Nasional

Indonesia Hemat Subsidi BBM Sampai 5 Miliar Dolar AS dengan Alihkan Bus-Truk Niaga ke Listrik pada 2026

Herdi Alif Al Hikam
×

Indonesia Hemat Subsidi BBM Sampai 5 Miliar Dolar AS dengan Alihkan Bus-Truk Niaga ke Listrik pada 2026

Sebarkan artikel ini
Indonesia Hemat Subsidi BBM Sampai 5 Miliar Dolar AS dengan Alihkan Bus-Truk Niaga ke Listrik pada 2026

Indonesia baru saja mencatat sejarah penting di industri otomotif. Tonggak ini datang dari peresmian pabrik perakitan kendaraan komersial listrik pertama di Tanah , yang dioperasikan oleh PT VKTR Sakti Industries. Perusahaan ini merupakan usaha dari PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk.

Langkah ini bukan sekadar pencapaian teknologi. Kehadiran dan niaga listrik ini juga punya dampak besar pada penghematan anggaran negara. Diperkirakan, Indonesia bisa menghemat subsidi bahan bakar minyak (BBM) hingga USD5 miliar per tahun. Angka ini muncul seiring dengan percepatan elektrifikasi kendaraan komersial yang menjadi tulang punggung distribusi barang dan umum.

Potensi Hemat Subsidi BBM dari Elektrifikasi Kendaraan Niaga

Kendaraan niaga seperti bus dan truk memang bukan yang paling populer di mata publik. Tapi perannya dalam ekosistem transportasi sangat krusial. Karena itulah, alih daya dari BBM ke listrik pada kendaraan jenis ini memberi efek domino yang luas.

Salah satu dampak langsungnya adalah pengurangan konsumsi solar. Truk dan bus listrik tidak hanya lebih , tapi juga lebih hemat dalam jangka panjang. Dengan begitu, beban bisa berkurang secara signifikan.

Menurut Anindya Novyan Bakrie, Komisaris Utama VKTR Teknologi Mobilitas, penghematan subsidi BBM bisa mencapai USD5 miliar per tahun. Angka ini didapat dari proyeksi penggunaan bus dan truk listrik dalam skala besar di seluruh Indonesia.

1. Peralihan dari BBM ke Listrik pada Kendaraan Niaga

Bus dan truk listrik tidak memerlukan solar. Mereka menggunakan baterai sebagai sumber energi utama. Dengan beralih ke listrik, kebutuhan energi dari sektor transportasi bisa lebih terkendali dan efisien.

2. Skala Elektrifikasi yang Terus Naik

Semakin banyak bus dan truk listrik yang beroperasi, maka semakin besar pula penghematan yang bisa dicatat. Target pengadaan kendaraan terus naik tiap tahun, sejalan dengan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Kolaborasi Industri Lokal untuk Dukung Produksi Dalam Negeri

Pabrik di Magelang, Jawa Tengah, ini tidak bekerja sendirian. VKTR menjalin kerja sama dengan berbagai produsen lokal untuk memastikan rantai pasok berjalan efisien dan mendukung program Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Kemitraan ini melibatkan beberapa perusahaan penting, seperti:

  • Laksana, Adiputro Wirasejati, dan Tentrem Sejahtera sebagai karoseri
  • Gajah Tunggal untuk ban
  • Auto Inovasi Sukses untuk aki
  • Erika Solusi Integrasi untuk telematika
  • Sejuk Sejahtera Santosa untuk sistem pendingin

3. Meningkatkan TKDN Secara Bertahap

VKTR saat ini telah mendapatkan sertifikasi TKDN sebesar 40 persen dari Kementerian Perindustrian. Targetnya adalah meningkatkan angka ini menjadi 60 persen pada 2026 dan mencapai 80 persen pada 2028.

Tahun Target TKDN
2024 40%
2026 60%
2028 80%

Langkah ini penting untuk memperkuat industri otomotif dalam negeri. Dengan TKDN yang tinggi, lebih banyak komponen diproduksi secara lokal, sehingga menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Menjadi Pemain Global di Industri Kendaraan Niaga Listrik

Anindya juga menyampaikan optimisme bahwa VKTR bisa menjadi salah satu pemain utama di kancah . Dia membandingkan langkah Indonesia dengan negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan yang memulai industrialisasi otomotif dari kendaraan niaga.

Negara-negara seperti Jepang dengan Hino, Isuzu, dan Mitsubishi Fuso, atau India dengan Tata Motors, membangun dominasi mereka lewat truk dan bus sebelum beralih ke mobil penumpang.

4. Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik yang Kuat

Langkah awal sudah terwujud. Dengan pabrik ini, Indonesia tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor, tapi juga mulai membangun fondasi ekosistem kendaraan listrik yang mandiri.

Dari sisi produksi, pengembangan teknologi, hingga distribusi, semua elemen mulai tersusun. Ini adalah awal dari transformasi besar dalam industri otomotif nasional.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Tentu saja, perjalanan ini tidak tanpa tantangan. Infrastruktur pengisian listrik masih terbatas. Harga kendaraan listrik juga masih lebih tinggi dibandingkan konvensional. Namun, seiring dengan skala produksi yang naik dan dukungan kebijakan, biaya bisa turun secara bertahap.

Selain itu, penggunaan kendaraan listrik juga memberi peluang baru di bidang layanan dan pemeliharaan. Teknologi yang lebih canggih membutuhkan tenaga kerja terampil, membuka lapangan kerja baru di sektor industri dan layanan purna jual.

Kesimpulan

Peresmian pabrik kendaraan niaga listrik ini adalah langkah strategis yang membawa manfaat ganda. Di satu sisi, Indonesia bisa menghemat subsidi BBM hingga USD5 miliar per tahun. Di sisi lain, industri otomotif dalam negeri mulai bangkit dengan basis produksi yang lebih mandiri.

Dengan kolaborasi antarindustri dan dukungan kebijakan yang tepat, Indonesia punya peluang besar untuk menjadi bagian dari revolusi transportasi global. Langkah kecil hari ini bisa menjadi awal dari perubahan besar di masa depan.

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah seiring perkembangan kebijakan dan kondisi pasar.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.