PT Asuransi Digital Bersama Tbk (YOII) menyatakan bahwa tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum memberikan dampak langsung pada bisnis utamanya. Meskipun rupiah sempat melemah cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir, perusahaan masih merasa aman karena sebagian besar transaksi dan pendapatan mereka dilakukan dalam mata uang lokal.
Direktur Utama YOII, Adi Wibowo Adisaputro, menjelaskan bahwa portofolio bisnis perusahaan memang didominasi oleh transaksi dalam rupiah. Sehingga, meskipun ada volatilitas valuta asing, dampaknya terhadap premi asuransi dan biaya operasional belum terasa secara langsung.
Namun, ia tidak menutup kemungkinan bahwa pelemahan rupiah bisa berdampak tidak langsung. Salah satunya lewat penurunan daya beli masyarakat yang akhirnya memengaruhi pola pengeluaran, termasuk alokasi anggaran untuk produk asuransi.
Dampak Rupiah Melemah pada Bisnis Asuransi
Rupiah yang melemah biasanya menciptakan tekanan pada sektor-sektor yang bergantung pada impor atau transaksi internasional. Namun, dalam kasus Asuransi Digital Bersama, struktur bisnis yang mayoritas lokal membuatnya relatif kebal terhadap goncangan tersebut.
Perusahaan ini fokus pada produk asuransi gaya hidup yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen digital. Model bisnisnya pun lebih mengandalkan distribusi daring dan kolaborasi dengan mitra teknologi lokal.
1. Pendapatan Premi Tetap Menggunakan Rupiah
Salah satu alasan utama mengapa dampak pelemahan rupiah belum terasa adalah karena seluruh premi asuransi yang dikumpulkan YOII menggunakan mata uang rupiah. Artinya, tidak ada konversi mata uang yang perlu dilakukan dalam proses pembayaran premi.
2. Pengeluaran Valas Tidak Signifikan
Belanja modal (capital expenditure) yang menggunakan mata uang asing juga dinilai tidak signifikan. Ini menunjukkan bahwa risiko kurs terhadap profitabilitas perusahaan masih sangat rendah.
3. Daya Beli Masyarakat Jadi Faktor Utama
Meski tidak langsung, pelemahan rupiah tetap bisa berimbas pada perilaku konsumen. Saat daya beli turun, pengeluaran untuk hal-hal yang dianggap non-prioritas seperti asuransi bisa ikut terkoreksi.
Performa Keuangan YOII di Tahun 2025
Performa keuangan Asuransi Digital Bersama di tahun 2025 terbilang positif. Pendapatan jasa asuransi mencatatkan pertumbuhan 122,91% year-on-year, mencapai total Rp 730,70 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap produk asuransi digital terus meningkat.
YOII juga mencatat lonjakan pendapatan dari jasa asuransi sebesar 289,87% year-on-year, mencapai Rp 458,72 miliar. Laba bersih perusahaan juga naik 18,96% menjadi Rp 20,14 miliar.
Tabel Performa Keuangan YOII Tahun 2025
| Indikator | Nilai | Pertumbuhan YoY |
|---|---|---|
| Pendapatan Jasa Asuransi | Rp 730,70 miliar | +122,91% |
| Pendapatan Premi | Rp 458,72 miliar | +289,87% |
| Laba Bersih | Rp 20,14 miliar | +18,96% |
Hasil ini menunjukkan bahwa bisnis inti YOII masih solid meski ada tekanan makro ekonomi seperti pelemahan rupiah.
Strategi YOII Menghadapi Tekanan Ekonomi
Meskipun dampak pelemahan rupiah belum terasa secara langsung, YOII tetap harus waspada terhadap potensi risiko di masa depan. Strategi yang diambil perusahaan antara lain:
1. Fokus pada Produk Lokal
YOII terus mengembangkan produk asuransi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Dengan basis pelanggan lokal yang kuat, perusahaan bisa menghindari eksposur terhadap fluktuasi valuta asing.
2. Pemanfaatan Teknologi Informasi
Adopsi teknologi informasi dalam distribusi dan layanan nasabah membuat YOII lebih efisien. Ini membantu perusahaan menjaga margin meski ada tekanan eksternal.
3. Pengawasan Terhadap Daya Beli Konsumen
Perusahaan terus memantau tren konsumsi masyarakat. Jika daya beli benar-benar tergerus, YOII akan menyesuaikan strategi pemasaran dan penawaran produk agar tetap terjangkau.
Potensi Risiko di Masa Depan
Meskipun dampak langsung belum terlihat, potensi risiko tetap mengintai jika rupiah terus melemah. Beberapa skenario yang bisa terjadi antara lain:
1. Kenaikan Biaya Klaim
Beberapa klaim asuransi mungkin terkait dengan biaya yang berasal dari luar negeri, seperti pengobatan di rumah sakit internasional. Jika rupiah terus melemah, maka biaya ini bisa meningkat.
2. Penurunan Minat Beli Asuransi
Jika daya beli masyarakat terus tertekan, produk asuransi bisa menjadi salah satu yang pertama dikurangi dalam pengeluaran bulanan.
3. Kenaikan Biaya Operasional
Jika ada komponen operasional yang bergantung pada impor atau layanan internasional, maka perusahaan bisa merasakan tekanan biaya.
Proyeksi Regulator dan Industri
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan pertumbuhan premi asuransi secara keseluruhan di tahun 2026 akan berada di kisaran moderat, antara 3% hingga 6%. Ini menunjukkan bahwa industri masih memiliki ruang untuk berkembang meski ada tantangan makro ekonomi.
YOII, sebagai pemain lokal yang adaptif, punya peluang untuk terus tumbuh dengan strategi yang tepat. Apalagi jika mampu memanfaatkan momen-momen seperti musim haji yang menjadi sentimen positif bagi asuransi perjalanan.
Kesimpulan
Pelemahan rupiah belum berdampak langsung pada premi Asuransi Digital Bersama. Bisnis perusahaan yang mayoritas menggunakan rupiah dan berorientasi pada pasar lokal membuatnya relatif aman dari goncangan valuta asing. Namun, potensi risiko tidak langsung seperti turunnya daya beli masyarakat tetap perlu diwaspadai.
YOII tampaknya sudah siap menghadapi situasi ini dengan strategi yang fleksibel dan adaptif. Kunci keberhasilannya terletak pada kemampuan menjaga relevansi produk dan tetap dekat dengan kebutuhan konsumen digital.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi makro ekonomi serta kebijakan regulator.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













