Kasus penipuan internal yang menimpa PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) kembali mengingatkan pentingnya penerapan Know Your Employee (KYE) secara konsisten dan menyeluruh. Tidak hanya BNI, sejumlah bank besar lainnya juga pernah terjerat kasus serupa yang melibatkan karyawan dengan akses strategis. Munculnya fraud semacam ini menjadi sinyal bahwa pengawasan internal masih memiliki celah, terutama dalam hal pemantauan perilaku karyawan setelah direkrut.
Peristiwa yang menimpa Paroki Aek Nabara, Labuhanbatu, Sumatera Utara, menjadi contoh nyata bagaimana oknum karyawan bank bisa menyalahgunakan posisinya. Mantan Kepala Kas BNI Aek Nabara, Andi Hakim, diduga melakukan penggelapan dana hingga Rp 28 miliar. Penipuan ini berlangsung sejak 2019 dan baru terungkap pada Februari 2026 setelah adanya pemeriksaan internal. Yang menarik, transaksi yang dilakukan korban tidak terekam dalam sistem operasional bank. Artinya, akses dan tindakan Andi Hakim berjalan di luar kontrol resmi BNI.
Pentingnya Penguatan KYE Pasca-Fraud Internal
Kasus ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Maybank Indonesia dan Bank Woori Saudara (BWS) juga terlibat dalam kasus fraud besar yang masing-masing merugikan nasabah hingga puluhan miliar rupiah. Pola yang muncul pun cenderung sama: melibatkan pejabat dengan akses tinggi, berlangsung dalam waktu lama, dan dibungkus dengan penawaran investasi yang terlalu menggiurkan.
1. Penyebab Utama Fraud Internal di Perbankan
Fraud internal tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang membuatnya bisa terjadi, meskipun sistem pengawasan sudah ada.
- Akses berlebih tanpa pengawasan ketat: Karyawan di posisi strategis seringkali punya otoritas tinggi, tapi tidak semua bank menerapkan kontrol yang memadai.
- Penawaran produk palsu: Modus operandi umum adalah menawarkan produk investasi ilegal dengan iming-iming keuntungan tinggi.
- Kurangnya rotasi jabatan: Karyawan yang terlalu lama di posisi yang sama rentan melakukan manipulasi sistem.
- Tekanan finansial pribadi: Faktor ini seringkali menjadi pemicu tindakan kriminal internal.
2. Kekurangan KYE yang Perlu Diperbaiki
Know Your Employee (KYE) biasanya diterapkan saat proses rekrutmen. Tapi setelah karyawan masuk, pengawasan seringkali mulai longgar. Padahal, KYE seharusnya tidak hanya sekali waktu, melainkan berkelanjutan.
- Pemantauan perilaku pegawai: Bank perlu mengamati pola transaksi, interaksi dengan nasabah, dan tekanan finansial pribadi.
- Rotasi jabatan berkala: Mencegah karyawan terlalu nyaman di posisi yang sama.
- Whistleblowing system yang efektif: Sistem pelaporan dugaan pelanggaran harus mudah diakses dan aman dari intervensi.
Peran Regulasi dalam Pencegahan Fraud
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengeluarkan aturan ketat dalam POJK No.39/2019 tentang manajemen risiko anti fraud. Regulasi ini mewajibkan bank untuk menerapkan empat pilar utama: pencegahan, deteksi, investigasi, dan evaluasi.
Namun, tantangan utamanya adalah konsistensi pelaksanaan di lapangan. Banyak bank mungkin sudah memiliki kebijakan, tapi eksekusinya masih terlalu formalitas. Inilah yang membuat celah tetap terbuka bagi oknum nakal.
3. Langkah yang Harus Diambil Bank
Bank tidak boleh hanya bereaksi setelah kasus terjadi. Ada beberapa langkah strategis yang bisa diterapkan untuk memperkuat sistem internal.
- Audit internal berkala: Tidak hanya tahunan, tapi dilakukan secara berkala dan mendadak.
- Edukasi nasabah: Memberikan informasi resmi soal produk dan tata cara transaksi yang benar.
- Penguatan sistem IT: Teknologi bisa digunakan untuk mendeteksi pola transaksi mencurigakan secara real time.
- Penegakan sanksi tegas: Karyawan yang terbukti bersalah harus dihukum sesuai aturan, tanpa pandang posisi.
Perlindungan Dana Nasabah: Lebih dari Sekadar Asuransi
Dana nasabah sebenarnya sudah dilindungi oleh berbagai lapis sistem, mulai dari kontrol internal, asuransi hingga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Namun, semua itu akan sia-sia jika tidak dijalankan dengan serius.
Sistem yang baik tidak hanya terlihat di atas kertas. Ia harus bisa bekerja di lapangan. Artinya, setiap lapisan kontrol harus aktif dan saling terhubung. Jika salah satu bermasalah, maka risiko fraud bisa meningkat.
4. Peran Teknologi dalam Deteksi Fraud
Di era digital, teknologi bisa menjadi senjata ampuh untuk mendeteksi fraud sejak dini. Misalnya:
- Analisis big data: Untuk melihat pola transaksi yang tidak lazim.
- Sistem AI berbasis perilaku: Mendeteksi perubahan pola kerja karyawan yang mencurigakan.
- Pelacakan digital: Setiap transaksi bisa dilacak secara real time, termasuk jika dilakukan di luar prosedur.
Menjaga Kepercayaan Nasabah
Di industri perbankan, kepercayaan adalah aset paling berharga. Sekali kehilangan, bisa berdampak jangka panjang. Maka dari itu, bank harus proaktif, bukan reaktif. Jangan menunggu kasus terjadi baru memperbaiki sistem.
Kasus BNI, Maybank, dan BWS adalah pelajaran berharga. Mereka menunjukkan bahwa fraud tidak hanya soal uang, tapi juga soal reputasi dan kepercayaan publik. Bank yang tidak belajar dari pengalaman ini, berisiko menghadapi nasib yang sama di masa depan.
5. Tips untuk Nasabah agar Terhindar dari Penipuan
Meski bank punya tanggung jawab besar, nasabah juga perlu waspada. Berikut beberapa tips penting:
- Verifikasi produk investasi: Pastikan produk yang ditawarkan benar-benar dari bank resmi.
- Hindari penawaran terlalu menggiurkan: Jika terlalu bagus untuk jadi kenyataan, mungkin memang bukan.
- Gunakan saluran resmi: Lakukan transaksi hanya melalui cabang atau platform digital resmi bank.
- Laporkan jika mencurigakan: Gunakan saluran pengaduan bank atau OJK jika menemukan indikasi penipuan.
Penutup
Fraud internal bukan masalah baru, tapi ia terus mengingatkan pentingnya penguatan sistem dari dalam. KYE bukan sekadar proses rekrutmen, tapi harus menjadi bagian dari budaya organisasi yang berkelanjutan. Bank yang ingin bertahan harus terus berinovasi dalam pengawasan, edukasi, dan pemanfaatan teknologi.
Kasus BNI dan bank lainnya adalah alarm yang perlu didengar oleh seluruh pelaku industri. Jika tidak, kepercayaan publik yang selama ini dibangun dengan susah payah bisa hancur dalam sekejap.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu. Data dan angka yang disebutkan adalah berdasarkan informasi publik terkini dan belum tentu merepresentasikan keadaan terkini secara keseluruhan.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













