Finansial

Aliran Dana Bank ke Surat Berharga Negara Meningkat Meski Permintaan Kredit di Tahun 2026 Masih Kurang Menjanjikan

Danang Ismail
×

Aliran Dana Bank ke Surat Berharga Negara Meningkat Meski Permintaan Kredit di Tahun 2026 Masih Kurang Menjanjikan

Sebarkan artikel ini
Aliran Dana Bank ke Surat Berharga Negara Meningkat Meski Permintaan Kredit di Tahun 2026 Masih Kurang Menjanjikan

Dana perbankan yang mengalir ke Surat Berharga Negara (SBN) terus mencatatkan peningkatan di awal tahun 2026. Fenomena ini terjadi meskipun dari sektor riil, khususnya UMKM, belum menunjukkan pemulihan yang signifikan. Artinya, likuiditas yang besar di sektor perbankan justru lebih banyak diparkir di instrumen aman seperti SBN ketimbang disalurkan sebagai kredit produktif.

Data dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian mencatat bahwa kepemilikan bank terhadap SBN per 16 April 2026 mencapai Rp 1.320,56 triliun. Angka ini naik 10,38% secara tahunan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan kredit per Februari 2026 menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru mencapai 9,37% YoY, lebih rendah dibanding Desember 2025 yang sebesar 9,63%.

Mengapa Dana Bank Lebih Memilih SBN?

Salah satu alasan utama dana mengalir ke SBN adalah masih tingginya dana menganggur atau undisbursed loan yang mencapai sekitar Rp 2.500 triliun. Artinya, meskipun bank memiliki likuiditas besar, permintaan kredit dari pelanggan belum cukup kuat untuk menyerap dana tersebut.

Selain itu, (yield) dari SBN masih menarik, terutama untuk tenor 10 tahun yang berada di kisaran 6,8% hingga 7,5%. Dibandingkan risiko kredit, terutama di segmen UMKM yang masih tinggi, SBN menjadi pilihan yang lebih aman dan menguntungkan.

1. Likuiditas Berlebih di Tengah Permintaan Kredit yang Loyo

Likuiditas yang melimpah di sektor perbankan tidak serta merta berbanding lurus dengan penyaluran kredit. Meski dana tersedia dalam jumlah besar, permintaan kredit dari dan masyarakat belum menunjukkan pertumbuhan yang sepadan. Ini membuat bank akhirnya memilih menempatkan dana di SBN sebagai alternatif yang lebih aman.

2. Yield SBN yang Kompetitif Menjadi Daya Tarik Utama

SBN menawarkan return yang menarik, terutama di tengah ketidakpastian . Yield yang stabil dan membuat instrumen ini menjadi pilihan utama bank dalam mengelola portofolio likuiditasnya. Terlebih lagi, SBN juga didukung oleh pemerintah, sehingga risiko default sangat kecil.

3. Penempatan SBN sebagai Strategi Pengelolaan Risiko

Banyak bank menggunakan SBN sebagai instrumen defensif. Saat belum stabil atau permintaan kredit belum pulih, bank memilih menempatkan dana di SBN untuk menjaga stabilitas portofolio dan tetap memperoleh return yang kompetitif.

Perbandingan Portofolio SBN dan Kredit Beberapa Bank Besar

Berikut adalah data penempatan dana di SBN dan pertumbuhan kredit dari beberapa bank besar per Februari 2026:

Bank Penempatan SBN (Rp triliun) Pertumbuhan SBN YoY Penyaluran Kredit (Rp triliun) Pertumbuhan Kredit YoY
BCA 444,84 17,25% 953,22 5,84%
BNI 192,93 25,21% 882 18,90%
Mandiri 295,58 16,62% 1.513 15,71%
KB Bank 19,29 0,22% 41,75 -3,13%
78,04 -1,96% 168 6,67%

Disclaimer: Data di atas bersifat snapshot per Februari 2026 dan dapat berubah seiring perkembangan kondisi pasar dan kebijakan moneter.

4. Strategi BCA dalam Menyeimbangkan Likuiditas dan Ekspansi Kredit

BCA mencatat penempatan dana di surat berharga sebesar Rp 444,84 triliun, naik 17,25% YoY. Meski begitu, penyaluran kreditnya hanya tumbuh 5,84% YoY. EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menjelaskan bahwa penempatan ini merupakan bagian dari strategi pengelolaan likuiditas yang prudent.

5. KB Bank: SBN sebagai Instrumen Stabilitas Portofolio

KB Bank mencatat peningkatan pada penempatan SBN sebesar 0,22% YoY menjadi Rp 19,29 triliun. Meski penyaluran kreditnya turun 3,13% YoY, Direktur Utama Kunardy Darma Lie menegaskan bahwa ini adalah bagian dari strategi menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas pasar global.

6. CIMB Niaga: Stabil di SBN, Kredit Tumbuh Moderat

CIMB Niaga mencatat penempatan dana di surat berharga sebesar Rp 78,04 triliun, turun tipis 1,96% YoY. Sementara itu, penyaluran kreditnya tumbuh 6,67% menjadi Rp 168 triliun. Presiden Direktur Lani Darmawan menyebut bahwa kondisi likuiditas yang ample membuat bank tetap stabil dalam mengelola portofolio.

7. BNI dan Mandiri: Pertumbuhan Kredit Lebih Tinggi, SBN Tetap Naik

BNI mencatat peningkatan penempatan SBN sebesar 25,21% YoY menjadi Rp 192,93 triliun, sementara penyaluran kreditnya tumbuh 18,90% YoY. Bank Mandiri juga mencatat peningkatan SBN sebesar 16,62% YoY menjadi Rp 295,58 triliun, dengan pertumbuhan kredit 15,71% YoY.

8. Peran SBN dalam Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan

SBN tidak hanya menjadi instrumen investasi yang menarik, tetapi juga berperan penting dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Di tengah ketidakpastian global, SBN memberikan alternatif investasi yang aman dan likuid bagi bank.

9. Tantangan di Depan: Mendorong Permintaan Kredit

Meskipun penempatan dana di SBN memberikan keuntungan jangka pendek, tantangan ke depan adalah bagaimana mendorong permintaan kredit agar likuiditas bisa lebih optimal mendukung pertumbuhan ekonomi. Koordinasi antara bank dan pemerintah menjadi kunci agar dana yang menganggur bisa disalurkan ke sektor riil.

10. Harapan ke Depan: Ekspansi Kredit yang Sehat

Bank diharapkan bisa lebih selektif dalam menyalurkan kredit, sekaligus mencari peluang ekspansi di sektor-sektor yang memiliki risiko terukur. Ini akan membantu menyeimbangkan antara kebutuhan likuiditas dan pertumbuhan kredit yang berkelanjutan.

Tren penempatan dana di SBN diperkirakan masih akan berlangsung selama permintaan kredit belum pulih secara signifikan. Namun, dengan strategi yang tepat dan dukungan kebijakan yang mendukung, likuiditas besar ini bisa menjadi modal awal untuk mendorong pemulihan ekonomi yang lebih kuat di masa depan.

Danang Ismail
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.