Harga minyak global kembali menggelegar. Brent melonjak hampir 8%, sementara WTI bahkan menembus level USD110 per barel. Lonjakan ini terjadi tak lama setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana serangan terhadap Iran dalam beberapa minggu ke depan. Situasi di Selat Hormuz, jalur krusial bagi distribusi minyak global, semakin memanas.
Iran sendiri tampaknya tidak tinggal diam. Negara itu sedang menyusun protokol bersama Oman untuk mengatur lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk memastikan jalur tetap beroperasi, meski dalam kondisi ketegangan yang tinggi.
Lonjakan Harga Minyak Dipicu Ketegangan Geopolitik
Kenaikan harga minyak tidak datang dari kekosongan. Sentimen pasar langsung terguncang begitu Trump menyatakan rencana militer AS yang agresif. Investor langsung bereaksi, memperkirakan potensi gangguan pasokan yang signifikan jika konflik benar-benar terjadi.
-
Brent Naik 7,6% Menjadi USD108,82 per Barel
Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Juni mencatat lonjakan tajam. Ini adalah level tertinggi dalam beberapa pekan terakhir dan menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap risiko geopolitik. -
WTI Tembus USD111,84 per Barel
Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga tidak kalah responsif. Kenaikan hampir 12% dalam sehari menunjukkan bahwa investor mulai khawatir dengan potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Iran dan Oman Siapkan Protokol untuk Selat Hormuz
Langkah Iran bekerja sama dengan Oman ini menunjukkan bahwa pemerintah Teheran masih ingin menjaga jalur pengiriman tetap terbuka. Selat Hormuz adalah arteri penting, tempat lewatnya sekitar 20% minyak dan gas global.
-
Koordinasi dengan Oman untuk Keamanan Lintas Selat
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan bahwa protokol ini bukan untuk membatasi lalu lintas, melainkan untuk memastikan keamanan dan layanan kapal yang melintas. -
Tarif Baru untuk Kapal yang Lewat Selat Hormuz
Iran juga berencana memberlakukan tarif bagi kapal yang melintas. Langkah ini dianggap sebagai bentuk pungutan yang bisa memicu reaksi dari negara-negara Barat, termasuk AS.
Langkah ini memperlihatkan bahwa Iran tidak hanya bersiap secara militer, tetapi juga secara ekonomi. Tarif yang diberlakukan bisa menjadi alat tekanan tambahan, meski risikonya adalah semakin tingginya ketegangan.
Ketidakpastian Gencatan Senjata Antara AS dan Iran
Trump sempat memberi harapan bahwa gencatan senjata bisa terjadi. Namun, pernyataannya yang tidak konsisten justru menambah ketidakpastian. Investor pun akhirnya memilih untuk tetap waspada.
-
Trump Ancam Serangan dalam 2-3 Minggu
Dalam pidato yang disiarkan langsung, Trump menyatakan bahwa AS akan “menyerang Iran dengan sangat keras” dalam waktu dekat. Ia juga menyebut bahwa AS memiliki “semua kartu,” sementara Iran tidak punya apa-apa. -
Klaim Gencatan Senjata Dibantah Iran
Pernyataan Trump tentang permintaan gencatan senjata dari Iran langsung dibantah oleh Kementerian Luar Negeri Teheran. Media pemerintah Iran menyatakan bahwa tidak ada permintaan semacam itu.
Perbedaan narasi ini membuat pasar semakin tidak tenang. Investor tidak punya kepastian, dan harga minyak pun terus berada di zona merah.
Analisis UBS: Persediaan Minyak Dunia Bisa Turun Drastis
Bank investasi UBS memperingatkan bahwa persediaan minyak global saat ini sudah berada di level rata-rata lima tahun terendah. Jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut, situasi bisa semakin buruk.
-
Persediaan Minyak Dunia Menuju Level Terendah
UBS memperkirakan bahwa pada akhir April, persediaan bisa turun di bawah titik terendah historis jika tidak ada perbaikan signifikan. -
Harga Bisa Tembus USD150 per Barel
Jika gangguan berkepanjangan, harga minyak berpotensi melonjak lebih tinggi lagi. UBS menyebut angka USD150 per barel sebagai skenario yang mungkin terjadi.
Risiko di Selat Hormuz Masih Tinggi
Selat Hormuz tetap menjadi titik kritis. Meski ada protokol baru dari Iran dan Oman, belum ada indikasi kuat bahwa situasi akan segera membaik. Investor masih menunggu perkembangan lebih lanjut.
Perbandingan Lonjakan Harga Minyak
| Jenis Minyak | Harga Sebelumnya | Harga Setelah Lonjakan | Kenaikan (%) |
|---|---|---|---|
| Brent | USD101,15 | USD108,82 | 7,6% |
| WTI | USD99,98 | USD111,84 | 11,7% |
Faktor Pemicu Utama Kenaikan Harga
- Pernyataan Trump tentang serangan terhadap Iran
- Ketidakpastian gencatan senjata
- Penutupan efektif Selat Hormuz
- Penurunan persediaan minyak global
Perspektif Jangka Pendek: Harga Minyak Masih Rentan
Meski ada peningkatan persediaan minyak mentah sebesar 5,5 juta barel menurut data EIA, lonjakan harga tetap terjadi. Ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik jauh lebih dominan dibandingkan faktor suplai teknis.
Investor dan produsen minyak global kini berada di posisi yang sulit. Di satu sisi, ada potensi gangguan pasokan yang besar. Di sisi lain, ada tekanan untuk menjaga stabilitas harga agar tidak memicu inflasi yang lebih tinggi.
Disclaimer
Data harga minyak dan perkiraan analis bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan geopolitik dan ekonomi global. Informasi dalam artikel ini bersifat referensi dan tidak dimaksudkan sebagai saran investasi.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













