Finansial

Sebagian Besar Saham Bank Besar Mengalami Penurunan pada Sesi Awal Perdagangan Kamis (2/4), BBCA Catatkan Kenaikan

Herdi Alif Al Hikam
×

Sebagian Besar Saham Bank Besar Mengalami Penurunan pada Sesi Awal Perdagangan Kamis (2/4), BBCA Catatkan Kenaikan

Sebarkan artikel ini
Sebagian Besar Saham Bank Besar Mengalami Penurunan pada Sesi Awal Perdagangan Kamis (2/4), BBCA Catatkan Kenaikan

Perdagangan saham di pasar modal Indonesia pada Kamis (2/4) pagi menunjukkan sentimen yang cukup campur aduk, terutama dari sektor perbankan besar atau yang biasa disebut big banks. Mayoritas saham bank pelat merah justru melemah di awal perdagangan. Satu-satunya pengecualian adalah saham BBCA yang berhasil bertahan di zona hijau.

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan kenaikan sebesar 0,38% ke level Rp 6.525 per saham. Angka ini cukup kontras dibandingkan saham bank besar lainnya yang justru terperosok ke zona merah. Saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 0,27% ke posisi Rp .710. Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 0,30% di angka Rp 3.340.

Tak kalah menarik, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mengalami tekanan jual, turun 0,42% ke level Rp 4.700. Meskipun sempat menguat di awal perdagangan, saham-saham big banks ini akhirnya kembali terkoreksi, kecuali BBCA yang masih menunjukkan positif.

Perdagangan hari ini juga menjadi yang terakhir sebelum libur nasional pada (3/4) dalam rangka perayaan Wafat Yesus Kristus. Libur sehari ini bisa memengaruhi likuiditas pasar dan membuat pergerakan harga saham lebih fluktuatif.

Dinamika Nilai Tukar Rupiah dan Dampaknya pada Big Banks

Rupiah yang tengah mengalami tekanan terhadap dolar AS juga menjadi salah satu faktor yang memicu melemahnya saham big banks. Muhammad Wafi, Head Research dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), menyebutkan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah berpotensi memicu sejumlah risiko .

Salah satunya adalah risiko inflasi impor. Jika rupiah terus melemah dan menembus level 17.000 per dolar AS, maka tekanan pada harga barang impor akan semakin besar. Ini berpotensi memicu kenaikan harga secara umum, alias inflasi.

  1. Inflasi yang tinggi bisa memaksa Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan BI Rate.
  2. Kenaikan suku bunga acuan ini berdampak pada pertumbuhan kredit yang melambat dan meningkatnya rasio Non-Performing Loan (NPL).
  3. Risiko ini pada akhirnya bisa memicu capital outflow atau keluarnya modal asing dari domestik.

Wafi menilai, meskipun ada sejumlah risiko, big banks masih memiliki fundamental yang kuat. Oleh karena itu, ia tetap merekomendasikan investor untuk mengakumulasi saham-saham bank besar, terutama bagi mereka yang berinvestasi dengan horizon jangka panjang.

Perbandingan Kinerja Saham Big Banks di Sesi I Kamis (2/4)

Berikut adalah ringkasan pergerakan harga saham big banks pada sesi pertama perdagangan Kamis (2/4):

Saham Harga (Rp) Perubahan (%)
BBCA 6.525 +0,38%
BBNI 3.710 -0,27%
BBRI 3.340 -0,30%
BMRI 4.700 -0,42%

Disclaimer: Data di atas bersifat real time pada sesi I perdagangan Kamis (2/4) dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergerakan Saham Big Banks

Pergerakan saham bank besar tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi internal perusahaan, tetapi juga oleh dinamika makroekonomi. Berikut beberapa faktor utama yang perlu diperhatikan:

  1. Nilai tukar rupiah
    Fluktuasi rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu variabel penting. Rupiah yang melemah bisa memicu kenaikan BI Rate dan memengaruhi kinerja bank dalam hal kredit dan likuiditas.

  2. Kebijakan BI Rate
    Suku bunga acuan BI memiliki dampak langsung terhadap suku bunga kredit dan deposito. Kenaikan BI Rate bisa menekan pertumbuhan kredit dan memengaruhi laba bank.

  3. Inflasi
    Lonjakan harga secara umum akan memengaruhi daya beli masyarakat dan kualitas portofolio pinjaman bank. Inflasi tinggi juga bisa memicu intervensi BI.

  4. Kondisi politik global dan domestik
    Ketidakpastian politik, baik di dalam maupun luar negeri, bisa memicu sentimen negatif di pasar modal, termasuk saham big banks.

  5. Capital outflow
    Jika investor asing menarik dananya dari pasar Indonesia, maka tekanan jual terhadap saham akan meningkat, termasuk saham bank besar.

Rekomendasi Investasi Saham Big Banks untuk Jangka Panjang

Meski menghadapi tantangan makroekonomi, big banks masih dianggap sebagai pilihan investasi yang relatif aman untuk jangka panjang. Wafi menilai bahwa bank-bank besar ini memiliki struktur modal yang kuat dan mampu bertahan di tengah volatilitas pasar.

  1. Fundamental kuat
    Big banks umumnya memiliki rasio kecukupan modal (CAR) yang tinggi dan portofolio kredit yang terjaga.

  2. Dividen konsisten
    Sebagian besar big banks memiliki sejarah pembayaran dividen yang konsisten, menjadikannya menarik bagi investor income.

  3. Likuiditas tinggi
    Saham-saham ini mudah diperdagangkan karena volume yang tinggi.

  4. risiko teruji
    Bank-bank besar sudah memiliki sistem manajemen risiko yang matang, terutama dalam menghadapi tekanan .

Namun demikian, investor tetap perlu waspada terhadap risiko eksternal seperti perubahan kebijakan moneter, fluktuasi nilai tukar, dan ketidakpastian global.

Penutup

Pergerakan saham big banks pada Kamis (2/4) mencerminkan situasi pasar yang sedang was-was menanti sejumlah pengumuman makroekonomi. Meski mayoritas saham bank besar melemah, BBCA tetap mampu bertahan positif. Investor jangka panjang tidak perlu terlalu panik dengan fluktuasi jangka pendek, selama fundamental perusahaan tetap solid.

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan data dan informasi yang tersedia pada sesi perdagangan Kamis (2/4). Pergerakan harga saham dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi pasar dan faktor makroekonomi yang sedang berkembang.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.