Ilustrasi ketegangan geopolitik kembali memuncak di kuartal pertama 2026. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran, yang semakin intens dengan keterlibatan Israel, berdampak pada stabilitas ekonomi global. Bukan hanya kawasan Timur Tengah yang merasakan efeknya, tetapi juga berbagai negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi global yang sebelumnya optimis mulai tertekan. Sejumlah ekonom memperkirakan bahwa laju pertumbuhan ekonomi banyak negara akan mengalami koreksi lebih dalam. Salah satunya adalah Indonesia, yang meski memiliki ketahanan relatif lebih baik, tetap tidak kebal terhadap guncangan eksternal.
Dampak Konflik AS-Iran terhadap Ekonomi Global
1. Inflasi Global Meningkat
Salah satu dampak langsung dari konflik ini adalah lonjakan harga komoditas, khususnya energi. Ketika ketegangan meningkat, pasar minyak dunia langsung bereaksi. Harga minyak mentah melonjak, yang pada gilirannya meningkatkan biaya produksi dan distribusi barang secara global.
Inflasi yang dihasilkan bukan hanya berdampak pada negara-negara penghasil minyak. Negara pengimpor seperti Indonesia juga merasakan tekanan, terutama pada anggaran subsidi energi dan kompensasi yang harus dikeluarkan pemerintah.
2. Gangguan Rantai Pasok
Konflik ini juga mengganggu jalannya rantai pasok global. Jalur perdagangan strategis yang melintasi Selat Hormuz menjadi tidak stabil. Banyak kapal dagang terpaksa mengalihkan rute, yang memperpanjang waktu pengiriman dan menambah biaya logistik.
Akibatnya, harga barang-barang impor meningkat. Ini termasuk komponen elektronik, pupuk, dan bahan baku industri lainnya yang sangat bergantung pada pasokan dari kawasan Timur Tengah dan Eropa.
3. Penurunan Daya Beli Masyarakat
Naiknya harga barang secara global berimbas pada daya beli masyarakat. Ketika harga kebutuhan pokok dan barang konsumsi naik, konsumsi rumah tangga cenderung turun. Hal ini memperlambat pertumbuhan ekonomi karena konsumsi menjadi salah satu komponen utama PDB.
Penurunan konsumsi juga berdampak pada produksi. Produsen mengurangi output karena permintaan menurun. Ini menciptakan siklus negatif yang memperlambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
4. Prediksi CORE: Di Bawah 5 Persen
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini kemungkinan akan berada di bawah 5 persen. CORE sebelumnya memperkirakan kisaran 4,9 hingga 5,1 persen. Namun, dengan eskalasi konflik yang masih berlangsung, angka tersebut bisa lebih rendah.
Jika ketegangan berkepanjangan, Indonesia berpotensi tumbuh di bawah 4,9 persen. Ini menunjukkan betapa sensitifnya ekonomi nasional terhadap gonjang-ganjing geopolitik global.
5. Bank Dunia Pangkas Proyeksi
Bank Dunia juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen. Meski masih lebih tinggi dari rata-rata kawasan Asia Timur dan Pasifik (4,2 persen), angka ini menunjukkan perlambatan yang nyata.
Perlu dicatat bahwa proyeksi ini bisa berubah lagi jika situasi global semakin memburuk. Data ini bersifat dinamis dan dapat diperbarui seiring perkembangan situasi.
6. Ketahanan Relatif Indonesia
Meski demikian, Indonesia dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik dibandingkan negara lain. Ketergantungan terhadap impor minyak yang rendah menjadi salah satu faktor yang melindungi ekonomi nasional. Impor bersih minyak dan gas Indonesia hanya sekitar 1 persen dari PDB.
Negara lain seperti Thailand dan Filipina memiliki ketergantungan yang lebih tinggi. Thailand mencatat impor bersih sebesar 7 persen dari PDB, Filipina 3 persen, dan Vietnam 2 persen. Ini membuat mereka lebih rentan terhadap fluktuasi harga energi global.
Faktor-Faktor yang Memperburuk Tekanan Ekonomi
7. Lonjakan Harga Pupuk dan Pangan
Salah satu komoditas yang terpengaruh adalah pupuk. Harga pupuk yang naik berdampak langsung pada sektor pertanian. Biaya produksi petani meningkat, yang pada akhirnya menaikkan harga pangan.
Inflasi pangan menjadi perhatian serius karena dapat memicu inflasi inti. Ini akan memperumit kebijakan moneter dan fiskal yang sedang dijalankan pemerintah.
8. Kenaikan Harga Semikonduktor
Industri manufaktur dan teknologi juga terkena dampak. Kenaikan harga semikonduktor berimbas pada seluruh rantai nilai. Mulai dari produksi elektronik hingga kendaraan listrik, semua mengalami tekanan biaya.
Indonesia, sebagai negara dengan pertumbuhan industri digital yang pesat, tentu tidak kebal terhadap kenaikan harga komponen strategis ini.
9. Ketidakpastian Investasi
Iklim investasi juga terganggu. Investor cenderung waspada dalam kondisi geopolitik yang tidak stabil. Mereka menunda keputusan investasi atau mengalihkan modal ke negara yang dianggap lebih aman.
Ini berdampak pada aliran modal asing langsung (FDI) yang menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi. Penurunan FDI bisa memperlambat pembangunan infrastruktur dan penciptaan lapangan kerja.
Perbandingan Impor Bersih Minyak dan Gas (% dari PDB)
| Negara | Impor Bersih Minyak dan Gas (% dari PDB) |
|---|---|
| Indonesia | 1% |
| Thailand | 7% |
| Filipina | 3% |
| Vietnam | 2% |
Catatan: Data tahun 2024
Kesimpulan
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah membuka babak baru dalam tekanan ekonomi global. Meskipun Indonesia memiliki ketahanan yang relatif lebih baik, tekanan dari luar tetap berpotensi mengganggu pertumbuhan ekonomi nasional.
Penurunan proyeksi dari Bank Dunia dan prediksi dari CORE menunjukkan bahwa situasi ini tidak bisa dianggap remeh. Inflasi, gangguan rantai pasok, dan ketidakpastian investasi adalah tantangan yang harus dihadapi secara bersamaan.
Namun, dengan kebijakan yang tepat dan antisipasi terhadap perkembangan global, Indonesia masih memiliki peluang untuk mempertahankan stabilitas ekonomi meskipun dalam kondisi yang penuh ketidakpastian.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah tergantung perkembangan situasi geopolitik dan ekonomi global.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













