Fenomena ‘makan tabungan’ saat THR cair bukanlah hal baru, tapi kali ini sinyalnya makin kuat. Banyak orang masih bisa belanja di Ramadan dan Lebaran, tapi cara bayarnya bukan dari sisa gaji bulanan. Justru, tabungan yang jadi korban. Ini bukan cuma soal pengeluaran yang naik, tapi lebih pada daya beli yang sebenarnya sudah terkikis sebelum THR pun cair.
Strategic Research Manager Center of Reform on Economics (Core) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar siklus musiman. Ia menyebutnya sebagai tanda bahwa kondisi keuangan rumah tangga secara umum sedang tidak sehat. THR yang biasanya diharapkan sebagai suntikan dana, kini lebih berfungsi sebagai penunda tekanan daripada solusi jangka panjang.
Mengapa Masyarakat ‘Makan Tabungan’?
- THR Hanya Penyangga Sementara
THR memang membantu likuiditas rumah tangga dalam jangka pendek. Tapi, tanpa pendapatan yang stabil sepanjang tahun, THR hanya menunda beban keuangan, bukan menghilangkannya. Fungsi THR saat ini lebih mirip obat penenang daripada obat penyembuh.
- Pendapatan Riil Tak Seimbang dengan Inflasi
Walaupun laju inflasi secara umum terkendali, harga kebutuhan pokok seperti pangan dan energi tetap naik. Kenaikan ini tidak diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan riil masyarakat. Hasilnya? Banyak orang terpaksa menguras tabungan untuk menutup kebutuhan dasar.
- Struktur Pasar Kerja yang Rapuh
Semakin banyaknya pekerja di sektor informal membuat pendapatan menjadi tidak pasti. Padahal, kebutuhan hidup terus naik. Kondisi ini memaksa rumah tangga untuk menarik tabungan demi bertahan, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran.
Pola Konsumsi yang Berubah
Berbeda dengan tren konsumsi di masa lalu yang didorong oleh pendapatan, kini banyak masyarakat mengandalkan tabungan untuk bisa bertahan. Ini yang disebut dengan konsumsi berbasis balance sheet, bukan income-driven.
- Kelompok bawah dan menengah: Konsumsi bertahan hidup, terpaksa makan tabungan.
- Kelompok atas: Lebih cenderung pada konsumsi gaya hidup, tapi tetap menguras tabungan.
Meski angka konsumsi masih tumbuh, kualitasnya berbeda. Tidak lagi didukung oleh pendapatan yang sehat, melainkan dari penggunaan aset atau tabungan yang seharusnya dipertahankan.
Data dari Mandiri Spending Index (MSI)
Berikut ini adalah data yang mencerminkan fenomena dissaving saat Ramadan 2026 berdasarkan Mandiri Spending Index:
| Indikator | Minggu Ketiga Ramadan 2026 | Februari 2026 |
|---|---|---|
| Pertumbuhan Belanja WoW | 0,9% | 0,6% |
| Pertumbuhan Belanja YoY | 7,7% | 7,2% |
| Tabungan Kelompok Bawah | 73,6 | 72,8 |
| Tabungan Kelompok Menengah | 102,1 | 100,4 |
| Tabungan Kelompok Atas | 89,7 | 94,3 |
Data menunjukkan bahwa meski ada peningkatan belanja, tabungan kelompok atas justru turun. Sementara kelompok bawah dan menengah mengalami sedikit kenaikan bulanan, tapi pertumbuhan tahunan mereka lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
Penyebab Dissaving yang Semakin Dalam
- Biaya Hidup yang Naik Lebih Cepat dari Pendapatan
Harga kebutuhan pokok terus naik, tapi gaji tidak mengalami lonjakan yang sebanding. Ini membuat banyak orang terpaksa menguras tabungan.
- Tidak Ada Cadangan Keuangan yang Kuat
Banyak rumah tangga tidak memiliki buffer keuangan yang cukup untuk menghadapi fluktuasi ekonomi. Saat ada THR, kondisi tampak normal. Tapi begitu THR habis, tekanan kembali terasa.
- Kebiasaan Konsumsi yang Tidak Terkendali
Di tengah Ramadan dan Lebaran, konsumsi cenderung meningkat. Tapi tanpa kontrol, pengeluaran bisa melebihi pendapatan, bahkan melebihi THR yang diterima.
Dampak Jangka Panjang dari Dissaving
Fenomena ini mungkin bisa mengerek angka konsumsi dan pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Tapi dalam jangka panjang, bisa berdampak buruk.
- Tabungan yang terkuras terus-menerus membuat rumah tangga rentan saat krisis.
- Kebutuhan mendesak seperti pendidikan atau kesehatan bisa terabaikan karena tidak punya cadangan.
- Kelas menengah bisa terdorong turun ke bawah karena terus mengandalkan pinjaman atau utang konsumtif.
Tips Menghindari Dissaving Saat THR Cair
- Buat Rencana Anggaran Sebelum THR Cair
Jangan langsung habiskan THR begitu masuk rekening. Buat daftar prioritas kebutuhan dan alokasikan THR secara bijak.
- Gunakan Sebagian THR untuk Investasi atau Tabungan Jangka Panjang
Jika memungkinkan, sisihkan sebagian THR untuk tabungan darurat atau investasi. Ini bisa menjadi buffer untuk kebutuhan mendadak di masa depan.
- Kurangi Pengeluaran Konsumtif
Fokus pada kebutuhan, bukan keinginan. Hindari belanja impulsif yang hanya menambah beban keuangan.
- Gunakan THR untuk Bayar Utang
Jika memiliki utang, gunakan sebagian THR untuk melunasinya. Ini akan mengurangi beban bunga di bulan-bulan berikutnya.
Disclaimer
Data dan kondisi ekonomi bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Angka yang disebutkan dalam artikel ini merupakan hasil analisis dari Mandiri Spending Index dan laporan dari Office of Chief Economist Bank Mandiri berdasarkan kondisi periode Ramadan 2026. Data di masa mendatang bisa berbeda tergantung situasi ekonomi makro dan kebijakan yang diambil pemerintah.
Fenomena ‘makan tabungan’ saat THR cair bukan cuma soal konsumsi yang naik. Ini adalah cerminan dari kondisi ekonomi rumah tangga yang semakin rapuh. THR mungkin bisa menunda tekanan, tapi tidak bisa menjadi solusi jangka panjang. Jika tidak dikelola dengan baik, kebiasaan ini bisa menggerus keuangan pribadi secara perlahan tapi pasti.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













