Finansial

Pertumbuhan DPK Perbankan Capai 9,2 Persen pada Februari 2026 Menurut Data Terkini

Herdi Alif Al Hikam
×

Pertumbuhan DPK Perbankan Capai 9,2 Persen pada Februari 2026 Menurut Data Terkini

Sebarkan artikel ini
Pertumbuhan DPK Perbankan Capai 9,2 Persen pada Februari 2026 Menurut Data Terkini

Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan nasional terus menunjukkan tren positif di awal tahun 2026. Data dari Bank Indonesia mencatat, hingga akhir Februari 2026, DPK mencapai Rp9.449,1 triliun, naik 9,2% secara tahunan (year-on-year). Meski pertumbuhan ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan di bulan Januari yang mencapai 10,8% (yoy), angka ini tetap menunjukkan bahwa sektor perbankan masih menyerap dana masyarakat dengan cukup baik.

Komponen utama DPK, yaitu giro, tabungan, dan simpanan berjangka, semuanya turut menyumbang pada pertumbuhan ini. Giro tumbuh 17,6% (yoy), tabungan naik 7,7% (yoy), dan deposito naik 3,7% (yoy). Meski semua komponen mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya, kontribusi mereka tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan DPK secara keseluruhan.

Komposisi DPK dan Dinamika Bulanan

Pertumbuhan DPK tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah dana yang masuk, tetapi juga oleh komposisi dan jenis dana itu sendiri. Dalam hal ini, DPK dalam rupiah masih mendominasi, tumbuh 10,2% (yoy), sedangkan DPK dalam valuta asing hanya tumbuh 3,8% (yoy). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat cenderung lebih memilih menyimpan dana dalam domestik, yang bisa jadi dipengaruhi oleh dan suku bunga Bank Indonesia.

1. Giro: Sumber Dana Paling Likuid

Giro tetap menjadi komponen DPK yang paling dinamis, dengan pertumbuhan 17,6% (yoy). Meskipun mengalami sedikit perlambatan dari 19% (yoy) di bulan sebelumnya, giro tetap menjadi sumber dana utama bagi bank karena likuiditasnya yang tinggi. Dana ini biasanya berasal dari transaksi bisnis perusahaan dan institusi.

2. Tabungan: Stabil tapi Tumbuh Terbatas

Tabungan mencatatkan pertumbuhan 7,7% (yoy), sedikit lebih rendah dari 8,8% (yoy) di bulan Januari. Meski tidak secepat giro, tabungan tetap menjadi pilihan utama masyarakat ritel karena kemudahan akses dan keamanannya. Bank terus berinovasi dalam menawarkan produk tabungan digital untuk menarik lebih banyak nasabah.

3. Simpanan Berjangka: Perlambatan Tapi Tetap Kontributif

Simpanan berjangka atau deposito tumbuh 3,7% (yoy), turun dari 5,7% (yoy) sebelumnya. Meskipun pertumbuhannya lebih rendah, deposito tetap menjadi andalan bank untuk mendapatkan dana jangka panjang dengan return yang lebih stabil.

Segmen Nasabah yang Mendominasi

Selain dari sisi jenis dana, DPK juga dipengaruhi oleh segmen nasabah yang menyimpan dana. Dalam Februari 2026, segmen korporasi menjadi penyumbang utama dengan pertumbuhan 15,9% (yoy). Diikuti oleh nasabah lainnya (7,3% yoy) dan perorangan (2,4% yoy). Meskipun semua segmen mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya, kontribusi mereka tetap signifikan.

1. Korporasi: Mesin Pertumbuhan DPK

Segmen korporasi tumbuh 15,9% (yoy), turun dari 18,2% (yoy) di bulan sebelumnya. Dana dari korporasi biasanya bersifat besar dan likuid, menjadikannya komponen penting dalam struktur DPK. Bank terus berlomba menawarkan layanan perbankan khusus korporasi untuk mempertahankan dan meningkatkan market share.

2. Perorangan: Stabil tapi Perlu Dorongan

Nasabah perorangan tumbuh 2,4% (yoy), sedikit lebih rendah dari 3,2% (yoy) di Januari. Meskipun pertumbuhannya tidak sebesar segmen korporasi, jumlah nasabah ritel yang besar membuat kontribusinya tetap penting. Bank terus mengembangkan fitur digital dan program loyalitas untuk menarik lebih banyak nasabah ritel.

3. Nasabah Lainnya: Segmen Potensial

Segmen "lainnya" yang mencakup berbagai institusi -korporasi dan lembaga tumbuh 7,3% (yoy), turun dari 9,6% (yoy). Meskipun tidak spesifik, segmen ini sering kali mencakup yayasan, organisasi sosial, dan lembaga pendidikan yang memiliki dana cukup besar.

Dinamika DPK dalam Rupiah vs Valuta Asing

Dari sisi valuta, DPK dalam rupiah masih mendominasi dengan pertumbuhan 10,2% (yoy). Ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih percaya menyimpan dana dalam mata uang lokal. Sementara itu, DPK dalam valuta asing tumbuh lebih terbatas, hanya 3,8% (yoy). Perlambatan ini bisa dipengaruhi oleh ketidakpastian global dan kebijakan moneter Bank Indonesia yang cenderung menarik dana ke dalam ekosistem rupiah.

Tabel Perbandingan Pertumbuhan DPK per Komponen (Februari 2026)

Komponen DPK Pertumbuhan (yoy) Februari 2026 Pertumbuhan (yoy) Januari 2026
Giro 17,6% 19,0%
Tabungan 7,7% 8,8%
Simpanan Berjangka 3,7% 5,7%
DPK Rupiah 10,2% 11,5%
DPK Valuta Asing 3,8% 4,9%

Tabel Pertumbuhan DPK per Segmen Nasabah (Februari 2026)

Segmen Nasabah Pertumbuhan (yoy) Februari 2026 Pertumbuhan (yoy) Januari 2026
Korporasi 15,9% 18,2%
Perorangan 2,4% 3,2%
Lainnya 7,3% 9,6%

Faktor-Faktor yang Mendorong Pertumbuhan DPK

Beberapa faktor eksternal dan internal turut memengaruhi pertumbuhan DPK di Februari 2026. Kebijakan moneter Bank Indonesia yang menjaga suku bunga acuan pada level yang menarik, serta stabilitas makroekonomi, menjadi pendorong utama. Selain itu, aktivitas ekonomi dan kepercayaan masyarakat terhadap juga berkontribusi.

Namun, perlambatan pertumbuhan dibandingkan bulan sebelumnya menunjukkan bahwa momentum pertumbuhan mulai melandai. Ini bisa disebabkan oleh faktor musiman, seperti pengeluaran menjelang libur keagamaan atau pergeseran alokasi dana ke lainnya.

Proyeksi ke Depan

Pertumbuhan DPK yang masih positif di awal tahun ini memberikan sinyal optimis bagi sektor perbankan. Namun, bank perlu terus berinovasi dalam menawarkan produk dan layanan yang menarik agar dapat mempertahankan dan meningkatkan daya tarik bagi nasabah. Terutama di tengah persaingan yang semakin ketat dan pergeseran perilaku konsumen menuju .

Disclaimer: Data dan angka yang disajikan dalam ini bersifat sesuai kondisi Februari 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor eksternal lainnya.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.