Permintaan kredit yang masih lesu membuat sejumlah bank beralih menempatkan likuiditas di instrumen obligasi. Tren ini terus berlanjut sepanjang 2025 hingga awal 2026, seiring porsi kepemilikan surat berharga negara (SBN) terus meningkat. Strategi ini tidak hanya menjaga return tetap mengalir, tapi juga menjadi bentuk partisipasi bank dalam mendukung stabilitas ekonomi nasional.
Salah satu alasan utama bank lebih banyak menempatkan dana di obligasi adalah karena pertumbuhan kredit belum menunjukkan momentum yang kuat. Meski sebagian besar bank mencatatkan pertumbuhan kredit positif, laju obligasi justru lebih cepat. Gap ini mencerminkan bagaimana bank memilih keamanan dan kepastian imbal hasil di tengah situasi permintaan yang belum pulih secara optimal.
Kepemilikan Obligasi Naik Tajam dalam Setahun
Data Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa posisi bank terhadap SBN mencapai Rp 1.421 triliun per 10 Maret 2026. Angka ini naik dari Rp 1.200 triliun pada Maret 2025, atau pertumbuhan sekitar 18% dalam kurun waktu kurang dari setahun. Lonjakan ini menunjukkan bahwa instrumen surat utang mulai menjadi pilihan utama perbankan untuk parkir dana sementara.
-
Bank Rakyat Indonesia (BRI)
- Kredit tumbuh 10,49% year-on-year (yoy) menjadi Rp 1.346 triliun
- Obligasi yang dimiliki naik 20,18% yoy menjadi Rp 370,03 triliun
-
Bank Negara Indonesia (BNI)
- Kredit tumbuh 18,9% yoy menjadi Rp 882,22 triliun
- Obligasi naik 25,21% yoy menjadi Rp 192,93 triliun
-
Bank Mandiri
- Kredit naik 15,71% yoy menjadi Rp 1.513 triliun
- Obligasi tumbuh 16,62% yoy menjadi Rp 295,58 triliun
-
Bank Central Asia (BCA)
- Kredit hanya naik 5,83% yoy menjadi Rp 953,22 triliun
- Obligasi melonjak 17,25% yoy menjadi Rp 444,85 triliun
CIMB Niaga Catat Penurunan Obligasi
Tidak semua bank mengalami peningkatan kepemilikan obligasi. CIMB Niaga justru mencatatkan sedikit penurunan sebesar 1,96% yoy pada Februari 2026, sehingga total obligasi yang dimiliki turun menjadi Rp 78,03 triliun. Sementara itu, kredit bank ini masih tumbuh 6,67% yoy mencapai Rp 167,61 triliun.
Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyebut bahwa bank tetap mengutamakan penyaluran kredit. Namun, permintaan kredit usaha yang masih melemah membuat bank lebih selektif. Obligasi menjadi alternatif yang memberikan return melalui fee income, sambil menunggu momentum kredit yang lebih baik.
Obligasi Pemerintah Jadi Pilihan Utama
Mayoritas bank lebih memilih menempatkan dana di obligasi pemerintah. Selain aman, instrumen ini juga memberikan return yang stabil dan likuid. Selain itu, bank juga menempatkan dana di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan obligasi lainnya sebagai bagian dari strategi pengelolaan likuiditas.
BCA, misalnya, menjelaskan bahwa penempatan dana di surat berharga merupakan bagian dari strategi manajemen risiko yang ketat. Bank tetap menjaga prinsip kehati-hatian dalam mengelola likuiditas, meski tetap fokus pada fungsi utamanya sebagai lembaga intermediasi keuangan.
Strategi Jangka Pendek vs Kinerja Jangka Panjang
Pilihan bank menempatkan lebih banyak dana di obligasi bukan berarti mengabaikan tugas utama mereka sebagai lembaga penyalur kredit. Ini lebih merupakan strategi jangka pendek untuk menjaga likuiditas tetap produktif di tengah kondisi permintaan yang belum optimal.
Namun, begitu permintaan kredit mulai pulih, dana yang saat ini terparkir di obligasi bisa dialihkan kembali ke penyaluran kredit. Hal ini akan membantu mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan margin bunga bank.
Tabel Perbandingan Kepemilikan Obligasi dan Pertumbuhan Kredit Bank-Bank Besar (Februari 2026)
| Bank | Pertumbuhan Kredit (yoy) | Nilai Kredit (Rp triliun) | Pertumbuhan Obligasi (yoy) | Nilai Obligasi (Rp triliun) |
|---|---|---|---|---|
| BRI | 10,49% | 1.346 | 20,18% | 370,03 |
| BNI | 18,9% | 882,22 | 25,21% | 192,93 |
| Mandiri | 15,71% | 1.513 | 16,62% | 295,58 |
| BCA | 5,83% | 953,22 | 17,25% | 444,85 |
| CIMB Niaga | 6,67% | 167,61 | -1,96% | 78,03 |
Likuiditas Bank dan Dampaknya pada Ekonomi
Strategi perbankan yang lebih banyak menempatkan dana di obligasi juga memiliki dampak makro. Likuiditas yang masuk ke pasar obligasi pemerintah membantu pemerintah dalam pendanaan APBN. Ini menciptakan sinergi antara sektor keuangan dan fiskal yang saling mendukung.
Namun, jika terlalu lama terjadi ketidakseimbangan antara penyaluran kredit dan kepemilikan surat berharga, bisa berdampak pada pertumbuhan sektor riil. Kredit yang lambat tumbuh berpotensi memperlambat investasi dan konsumsi masyarakat.
Disclaimer
Data dan angka yang disajikan bersifat valid hingga Maret 2026. Kondisi pasar keuangan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan makro, kondisi ekonomi global, dan dinamika permintaan domestik. Strategi perbankan juga bisa beradaptasi seiring perkembangan situasi tersebut.
Danang Ismail adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman sejak 2013 dengan keahlian di bidang ekonomi, moneter, perbankan, bansos, dan UMKM.













