Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan nasional terus menunjukkan tren positif di awal tahun 2026. Data dari Bank Indonesia mencatat, hingga akhir Februari 2026, DPK mencapai Rp9.449,1 triliun, naik 9,2% secara tahunan (year-on-year). Meski pertumbuhan ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan di bulan Januari yang mencapai 10,8% (yoy), angka ini tetap menunjukkan bahwa sektor perbankan masih menyerap dana masyarakat dengan cukup baik.
Komponen utama DPK, yaitu giro, tabungan, dan simpanan berjangka, semuanya turut menyumbang pada pertumbuhan ini. Giro tumbuh 17,6% (yoy), tabungan naik 7,7% (yoy), dan deposito naik 3,7% (yoy). Meski semua komponen mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya, kontribusi mereka tetap menjadi tulang punggung pertumbuhan DPK secara keseluruhan.
Komposisi DPK dan Dinamika Bulanan
Pertumbuhan DPK tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah dana yang masuk, tetapi juga oleh komposisi dan jenis dana itu sendiri. Dalam hal ini, DPK dalam rupiah masih mendominasi, tumbuh 10,2% (yoy), sedangkan DPK dalam valuta asing hanya tumbuh 3,8% (yoy). Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat cenderung lebih memilih menyimpan dana dalam mata uang domestik, yang bisa jadi dipengaruhi oleh stabilitas nilai tukar dan kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
1. Giro: Sumber Dana Paling Likuid
Giro tetap menjadi komponen DPK yang paling dinamis, dengan pertumbuhan 17,6% (yoy). Meskipun mengalami sedikit perlambatan dari 19% (yoy) di bulan sebelumnya, giro tetap menjadi sumber dana utama bagi bank karena likuiditasnya yang tinggi. Dana ini biasanya berasal dari transaksi bisnis harian perusahaan dan institusi.
2. Tabungan: Stabil tapi Tumbuh Terbatas
Tabungan mencatatkan pertumbuhan 7,7% (yoy), sedikit lebih rendah dari 8,8% (yoy) di bulan Januari. Meski tidak secepat giro, tabungan tetap menjadi pilihan utama masyarakat ritel karena kemudahan akses dan keamanannya. Bank terus berinovasi dalam menawarkan produk tabungan digital untuk menarik lebih banyak nasabah.
3. Simpanan Berjangka: Perlambatan Tapi Tetap Kontributif
Simpanan berjangka atau deposito tumbuh 3,7% (yoy), turun dari 5,7% (yoy) sebelumnya. Meskipun pertumbuhannya lebih rendah, deposito tetap menjadi andalan bank untuk mendapatkan dana jangka panjang dengan return yang lebih stabil.
Segmen Nasabah yang Mendominasi
Selain dari sisi jenis dana, DPK juga dipengaruhi oleh segmen nasabah yang menyimpan dana. Dalam Februari 2026, segmen korporasi menjadi penyumbang utama dengan pertumbuhan 15,9% (yoy). Diikuti oleh nasabah lainnya (7,3% yoy) dan perorangan (2,4% yoy). Meskipun semua segmen mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya, kontribusi mereka tetap signifikan.
1. Korporasi: Mesin Pertumbuhan DPK
Segmen korporasi tumbuh 15,9% (yoy), turun dari 18,2% (yoy) di bulan sebelumnya. Dana dari korporasi biasanya bersifat besar dan likuid, menjadikannya komponen penting dalam struktur DPK. Bank terus berlomba menawarkan layanan perbankan khusus korporasi untuk mempertahankan dan meningkatkan market share.
2. Perorangan: Stabil tapi Perlu Dorongan
Nasabah perorangan tumbuh 2,4% (yoy), sedikit lebih rendah dari 3,2% (yoy) di Januari. Meskipun pertumbuhannya tidak sebesar segmen korporasi, jumlah nasabah ritel yang besar membuat kontribusinya tetap penting. Bank terus mengembangkan fitur digital dan program loyalitas untuk menarik lebih banyak nasabah ritel.
3. Nasabah Lainnya: Segmen Potensial
Segmen "lainnya" yang mencakup berbagai institusi non-korporasi dan lembaga tumbuh 7,3% (yoy), turun dari 9,6% (yoy). Meskipun tidak spesifik, segmen ini sering kali mencakup yayasan, organisasi sosial, dan lembaga pendidikan yang memiliki dana cukup besar.
Dinamika DPK dalam Rupiah vs Valuta Asing
Dari sisi valuta, DPK dalam rupiah masih mendominasi dengan pertumbuhan 10,2% (yoy). Ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih percaya menyimpan dana dalam mata uang lokal. Sementara itu, DPK dalam valuta asing tumbuh lebih terbatas, hanya 3,8% (yoy). Perlambatan ini bisa dipengaruhi oleh ketidakpastian global dan kebijakan moneter Bank Indonesia yang cenderung menarik dana ke dalam ekosistem rupiah.
Tabel Perbandingan Pertumbuhan DPK per Komponen (Februari 2026)
| Komponen DPK | Pertumbuhan (yoy) Februari 2026 | Pertumbuhan (yoy) Januari 2026 |
|---|---|---|
| Giro | 17,6% | 19,0% |
| Tabungan | 7,7% | 8,8% |
| Simpanan Berjangka | 3,7% | 5,7% |
| DPK Rupiah | 10,2% | 11,5% |
| DPK Valuta Asing | 3,8% | 4,9% |
Tabel Pertumbuhan DPK per Segmen Nasabah (Februari 2026)
| Segmen Nasabah | Pertumbuhan (yoy) Februari 2026 | Pertumbuhan (yoy) Januari 2026 |
|---|---|---|
| Korporasi | 15,9% | 18,2% |
| Perorangan | 2,4% | 3,2% |
| Lainnya | 7,3% | 9,6% |
Faktor-Faktor yang Mendorong Pertumbuhan DPK
Beberapa faktor eksternal dan internal turut memengaruhi pertumbuhan DPK di Februari 2026. Kebijakan moneter Bank Indonesia yang menjaga suku bunga acuan pada level yang menarik, serta stabilitas makroekonomi, menjadi pendorong utama. Selain itu, peningkatan aktivitas ekonomi dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan juga berkontribusi.
Namun, perlambatan pertumbuhan dibandingkan bulan sebelumnya menunjukkan bahwa momentum pertumbuhan mulai melandai. Ini bisa disebabkan oleh faktor musiman, seperti pengeluaran menjelang libur keagamaan atau pergeseran alokasi dana ke instrumen investasi lainnya.
Proyeksi ke Depan
Pertumbuhan DPK yang masih positif di awal tahun ini memberikan sinyal optimis bagi sektor perbankan. Namun, bank perlu terus berinovasi dalam menawarkan produk dan layanan yang menarik agar dapat mempertahankan dan meningkatkan daya tarik bagi nasabah. Terutama di tengah persaingan yang semakin ketat dan pergeseran perilaku konsumen menuju digitalisasi.
Disclaimer: Data dan angka yang disajikan dalam artikel ini bersifat sesuai kondisi Februari 2026 dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada dinamika ekonomi, kebijakan moneter, dan faktor eksternal lainnya.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













