Meski Bank Indonesia (BI) sudah beberapa kali menurunkan suku bunga acuan hingga ke level 4,75%, dampaknya belum terasa signifikan di sisi bunga kredit perbankan. Salah satu penyebab utama adalah biaya dana atau cost of fund (CoF) yang masih tinggi. CoF menjadi komponen penting dalam penetapan suku bunga kredit karena mencerminkan berapa besar biaya yang dikeluarkan bank untuk menghimpun dana.
Penurunan BI Rate seharusnya mendorong turunnya bunga kredit, tapi kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Banyak bank masih mematok bunga kredit yang tinggi karena struktur dana mereka belum sepenuhnya menyesuaikan diri dengan kondisi terkini. Misalnya, PT Bank Mandiri yang pada 2025 mencatat CoF sebesar 2,33%, naik dari 2,16% di tahun sebelumnya. Bank lain seperti BNI juga mengalami kenaikan dari 2,69% menjadi 2,73% dalam periode yang sama.
Mengapa Biaya Dana Perbankan Masih Tinggi?
1. Efek Lag Penurunan Suku Bunga
Penurunan BI Rate tidak langsung berdampak pada turunnya bunga kredit. Ada jeda waktu atau lag yang biasanya berlangsung antara 6 hingga 12 bulan. Hal ini terjadi karena bank masih harus menunggu jatuh tempo deposito lama yang sebelumnya memiliki bunga tinggi. Selama masa transisi ini, bank belum bisa serta-merta menurunkan bunga karena masih terikat pada kewajiban membayar bunga deposito lama.
2. Risiko Kredit yang Meningkat
Risiko gagal bayar nasabah, khususnya dari kalangan UMKM, ikut memicu bank untuk tidak terlalu agresif menurunkan bunga. Ketidakpastian ekonomi global, termasuk ketegangan geopolitik dan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, membuat bank harus tetap memasukkan premi risiko dalam perhitungan bunga kredit. Ini membuat CoF tetap tinggi meski BI Rate sudah turun.
Perbandingan Cost of Fund Beberapa Bank Besar (2024–2025)
| Bank | CoF 2024 | CoF 2025 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Bank Mandiri | 2,16% | 2,33% | +0,17% |
| BNI | 2,69% | 2,73% | +0,04% |
| BRI | 3,00% | 2,90% | -0,10% |
| CIMB Niaga | 3,58% | 3,28% | -0,30% |
| BTN | 3,90% | 3,10% | -0,80% |
Strategi Bank dalam Menghadapi Tekanan CoF
1. Meningkatkan Dana Murah (CASA)
CASA (Current Account Saving Account) adalah sumber dana yang relatif murah karena tidak memberikan bunga tinggi. Bank seperti CIMB Niaga dan BTN berupaya meningkatkan proporsi dana ini untuk menekan CoF secara keseluruhan. Semakin besar dana murah yang dikumpulkan, semakin kecil biaya yang harus dikeluarkan bank untuk menarik dana dari masyarakat.
2. Repricing Dana Secara Selektif
Repricing dilakukan untuk menyesuaikan struktur bunga deposito yang ada. Bank tidak langsung menurunkan semua bunga deposito, tapi melakukannya secara bertahap dan selektif. Ini membantu bank menjaga keseimbangan antara daya tarik produk simpanan dan pengeluaran bunga yang terlalu tinggi.
3. Menjaga Keseimbangan Margin dan Pertumbuhan Kredit
Bank juga harus memperhatikan margin bunga yang diambil dari selisih antara bunga simpanan dan bunga kredit. Dengan menjaga keseimbangan ini, bank bisa tetap menguntungkan meski CoF belum turun secara signifikan. Strategi ini penting agar net interest income (NII) tetap stabil.
Proyeksi CoF di Tahun 2026
1. Penurunan Bertahap Diprediksi Terjadi
Meski CoF masih tinggi, banyak bank optimis akan terjadi penurunan bertahap sepanjang 2026. Direktur OK Bank menyebut bahwa repricing dana yang berjalan akan membantu menurunkan biaya dana secara perlahan. Namun, penurunan ini tidak akan langsung terasa karena masih dipengaruhi oleh kondisi likuiditas dan pergerakan obligasi.
2. Peran Likuiditas dan Obligasi
Arah CoF ke depan sangat bergantung pada kondisi likuiditas domestik dan pergerakan instrumen pasar seperti obligasi. Jika likuiditas melimpah dan investor lebih memilih instrumen pasar uang, bank bisa mengurangi ketergantungan pada dana mahal. Ini akan membuka peluang penurunan bunga kredit secara lebih luas.
3. Perkiraan CoF BTN di 2026
BTN memperkirakan CoF mereka akan berada di kisaran 2,9% hingga 3,4% sepanjang 2026. Penurunan dari level 3,9% di awal 2025 menjadi 3,1% per Februari 2026 menunjukkan bahwa strategi bank dalam menekan biaya dana mulai memberikan hasil. Namun, pergerakan bunga kredit ke depan tetap akan mengikuti kondisi global.
Apa Dampaknya Bagi Nasabah?
1. Bunga Kredit Belum Turun Signifikan
Meski BI Rate sudah turun, bunga kredit belum ikut turun secara agresif. Ini berdampak pada calon peminjam yang masih harus membayar bunga tinggi meski kondisi makro ekonomi sudah lebih longgar. Terutama untuk skema KPR atau pinjaman usaha kecil, bunga yang tinggi bisa membebani cash flow bulanan.
2. Bunga Floating Rate Mulai Disesuaikan
Beberapa bank seperti BTN sudah mulai menyesuaikan bunga floating rate. Ini berarti nasabah yang memiliki pinjaman dengan skema floating bisa merasakan penurunan bunga secara bertahap. Namun, untuk bunga tetap seperti KPR awal, penurunan belum terlihat karena bank masih menawarkan suku bunga kompetitif sekitar 2,65% untuk tiga tahun pertama.
Kesimpulan
Biaya dana atau CoF masih menjadi penghalang utama turunnya bunga kredit meski BI Rate sudah beberapa kali diturunkan. Faktor seperti efek lag, risiko kredit, dan struktur dana lama membuat bank belum bisa langsung menyesuaikan bunga kredit. Namun, dengan strategi seperti peningkatan dana murah dan repricing, beberapa bank mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan CoF. Tahun 2026 diprediksi akan menjadi tahun transisi menuju bunga kredit yang lebih terjangkau, meski prosesnya akan berjalan perlahan.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga April 2026. Perubahan kondisi ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor eksternal lainnya dapat memengaruhi aktualisasi angka di masa depan.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













