Saham emiten bank besar alias big banks menunjukkan pergerakan yang berbeda-beda di awal perdagangan Rabu (22/4/2026). Dinamika ini terjadi menjelang pengumuman keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan menentukan arah BI Rate hari ini.
Di sesi I perdagangan, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menguat 1,34% ke level Rp 3.780 per saham. Pagi tadi, saham ini sempat dibuka di posisi Rp 3.750. Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) berada di level Rp 4.750, naik 50 poin atau 0,85% dari harga pembukaan Rp 4.700.
Pergerakan Saham Big Banks Hari Ini
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat stagnan di kisaran Rp 6.500 per saham. Meski sempat dibuka di zona merah pada level Rp 6.475, saham BBCA tidak menunjukkan pergerakan signifikan sepanjang pagi.
Di sisi lain, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) justru melemah 10 poin atau 0,61% ke level Rp 3.250. Pada pembukaan, saham BBRI juga sudah terlihat lesu di level Rp 3.260.
1. BBNI Naik Tipis di Awal Perdagangan
Saham BNI (BBNI) menunjukkan penguatan kecil di tengah ketidakpastian pasar. Investor tampak masih menunggu keputusan BI terkait suku bunga acuan.
2. BMRI Ikut Menguat, Tapi Tak Signifikan
Bank Mandiri (BMRI) juga ikut naik, meski kenaikannya hanya sebesar 0,85%. Pergerakan ini menunjukkan bahwa investor belum terlalu optimis, meski ada dorongan positif.
3. BBCA Stagnan, Sentimen Netral
BCA (BBCA) tidak menunjukkan pergerakan kuat. Saham ini berada di zona netral, mencerminkan kehati-hatian investor menjelang pengumuman BI Rate.
4. BBRI Melemah di Awal Sesi
Bank BRI (BBRI) justru mengalami tekanan jual. Sahamnya turun 0,61%, menunjukkan bahwa investor mungkin mengantisipasi dampak negatif dari keputusan BI.
Prediksi BI Rate April 2026
Lembaga Penelitian Ekonomi dan Moneter Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%. Meski inflasi domestik mulai melandai, tekanan dari luar negeri masih menjadi pertimbangan utama.
1. Prioritas Stabilitas Eksternal
Jahen Fachrul Rezki, Wakil Direktur LPEM FEB UI, menyatakan bahwa BI Rate dipertahankan untuk menjaga stabilitas eksternal. Lonjakan harga energi akibat eskalasi konflik AS-Iran menjadi salah satu faktor pendorong keputusan ini.
2. Arus Modal Keluar Capai US$ 1,47 Miliar
Data menunjukkan bahwa arus modal keluar bersih dari pasar domestik mencapai US$ 1,47 miliar. Angka ini cukup signifikan dan memperkuat argumen bahwa BI perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan.
3. Rupiah Melemah 0,88% Secara Bulanan
Pelemahan rupiah sebesar 0,88% secara bulanan juga menjadi catatan penting. Ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang lokal masih terasa.
4. Cadangan Devisa Turun Jadi US$ 148,2 Miliar
Cadangan devisa nasional turun menjadi US$ 148,2 miliar. Penurunan ini menjadi salah satu indikator bahwa stabilitas makro ekonomi perlu terus dijaga.
Inflasi Domestik Mulai Melandai
Meski tekanan eksternal masih tinggi, inflasi dalam negeri menunjukkan tanda-tanda membaik. Inflasi tahunan Maret 2026 tercatat di level 3,48% (yoy), turun dari 4,76% (yoy) pada Februari.
1. Efek Basis Rendah Mulai Memudar
Penurunan inflasi ini seiring dengan memudarnya efek basis rendah dari diskon tarif listrik tahun lalu. Artinya, inflasi tahun ini tidak lagi dipengaruhi oleh perbandingan angka yang sangat rendah di periode sebelumnya.
2. Mendekati Batas Atas Target BI
Angka 3,48% (yoy) sudah mendekati batas atas target inflasi BI yang berkisar antara 3% ± 1%. Ini menunjukkan bahwa BI mulai memiliki ruang untuk tidak terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga.
Dampak BI Rate Terhadap Saham Big Banks
Keputusan BI Rate memiliki dampak langsung terhadap kinerja bank-bank besar. Investor selalu menantikan pengumuman ini karena bisa memicu pergerakan besar di pasar saham.
1. Suku Bunga Acuan Tinggi, Biaya Pinjaman Naik
Jika BI Rate naik, biaya pinjaman bagi bank juga akan naik. Ini bisa menekan margin bunga dan mengurangi laba bank.
2. Saham Bank Rentan pada Volatilitas Suku Bunga
Saham bank sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga. Investor cenderung menjual saham bank ketika ekspektasi suku bunga naik.
3. Stabilitas BI Rate Bisa Dorong Sentimen Positif
Sebaliknya, jika BI Rate dipertahankan, investor bisa kembali optimis. Saham bank pun berpotensi menguat karena tekanan biaya berkurang.
Perbandingan Pergerakan Saham Big Banks (Periode Awal Perdagangan)
| Emiten | Harga Awal (Rp) | Harga Saat Ini (Rp) | Perubahan (%) |
|---|---|---|---|
| BBNI | 3.750 | 3.780 | +1,34% |
| BMRI | 4.700 | 4.750 | +0,85% |
| BBCA | 6.475 | 6.500 | 0% |
| BBRI | 3.260 | 3.250 | -0,61% |
Catatan: Data diambil pada pukul 10.50 WIB, 22 April 2026. Pergerakan dapat berubah sewaktu-waktu.
Kesimpulan
Pergerakan saham big banks hari ini mencerminkan ekspektasi pasar terhadap keputusan BI Rate. Meski sebagian saham menguat, ada juga yang melemah. Investor tampak menahan diri dan menunggu hasil RDG BI yang akan dirilis hari ini.
Dengan prediksi BI Rate tetap di level 4,75%, tekanan terhadap rupiah dan cadangan devisa menjadi pertimbangan utama. Namun, penurunan inflasi domestik memberikan sedikit ruang bagi BI untuk tidak terlalu agresif.
Bagi investor, keputusan BI Rate hari ini akan menjadi pemicu sentimen jangka pendek terhadap saham-saham bank besar. Penting untuk terus memantau perkembangan pasar dan data makro ekonomi terkini.
Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar dan kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













