Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di sektor konstruksi masih berada di level yang tergolong tinggi. Meski begitu, trennya menunjukkan perbaikan yang perlahan namun konsisten. Angka NPL konstruksi perumahan tercatat sebesar 7,77% pada Januari 2026, naik tipis dari 7,55% di Desember 2025. Namun, jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, angka ini justru lebih rendah dari 8,31%.
Penyaluran kredit konstruksi hingga Januari 2026 mencapai Rp 35,60 triliun, turun tipis 0,72% secara tahunan dari Rp 35,85 triliun. Meski terjadi penurunan, sejumlah bank pelat merah masih menunjukkan pertumbuhan positif di segmen ini, terutama didorong oleh program pemerintah seperti Proyek Strategis Nasional (PSN), pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), dan program FLPP.
Penyebab Tingginya NPL Konstruksi
1. Kredit Warisan Pandemi
Sebagian besar NPL saat ini berasal dari portofolio lama, khususnya kredit yang disalurkan sebelum pandemi 2020. Saat itu, banyak proyek terdampak kenaikan harga material dan penundaan pelaksanaan akibat pembatasan aktivitas. Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menyebut bahwa ini merupakan bagian dari "legacy loans" yang sedang dibersihkan, bukan tanda kegagalan model bisnis sektor konstruksi.
2. Fluktuasi Harga Material
Harga material bangunan yang tidak stabil juga menjadi penyebab utama kredit bermasalah. Lonjakan harga pasca-pandemi membuat sejumlah pengembang kesulitan memenuhi anggaran proyek, hingga akhirnya terpaksa menunda atau bahkan menghentikan proyek.
3. Ketidakpastian Makroekonomi
Ketidakpastian geopolitik global dan fluktuasi nilai tukar rupiah turut memperbesar risiko kredit konstruksi. Kondisi ini membuat bank harus lebih hati-hati dalam menyalurkan dana, terutama untuk proyek-proyek besar yang rentan terhadap risiko eksternal.
Strategi Bank dalam Menghadapi NPL Konstruksi
1. Selektivitas dalam Penyaluran Kredit
Bank-bank besar seperti BTN dan BCA kini menerapkan pendekatan yang lebih selektif dalam menyalurkan kredit konstruksi. BTN misalnya, mencatat penyaluran kredit sebesar Rp 14,70 triliun pada kuartal I-2026, turun 9,3% secara tahunan. Penurunan ini dipengaruhi oleh percepatan pelunasan kredit dan pendekatan yang lebih ketat dalam underwriting.
2. Penyelesaian NPL Melalui Skema Khusus
BTN tengah menyelesaikan portofolio NPL melalui berbagai skema seperti investor replacement, bulk asset sales, dan pemanfaatan DIRE/REITs. Strategi ini diharapkan bisa mempercepat pembersihan aset bermasalah sekaligus membuka ruang bagi kredit baru yang lebih berkualitas.
3. Fokus pada Subsektor Prospektif
Bank seperti BCA dan Mandiri lebih memilih fokus pada subsektor konstruksi yang memiliki prospek baik, seperti proyek infrastruktur dan perumahan bersubsidi. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan risiko dan menjaga kualitas portofolio kredit.
Perbandingan Kinerja Bank dalam Penyaluran Kredit Konstruksi
| Bank | Total Kredit Konstruksi | Pertumbuhan YoY | Rasio NPL |
|---|---|---|---|
| BTN | Rp 14,70 triliun | -9,3% | 17,4% |
| Bank Mandiri | Rp 142 triliun | – | 0,11% |
| BCA | Rp 43,7 triliun | +11,9% | – |
Catatan: Data berdasarkan periode kuartal I-2026 atau akhir 2025. Disclaimer: Angka dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi makro dan kebijakan internal bank.
Proyeksi NPL Konstruksi ke Depan
Myrdal Gunarto memproyeksikan bahwa NPL konstruksi akan terus mengalami perbaikan hingga akhir 2026. Meski demikian, angka ini diprediksi masih akan berada di atas rata-rata industri secara keseluruhan. Perbaikan ini didukung oleh restrukturisasi kredit, penjualan aset bermasalah, serta masuknya kredit baru dengan kualitas lebih baik.
Namun, risiko tetap mengintai. Fluktuasi nilai tukar, kenaikan harga material, dan ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan yang harus diwaspadai. Bank disarankan untuk terus menjaga prinsip prudent growth dan memperkuat sistem manajemen risiko.
Rekomendasi untuk Perbankan
1. Terapkan Teknologi Data Analytics
Pemanfaatan teknologi seperti data analytics dapat membantu bank memantau arus kas proyek secara real time. Ini penting untuk mendeteksi potensi risiko sejak dini dan mengambil langkah antisipatif.
2. Kolaborasi dalam Pembiayaan
Kolaborasi antarbank dalam pembiayaan proyek besar bisa menjadi solusi untuk membagi risiko. Ini juga memungkinkan bank dengan kapasitas lebih kecil untuk ikut serta dalam proyek-proyek strategis nasional.
3. Perkuat Due Diligence
Proses underwriting yang ketat dan penilaian risiko yang menyeluruh menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas kredit. Bank harus lebih selektif dalam memilih mitra dan proyek yang akan didanai.
Kesimpulan
Meski NPL konstruksi masih tinggi, kondisi ini lebih merupakan fase transisi dari pembersihan portofolio lama daripada indikasi kegagalan sektor secara keseluruhan. Dengan strategi yang tepat, selektivitas dalam penyaluran, serta pengelolaan risiko yang ketat, kualitas kredit di sektor konstruksi diproyeksikan akan terus membaik ke depan. Bank yang mampu menyeimbangkan antara pertumbuhan dan risiko akan menjadi pemenang di tengah dinamika sektor ini.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













