuti, terutama dalam konteks ketahanan sektor perbankan nasional di tengah gejolak global.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













