Moody’s baru saja memberikan rating Ba3 untuk instrumen Additional Tier 1 (AT1) milik Bank Negara Indonesia (BNI). Rating ini mencerminkan tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan obligasi biasa, karena instrumen ini dirancang sebagai penyerap kerugian jika bank mengalami tekanan keuangan.
Perlu dicatat, rating Ba3 berada tiga tingkat di bawah baseline credit assessment BNI, yaitu baa3. Artinya, meskipun BNI memiliki profil kredit yang relatif stabil, instrumen AT1 ini tetap membawa risiko tertentu, terutama terkait kupon dan potensi penghapusan nilai pokok.
Apa Itu Instrumen AT1?
Instrumen Additional Tier 1 (AT1) adalah jenis surat berharga yang dikeluarkan bank untuk memenuhi kebutuhan penambahan modal inti. Instrumen ini unik karena bisa dikonversi menjadi saham atau dihapus nilainya jika kondisi tertentu terpenuhi.
- Fungsi Utama: Sebagai buffer penyerap kerugian saat bank mengalami tekanan keuangan.
- Risiko: Lebih tinggi dibandingkan obligasi konvensional karena kupon bisa dihentikan dan nilai pokok bisa dikurangi.
Mengapa Moody’s Memberikan Rating Ba3?
Rating Ba3 mencerminkan karakteristik risiko tinggi dari instrumen AT1. Moody’s menilai bahwa instrumen ini tidak akan mendapat dukungan pemerintah jika terjadi krisis, sehingga risiko bagi investor lebih besar.
Selain itu, kupon dari instrumen ini bersifat non-kumulatif. Artinya, jika bank memutuskan untuk tidak membayar kupon, pembayaran tersebut tidak akan ditangguhkan atau dibayar di masa depan.
Potensi Risiko yang Melekat
Instrumen AT1 BNI memiliki beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan investor.
- Penghentian Kupon Sewaktu-waktu: Bank memiliki diskresi penuh untuk menghentikan pembayaran kupon.
- Penghapusan Nilai Pokok: Jika rasio CET1 BNI turun ke bawah 5,125%, atau regulator menilai bank tidak layak operasi, maka sebagian atau seluruh nilai pokok bisa dihapus.
Faktor Makro yang Mempengaruhi Rating
Moody’s juga mempertimbangkan kondisi makro ekonomi global dan domestik dalam menilai instrumen ini. Salah satu risiko yang disoroti adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu stabilitas pasar energi dan keuangan global.
Kondisi ini bisa berdampak pada kualitas aset BNI, terutama jika terjadi penurunan signifikan dalam portofolio kredit atau investasi bank.
Proyeksi Ke Depan: Kapan Rating Bisa Naik?
Rating Ba3 untuk instrumen AT1 ini akan bergerak sejalan dengan baseline credit assessment BNI. Jika kualitas aset bank membaik, terutama ditandai dengan penurunan restrukturisasi kredit dan kredit bermasalah, maka ada peluang kenaikan rating.
Sebaliknya, jika kualitas aset memburuk atau rasio permodalan turun drastis, maka rating bisa turun lebih lanjut.
Kriteria Penurunan Rating
- Penurunan kualitas aset secara signifikan.
- Rasio tangible common equity terhadap risk-weighted assets turun di bawah 11%.
Perbandingan Rating Instrumen BNI
| Jenis Instrumen | Rating Moody’s | Keterangan |
|---|---|---|
| Obligasi Konvensional | A3 | Lebih aman, risiko rendah |
| Instrumen AT1 | Ba3 | Risiko tinggi, kupon bisa dihentikan |
| Saham Biasa | – | Tidak memiliki jaminan, risiko sangat tinggi |
Tips untuk Investor
Instrumen AT1 bukan untuk investor pemula. Produk ini membutuhkan pemahaman mendalam tentang risiko keuangan dan kondisi makro ekonomi.
- Pahami Risiko Non-Kumulatif: Kupon bisa tidak dibayar tanpa kewajiban untuk dibayar nanti.
- Pantau Rasio Modal BNI: Jika CET1 turun ke level kritis, nilai pokok bisa tergerus.
- Cermati Lingkungan Makro: Ketegangan global bisa memicu penurunan kualitas aset bank.
Penutup
Rating Ba3 dari Moody’s untuk instrumen AT1 BNI adalah cerminan dari risiko yang melekat pada produk ini. Meski bisa memberikan imbal hasil yang menarik, instrumen ini tidak cocok untuk investor konservatif.
Investor yang tertarik harus siap menerima risiko penghentian kupon dan potensi penghapusan nilai pokok. Ke depan, kinerja instrumen ini akan sangat bergantung pada kualitas aset BNI dan stabilitas ekonomi global.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan kondisi makro ekonomi, kebijakan regulator, dan kinerja keuangan BNI. Sebaiknya selalu merujuk pada sumber resmi terbaru sebelum membuat keputusan investasi.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













