Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis sore, 9 April 2026. Mata uang Garuda itu ditutup di level Rp17.090 per USD, turun 78 poin atau sekitar 0,46 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.012 per USD. Meski sempat menguat di sesi tengah hari, tekanan dari sentimen global akhirnya membawa rupiah ke zona merah menjelang akhir perdagangan.
Pergerakan rupiah sepanjang hari berada dalam kisaran Rp17.030 hingga Rp17.104 per USD. Fluktuasi ini mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik global serta ekspektasi kebijakan moneter dari The Fed. Meskipun demikian, secara year to date (YTD), rupiah masih mencatat kenaikan sebesar 2,46 persen.
Dinamika Kurs Rupiah Hari Ini
Perdagangan Kamis menunjukkan dua wajah rupiah. Di satu sisi, data dari Bloomberg mencatat pelemahan 78 poin. Namun, Yahoo Finance mencatat rupiah menguat tipis tujuh poin ke posisi Rp17.080 per USD. Sementara itu, kurs referensi Jisdor mencatat pelemahan 73 poin ke level Rp17.082 per USD.
- Data Bloomberg: Rupiah ditutup melemah di Rp17.090 per USD.
- Data Yahoo Finance: Rupiah menguat tipis ke Rp17.080 per USD.
- Kurs Jisdor: Rupiah melemah 73 poin ke Rp17.082 per USD.
Perbedaan data ini menunjukkan bahwa pergerakan rupiah sangat sensitif terhadap sumber referensi dan waktu pengambilan data. Investor disarankan memantau lebih dari satu sumber untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh.
Faktor Global yang Mempengaruhi Rupiah
Pergerakan rupiah tidak bisa dipisahkan dari situasi global. Salah satu faktor utama yang menyebabkan pelemahan rupiah adalah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz.
- Ketegangan di Selat Hormuz: Jalur pengiriman minyak global ini masih terganggu meski ada gencatan senjata sementara antara AS dan Iran. Iran tetap mempertahankan kontrol signifikan atas akses dan transit kapal.
- Serangan Israel di Lebanon: Serangan ini memperburuk ketegangan dan memicu kekhawatiran akan rusaknya gencatan senjata yang rapuh. Jalur kapal tanker sempat diblokir kembali.
- Respons Iran: Iran menyatakan bahwa pembicaraan damai dengan AS “tidak masuk akal” setelah serangan terbaru, yang dianggap melanggar ketentuan gencatan senjata.
Kondisi ini menciptakan ketidakpastian di pasar energi global. Pasokan minyak yang terganggu berpotensi mendorong kenaikan harga energi, yang pada akhirnya berdampak pada inflasi dan nilai tukar mata uang negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Kebijakan The Fed dan Dampaknya
Risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Maret yang dirilis Rabu memberi gambaran bahwa The Fed masih berencana menurunkan suku bunga tahun ini. Namun, situasi geopolitik yang tidak menentu membuat langkah ini penuh tantangan.
- Ekspektasi penurunan suku bunga Fed: Meski inflasi masih tinggi dan pasar tenaga kerja stagnan, pejabat Fed tetap mempertimbangkan penurunan suku bunga.
- Kebijakan yang gesit: Para pembuat kebijakan Fed menyatakan pentingnya fleksibilitas dalam menghadapi dampak perang terhadap inflasi dan pasar tenaga kerja.
Sementara itu, ketidakpastian global membuat investor lebih hati-hati. Rupiah sebagai mata uang negara berkembang rentan terhadap perubahan ekspektasi suku bunga global, terutama dari AS.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Di tengah tekanan global, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami revisi turun dari berbagai lembaga internasional. Namun, pemerintah tetap optimis terhadap pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Perbandingan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026
| Lembaga | Proyeksi Sebelumnya | Proyeksi Terbaru |
|---|---|---|
| Bank Dunia | 4,8% | 4,7% |
| OECD | 5,0% | 4,8% |
| Pemerintah RI | – | 5,4% – 5,7% |
Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di 4,7 persen, turun dari estimasi sebelumnya 4,8 persen. OECD juga merevisi turun proyeksi dari 5,0 persen menjadi 4,8 persen. Namun, pemerintah masih optimis dengan pertumbuhan di kisaran 5,4 hingga 5,7 persen, didorong oleh konsumsi domestik, investasi, dan program biodiesel B50.
Strategi Pemerintah Menghadapi Ketidakpastian Global
Menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian, pemerintah fokus pada tiga pilar utama untuk menjaga stabilitas ekonomi.
- Kedaulatan pangan dan energi: Meningkatkan produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor.
- Kebijakan fiskal yang prudent: Menjaga kesehatan fiskal agar tidak tergerus oleh volatilitas global.
- Akselerasi investasi: Mendorong investasi infrastruktur dan industri untuk memperkuat daya tahan ekonomi.
Langkah-langkah ini diharapkan mampu menjaga stabilitas makroekonomi meski tekanan eksternal semakin besar.
Prediksi Pergerakan Rupiah Jumat
Melihat dinamika yang terjadi, analis memperkirakan rupiah akan kembali mengalami fluktuasi pada perdagangan Jumat besok. Namun, secara umum, rupiah cenderung melemah.
- Rentang prediksi: Rp17.090 hingga Rp17.140 per USD.
- Tren umum: Fluktuatif namun ditutup melemah.
Sentimen negatif dari Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan The Fed diprediksi akan terus memberi tekanan pada rupiah. Investor disarankan untuk tetap waspada dan menghindari posisi terlalu agresif sebelum ada kejelasan lebih lanjut.
Kesimpulan
Rupiah kembali melemah di perdagangan Kamis sore, mencerminkan tekanan dari sentimen global yang tidak menentu. Ketegangan di Timur Tengah, ekspektasi suku bunga The Fed, dan revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang Garuda. Meski demikian, pemerintah tetap optimis dengan prospek ekonomi nasional dan terus mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas.
Disclaimer: Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan perkembangan kondisi pasar dan kebijakan global.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.













