Perbankan

Pertumbuhan Kredit Perbankan 2026 Masih Belum Mencapai Momentum Penuh Meski Menunjukkan Sinyal Positif Awal

Rista Wulandari
×

Pertumbuhan Kredit Perbankan 2026 Masih Belum Mencapai Momentum Penuh Meski Menunjukkan Sinyal Positif Awal

Sebarkan artikel ini
Pertumbuhan Kredit Perbankan 2026 Masih Belum Mencapai Momentum Penuh Meski Menunjukkan Sinyal Positif Awal

Pertumbuhan kredit perbankan di awal tahun 2026 menunjukkan sisi optimis, namun tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan yang berkelanjutan. Meski angka masih positif, ada sejumlah sinyal yang menunjukkan bahwa momentum ini belum sepenuhnya solid. Dinamika ini mencerminkan kondisi makro ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, serta pola perilaku bank dan nasabah yang mulai beradaptasi dengan realitas baru.

Otoritas Jasa (OJK) mencatat hingga Februari 2026, total kredit perbankan tumbuh 9,37% secara tahunan (year-on-year), mencapai Rp8.559 triliun. Angka ini sedikit lebih rendah dibanding pertumbuhan di Januari yang mencatatkan 9,96% YoY. Meski begitu, kinerja ini masih dianggap sehat, terutama dengan tetap aktifnya segmen investasi dan korporasi besar.

Pertumbuhan Kredit Masih Didominasi Segmen Korporasi

Pertumbuhan kredit awal tahun ini tidak merata. Mayoritas berasal dari segmen korporasi dan investasi, yang menunjukkan bahwa ekspansi kredit masih didominasi oleh pelaku usaha besar. Kredit investasi tumbuh paling tinggi, mencapai 20,72% YoY, menandakan masih adanya kepercayaan dari pelaku untuk mengembangkan usaha mereka.

juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 14,74% YoY. Bank pelat merah menjadi motor penggerak utama dengan pertumbuhan kredit sebesar 12,78% YoY. Ini menunjukkan bahwa sektor swasta besar masih menjadi andalan dalam menopang pertumbuhan kredit nasional.

Dari sisi dana, likuiditas perbankan terlihat cukup longgar. (DPK) tumbuh 13,18% YoY menjadi Rp10.102 triliun. Giro menjadi komponen yang paling cepat tumbuh, mencatatkan kenaikan sebesar 18,56% YoY. Namun, meski likuiditas tinggi, belum semua dana mengalir ke sektor riil secara merata.

1. Efek “Panen” dari Kredit yang Disiapkan di Tahun Sebelumnya

Pertumbuhan kredit di kuartal I/2026 tidak sepenuhnya berasal dari permintaan baru. Banyak bank mengakui bahwa pencairan kredit awal tahun ini merupakan hasil dari proses yang sudah dimulai sejak tahun lalu. Ini seperti menanam benih di musim sebelumnya dan memanennya di awal tahun berikutnya.

Direktur Wholesale Banking Bank Mega, Madi Darmadi Lazuardi, menyebut bahwa banyak fasilitas kredit yang telah disiapkan sejak 2025 mulai dicairkan di awal 2026. Ini termasuk kredit sindikasi maupun bilateral yang sudah melalui proses panjang sebelumnya.

“Kalau kuartal I ini justru kita kelihatannya cukup positif. Kita udah positif lumayan signifikan lah dibanding tahun lalu,” ujar Madi.

2. Kredit Baru Belum Sepenuhnya Meningkat Tajam

Meski angka pertumbuhan terlihat baik, kenaikan ini belum sepenuhnya mencerminkan lonjakan permintaan kredit baru di tahun 2026. Banyak bank masih berhati-hati dalam menyalurkan kredit, terutama ke sektor yang dianggap lebih berisiko.

Ini menunjukkan bahwa meskipun kondisi makro ekonomi mulai membaik, permintaan kredit dari pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Bank cenderung lebih memilih menyalurkan dana ke korporasi besar yang dianggap lebih aman.

Tantangan Profitabilitas di Tengah Persaingan Ketat

Salah satu tantangan utama yang dihadapi perbankan adalah tekanan terhadap profitabilitas. Persaingan suku bunga kredit semakin ketat, terutama di tengah dominasi bank besar dan Himbara yang memiliki kapasitas lebih besar.

Madi mengungkapkan bahwa bank harus pandai-pandai memilih kredit yang feasible namun tetap menguntungkan. “Jadi kita akhirnya -pintarlah mencari kredit-kredit yang feasible tapi dengan suku bunga yang buat Bank Mega masih bisa terima,” katanya.

Di sisi lain, (cost of fund) belum turun secara signifikan karena persaingan penghimpunan dana masih tinggi. Akibatnya, spread bunga semakin menyempit, yang berdampak pada penurunan net interest margin (NIM).

Preferensi Bank pada Instrumen Aman

Meski likuiditas tinggi, tidak semua dana mengalir ke sektor riil. Banyak bank lebih memilih menempatkan dana pada instrumen yang dianggap lebih aman, seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Pengamat perbankan Arianto Muditomo menyebut bahwa pertumbuhan kredit kuartal I/2026 terlihat “pincang”. Kredit korporasi besar memang tumbuh, tetapi belum mampu menutupi lemahnya kontribusi dari sektor UMKM.

“Secara kualitatif, perbankan terlihat lebih memiliki menempatkan likuiditasnya pada instrumen bebas risiko seperti SBN atau SRBI daripada menyalurkannya ke sektor riil yang masih fluktuatif,” jelas Arianto.

3. Penyaluran Kredit ke UMKM Masih Terbatas

Salah satu tantangan struktural yang masih dihadapi sektor perbankan adalah rendahnya penyaluran kredit ke UMKM. Permintaan dari sektor ini masih terbatas, terutama karena rendahnya literasi keuangan dan keuangan.

Direktur BCA Syariah, Pranata, menilai bahwa peningkatan literasi dan inklusi menjadi kunci untuk mendorong pembiayaan ke sektor UMKM. “Sinergi antara pemerintah dan seluruh sektor akan menjadi kunci dalam peningkatan literasi serta inklusi tersebut,” ujarnya.

BCA Syariah mengembangkan pendekatan berbasis ekosistem dengan menjadikan perusahaan besar sebagai jangkar untuk menjangkau UMKM melalui skema supply chain seperti distributor dan supplier financing.

4. Strategi Digital untuk Dukung Transaksi UMKM

Sebagai bagian dari strategi inklusi keuangan, BCA Syariah juga mengembangkan platform digital seperti bisnis BIQ dan virtual account management. Platform ini dirancang untuk mendukung transaksi UMKM agar lebih efisien dan terintegrasi.

Dengan pendekatan ini, bank berharap dapat memperluas jangkauan dan memberikan akses yang lebih mudah bagi pelaku usaha kecil untuk mengakses layanan perbankan.

Proyeksi Kredit Tahun Ini Masih Waspada

Meski pertumbuhan kredit awal tahun ini terlihat positif, proyeksi untuk seluruh tahun 2026 masih harus diwaspadai. Banyak faktor eksternal seperti tekanan global, fluktuasi harga komoditas, dan ketidakpastian ekonomi dunia masih menjadi penghalang.

Pertumbuhan kredit total diprediksi akan berada di bawah target optimis awal tahun, terutama jika penyaluran ke sektor riil tidak segera meningkat. Peran pemerintah dan regulator menjadi sangat penting untuk menciptakan ekosistem yang mendukung inklusi keuangan dan pertumbuhan berkelanjutan.

Disclaimer

Data dan informasi dalam artikel ini bersumber dari laporan dan pernyataan publik pihak terkait per 6 April 2026. Angka dan kondisi dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti dinamika ekonomi dan kebijakan yang berlaku.

Rista Wulandari
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.