Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kembali mengingatkan soal batas waktu penerapan kebijakan relaksasi penggunaan dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP). Kebijakan yang memberi ruang bagi penggunaan BOSP untuk membayar honor guru dan tenaga kependidikan (tendik) berstatus ASN PPPK paruh waktu ini hanya berlaku hingga akhir tahun 2026. Artinya, ini bukan kebijakan permanen, melainkan solusi sementara yang ditujukan untuk membantu pemda dalam menghadapi kebutuhan pendidikan di tengah keterbatasan anggaran.
Dirjen PAUD Dikdas PNFI Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menegaskan bahwa relaksasi ini bersifat terbatas dan bersyarat. Pemerintah daerah yang ingin memanfaatkannya harus mengajukan usulan dengan melengkapi sejumlah pernyataan terkait kebutuhan dan kondisi keuangan daerah. Dengan begitu, pemanfaatan dana BOSP untuk honor guru PPPK paruh waktu tidak serta merta bisa dilakukan begitu saja, tapi harus melalui proses dan syarat yang jelas.
Kebijakan Relaksasi BOSP: Solusi Sementara yang Harus Dikelola dengan Bijak
Relaksasi penggunaan BOSP untuk honor guru PPPK paruh waktu merupakan langkah antisipatif dari Kemendikdasmen. Tujuannya adalah memberi ruang fleksibilitas bagi pemda yang menghadapi kekurangan anggaran untuk memenuhi kebutuhan guru dan tendik di satuan pendidikan. Namun, kebijakan ini bukan untuk jangka panjang. Ini adalah solusi darurat yang hanya berlaku di tahun anggaran 2026.
Pemerintah daerah yang ingin memanfaatkan kebijakan ini tidak bisa langsung melakukannya begitu saja. Ada beberapa syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah menyampaikan pernyataan resmi terkait kebutuhan guru dan tendik ASN PPPK paruh waktu di wilayahnya. Selain itu, pemda juga harus menjelaskan kondisi fiskal daerah serta rencana penganggaran melalui APBD.
1. Syarat Pengajuan Relaksasi BOSP
Pemda yang ingin mengajukan relaksasi BOSP harus memenuhi sejumlah syarat agar pengajuan bisa disetujui. Berikut adalah syarat-syarat utama yang perlu dipenuhi:
- Menyampaikan pernyataan kebutuhan guru dan tendik ASN PPPK paruh waktu di setiap satuan pendidikan.
- Menjelaskan kondisi keuangan daerah (kondisi fiskal).
- Menyusun rencana penganggaran honor melalui APBD.
- Menjamin bahwa penggunaan dana BOSP tidak mengganggu operasional pendidikan lainnya.
2. Batas Waktu Penerapan Relaksasi
Relaksasi ini hanya berlaku untuk tahun anggaran 2026. Artinya, pemda harus memanfaatkan kesempatan ini secara maksimal selama periode tersebut. Setelah 2026, kebijakan ini tidak akan diperpanjang secara otomatis. Pemerintah daerah perlu mulai memikirkan alternatif pendanaan lain untuk memenuhi kebutuhan honor guru dan tendik jika ingin melanjutkan pembayaran secara berkelanjutan.
3. Penetapan Kebijakan yang Bersifat Terbatas
Kebijakan ini tidak ditujukan untuk semua pemda. Hanya daerah-daerah tertentu yang memenuhi kriteria dan mengajukan secara resmi yang bisa memanfaatkannya. Ini menunjukkan bahwa Kemendikdasmen ingin memastikan bahwa dana BOSP tetap digunakan secara tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.
Pentingnya Peran Aktif Pemerintah Daerah
Mengingat sifat kebijakan yang terbatas dan bersyarat, peran aktif pemerintah daerah menjadi sangat penting. Pemda tidak hanya dituntut untuk cepat merespons, tetapi juga harus mampu menyusun rencana keuangan yang baik agar bisa memanfaatkan relaksasi ini secara maksimal.
Banyak daerah masih mengandalkan BOSP sebagai salah satu sumber pendanaan honor guru honorer dan PPPK paruh waktu. Namun, dengan adanya batas waktu ini, pemda perlu mulai memikirkan strategi jangka panjang untuk mengatasi kebutuhan pendidikan, terutama dalam hal penganggaran tenaga pendidik.
4. Evaluasi Kebutuhan Guru dan Tendik
Langkah awal yang bisa diambil oleh pemda adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebutuhan guru dan tendik di setiap satuan pendidikan. Data ini penting untuk disampaikan sebagai bagian dari syarat pengajuan relaksasi BOSP. Selain itu, data ini juga bisa menjadi dasar perencanaan anggaran jangka panjang.
5. Penyusunan Rencana Penganggaran Jangka Panjang
Meskipun relaksasi ini hanya berlaku di tahun 2026, pemda tetap perlu menyusun rencana penganggaran jangka panjang. Ini penting untuk memastikan bahwa kebutuhan honor guru dan tendik bisa terpenuhi secara berkelanjutan setelah kebijakan relaksasi berakhir.
6. Koordinasi dengan Kemendikdasmen
Pemda juga perlu menjalin komunikasi yang baik dengan Kemendikdasmen. Koordinasi ini penting untuk memastikan bahwa pengajuan relaksasi bisa berjalan lancar dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Tantangan yang Dihadapi Pemerintah Daerah
Meskipun relaksasi BOSP memberi ruang fleksibilitas, banyak pemda masih menghadapi tantangan dalam penerapannya. Salah satunya adalah keterbatasan kapasitas dalam menyusun laporan dan perencanaan keuangan yang memadai. Banyak daerah juga masih bingung terkait teknis pengajuan dan syarat yang harus dipenuhi.
Selain itu, kondisi fiskal daerah yang tidak stabil juga menjadi tantangan tersendiri. Pemda yang mengalami defisit anggaran mungkin kesulitan memenuhi syarat terkait rencana penganggaran honor melalui APBD. Padahal, hal ini menjadi salah satu syarat utama dalam pengajuan relaksasi.
Tabel Perbandingan Kebijakan Sebelum dan Sesudah Relaksasi BOSP
| Aspek | Sebelum Relaksasi | Sesudah Relaksasi |
|---|---|---|
| Penggunaan BOSP | Hanya untuk operasional pendidikan | Bisa untuk honor guru PPPK paruh waktu |
| Syarat Penggunaan | Tidak ada syarat khusus | Harus mengajukan pernyataan kebutuhan dan rencana anggaran |
| Jangka Waktu | Tidak terbatas (sebelum revisi) | Hanya berlaku sampai akhir 2026 |
| Target Pengguna | Semua satuan pendidikan | Hanya satuan pendidikan yang mengajukan dan memenuhi syarat |
Kesimpulan
Relaksasi penggunaan BOSP untuk honor guru PPPK paruh waktu merupakan langkah penting yang memberi ruang bagi pemda untuk mengatasi kebutuhan pendidikan secara darurat. Namun, kebijakan ini bukan solusi jangka panjang. Pemerintah daerah perlu bersikap proaktif dalam memanfaatkan kesempatan ini sekaligus merancang strategi penganggaran jangka panjang agar kebutuhan guru dan tendik bisa terpenuhi secara berkelanjutan.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini berdasarkan kebijakan yang berlaku sampai dengan tahun 2026. Kebijakan dan ketentuan bisa berubah sewaktu-waktu sesuai dengan arahan pemerintah pusat.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













