Simpanan masyarakat di sektor rumah tangga mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Angka dari Bank Indonesia mencatat rata-rata dana pihak ketiga (DPK) per rekening rumah tangga naik menjadi Rp6,09 juta pada Desember 2025, naik dari Rp6,02 juta di bulan sebelumnya.
Tren ini juga terlihat pada instrumen tabungan. Rata-rata tabungan per rekening naik dari Rp4,03 juta menjadi Rp4,10 juta. Kenaikan ini bisa jadi cerminan dari semakin stabilnya kondisi ekonomi rumah tangga pasca-tahun-tahun ketidakpastian.
Apa Arti Pemulihan DPK Rumah Tangga?
Pemulihan DPK rumah tangga bisa jadi sinyal positif. Tapi, belum tentu juga langsung berarti daya beli masyarakat sudah pulih total. Banyak faktor di balik angka ini, dan tidak semuanya menunjukkan optimisme konsumsi.
Bhima Yudhistira dari Center of Economic and Law Studies (Celios) menyebut bahwa kenaikan DPK lebih ke arah simpanan jaga-jaga. Artinya, masyarakat masih berhati-hati di tengah ketidakpastian ekonomi.
- Perlambatan sektor riil, seperti kontraksi kredit UMKM sebesar 0,3% tahunan di Desember 2025, menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi belum sepenuhnya pulih.
- Pergeseran dari tabungan ke giro juga terjadi. Ini menunjukkan masyarakat lebih memilih likuiditas tinggi, mungkin untuk antisipasi kebutuhan mendadak.
Proyeksi DPK Rumah Tangga di 2026
Bhima memperkirakan tren DPK rumah tangga bisa melambat di 2026. Beberapa tekanan ekonomi seperti kenaikan harga BBM, LPG, dan bahan pangan bisa menggerus tabungan.
- Risiko PHK yang meningkat juga menjadi ancaman. Saat penghasilan terganggu, tabungan biasanya digunakan sebagai bantalan hidup.
- Inflasi yang terkendali jadi satu-satunya penyangga. Di Desember 2025, inflasi tercatat 2,92% secara tahunan, menjaga daya beli tetap stabil.
Respons Perbankan terhadap Pemulihan DPK
Bank Mandiri melihat tren ini secara positif. Head of Deposit Product Management Mandiri, Mega Ekaputri Pujianto, menyebut bahwa pemulihan DPK rumah tangga sejalan dengan aktivitas ekonomi yang membaik.
- Mandiri Spending Index (MSI) naik 17% bulanan di Desember 2025, mencapai level 354,5.
- Indeks tabungan kelompok menengah juga naik 0,49 poin menjadi 101,2. Ini menunjukkan bahwa kelas menengah mulai kembali menabung.
Strategi Bank Mandiri
Bank Mandiri fokus pada ekosistem digital dan penguatan CASA (Current Account and Savings Account) untuk menjaga pertumbuhan DPK.
- Optimalisasi Livin’ by Mandiri sebagai platform digital utama.
- Sinergi layanan keuangan dari korporasi hingga ritel, termasuk pengembangan value chain seperti payroll.
Rasio CASA Mandiri tetap sehat di atas 70% per Januari 2026. Ini membantu menjaga efisiensi biaya dana (CoF).
Perilaku Menabung Masyarakat di BTN
BTN juga mencatat adanya perbaikan perilaku menabung. Direktur Network and Retail Funding BTN, Rully Setiawan, menyebut bahwa jumlah akun simpanan transaksional tumbuh 27% tahunan.
- Segmen kelas menengah menunjukkan peningkatan yang stabil.
- Namun, rata-rata simpanan per nasabah masih moderat. Pemulihan daya beli butuh waktu.
Strategi BTN untuk Pertumbuhan DPK
BTN mengandalkan strategi digital dan komunitas untuk menjaga momentum.
- Super app Bale dikembangkan untuk memperkuat ekosistem digital.
- Program loyalitas dan edukasi keuangan juga digunakan agar rekening tidak hanya digunakan untuk menabung, tapi juga transaksi harian.
Faktor yang Mendukung Pemulihan DPK
Beberapa faktor eksternal dan internal turut mendukung tren positif ini.
- Inflasi yang terkendali menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.
- Stimulus pemerintah dan momentum musiman seperti Ramadan dan Idulfitri diproyeksikan jadi katalis pertumbuhan konsumsi dan tabungan.
Bank Mandiri memperkirakan penghimpunan DPK ritel akan tumbuh di kisaran high single-digit hingga low double-digit di 2026.
Tantangan yang Masih Menghadang
Meski ada sinyal positif, beberapa tantangan tetap mengintai.
- Kenaikan harga kebutuhan pokok bisa menggerus tabungan.
- Ancaman PHK dan perlambatan sektor riil masih menjadi risiko.
Tabel Perbandingan DPK Rumah Tangga di Bank Mandiri dan BTN
| Bank | Rata-rata DPK per Rekening (Des 2025) | Pertumbuhan Tahunan (YoY) | Strategi Utama |
|---|---|---|---|
| Bank Mandiri | Rp6,09 juta | 23% | Ekosistem digital, CASA |
| BTN | Rp6,09 juta (estimasi) | 27% (akun transaksional) | Super app, loyalitas, edukasi keuangan |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi ekonomi dan kebijakan bank.
Kesimpulan
Pemulihan DPK rumah tangga memang menunjukkan adanya perbaikan kondisi keuangan masyarakat. Tapi, belum sepenuhnya mencerminkan daya beli yang kuat. Masyarakat masih berhati-hati, dan tabungan lebih ke arah antisipasi ketimbang konsumsi.
Bank seperti Mandiri dan BTN pun mulai memanfaatkan momentum ini dengan strategi digital dan edukasi keuangan. Tapi, tantangan seperti inflasi dan risiko PHK tetap harus diwaspadai.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi makro dan kebijakan pemerintah.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













