Nasional

Emas Turun Tajam Saat Ketegangan Iran Meningkat, Ini Ancaman atau Peluang Investasi?

Retno Ayuningrum
×

Emas Turun Tajam Saat Ketegangan Iran Meningkat, Ini Ancaman atau Peluang Investasi?

Sebarkan artikel ini
Emas Turun Tajam Saat Ketegangan Iran Meningkat, Ini Ancaman atau Peluang Investasi?

Tumpukan batangan emas di gudang penyimpanan kini terlihat sepi. Pasar emas global sedang mengalami tajam di tengah ketegangan geopolitik dan tekanan suku bunga yang tinggi. Padahal, biasanya emas justru diincar investor saat situasi dunia tidak menentu. Tapi kenyataannya, saat Iran memanas dan ancaman konflik regional makin nyata, harga emas justru anjlok.

Emas sempat menyentuh rekor tertinggi di USD5.595 per troy ounce pada 29 Januari 2026. Namun, hanya dalam hitungan minggu, harga itu turun drastis hingga menyentuh level USD4.264. Artinya, terjadi koreksi sebesar 24,7 persen—koreksi terburuk dalam sejarah modern. Padahal, biasanya emas dianggap sebagai safe haven saat ketidakpastian global meningkat. Tapi kali ini, emas gagal mempertahankan performa. Lalu, apakah ini sinyal untuk serok atau malah tanda bahaya?

Mengapa Emas Anjlok Saat Iran Memanas?

Biasanya, saat ada konflik geopolitik, investor akan mencari aman seperti emas. Tapi kali ini, koreksi harga emas justru terjadi saat ketegangan antara AS, Israel, dan Iran memuncak. Serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel di akhir Februari 2026 memicu lonjakan harga minyak Brent hingga USD100 per barel. Lonjakan ini langsung mendorong inflasi, yang membuat enggan menurunkan suku bunga.

Berikut lima mekanisme yang bekerja bersamaan dan menekan harga emas:

  1. Suku bunga tinggi lebih lama
    Inflasi yang tetap tinggi membuat The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,50-3,75 persen. Ekspektasi penurunan suku bunga yang sebelumnya diharapkan dua hingga tiga kali di 2026 kini mundur hingga Oktober atau bahkan dibatalkan.

  2. Dolar AS menguat
    Saat krisis, investor cenderung berlindung ke dolar AS. Penguatan dolar secara langsung membuat emas lebih mahal bagi investor global, sehingga permintaan terhadap emas turun.

  3. Forced liquidation di pasar futures
    Trader yang menggunakan leverage terpaksa menjual posisi emas untuk memenuhi margin call. Ini menciptakan efek domino: harga turun, margin call makin banyak, dan penjualan paksa pun terus terjadi.

  4. Cash conversion sementara
    Di fase awal stagflation, investor lebih memilih menyimpan sebelum kembali ke aset keras seperti emas.

  5. Profit taking institusional
    Emas sudah naik 66 persen di 2025 dan lebih dari 50 persen di awal 2026. Investor institusional yang sudah untung besar melakukan rebalancing portofolio sebagai langkah wajar dalam siklus pasar.

Apa Kata Para Analis Besar?

Meski terjadi koreksi besar, mayoritas analis tetap optimistis terhadap emas dalam jangka menengah hingga panjang. JP Morgan menargetkan harga emas kembali ke level USD5.400 hingga USD6.300 di akhir 2026. Wells Fargo dan BNP Paribas juga menaikkan mereka, dengan target di atas USD6.250. Goldman Sachs memperkirakan harga emas akan mencapai USD5.400, didorong oleh inflasi yang tetap tinggi dan aliran dana ke ETF emas.

Natasha Kaneva dari JP Morgan menyatakan:

“While this rally in gold has not, and will not, be linear, we believe the trends driving this rebasing higher in gold prices are not exhausted.”

Tidak ada satu pun institusi besar yang memprediksi akan terjadi bear market struktural untuk emas. Bahkan, target-target ini ditetapkan sebelum konflik Iran memanas. Artinya, jika ketegangan berlanjut, harga emas bisa saja naik lebih tinggi dari yang diperkirakan.

Tiga Skenario Ke Depan

Investor kini mulai bertanya-tanya: apakah ini saat yang tepat untuk beli emas? Jawabannya tergantung pada horizon investasi masing-masing. Namun, ada beberapa argumen kuat yang mendukung akumulasi emas di level saat ini.

Argumen untuk Beli Emas Sekarang

  • Valuasi lebih menarik
    Dengan target konservatif antara USD4.800 hingga USD5.400 di akhir 2026, potensi kenaikannya mencapai 12 hingga 27 persen dari level saat ini (USD4.264).

  • Fundamental jangka panjang tetap kuat
    Bank sentral global masih membeli emas rata-rata 585 ton per kuartal. De-dolarisasi juga masih berlangsung, dan utang AS yang mendekati USD37 triliun tidak akan hilang begitu saja.

  • Sejarah mendukung pembeli di masa koreksi
    Koreksi 20 persen atau lebih selama bull market emas di 2020-an selalu menjadi entry point yang menguntungkan bagi investor jangka panjang.

  • Institusional masih akumulasi
    ETF seperti SPDR Gold Shares (GLD) mencatat aliran dana masuk dari investor institusional yang memanfaatkan koreksi harga untuk menambah posisi.

Pilihan Instrumen Investasi Emas

Menurut Jason Gozali, Head of Research Pluang, memiliki emas di tahun 2026 tidak lagi harus berarti menyimpan batangan fisik. Teknologi dan telah membuka akses yang lebih fleksibel dan aman.

1. PAX Gold (PAXG)

Setiap token PAXG dijamin oleh satu troy ounce emas fisik yang disimpan di brankas Brink’s. Ini menggabungkan keamanan emas fisik dengan kecepatan transaksi .

2. Tether Gold (XAUT)

XAUT memberikan kepemilikan emas fisik yang disimpan di brankas Swiss. Cocok bagi pengguna ekosistem Tether yang ingin memiliki aset lindung nilai.

3. SPDR Gold Shares (GLD)

ETF emas terbesar di dunia yang melacak harga emas spot. Cocok bagi investor yang lebih nyaman bermain di pasar saham.

4. Emas Digital (Antam/UBS)

Investasi emas fisik mulai dari nominal kecil dengan opsi penarikan fisik ke mulia asli.

Jangan Lupakan Perak

Selain emas, perak juga menjadi instrumen investasi yang patut diperhatikan. Di Pluang, tersedia iShares Silver Trust (SLV) yang dikelola Blackrock. ETF ini melacak harga perak fisik, dan setiap unitnya didukung oleh kepemilikan silver bullion. Saat harga perak mendekati USD100 per ounce, SLV mencatat peningkatan signifikan dalam volume perdagangan dan aliran dana.

Risiko yang Perlu Diwaspadai

Meski peluang investasi emas terlihat menarik, ada beberapa risiko yang tetap perlu diperhatikan:

  • Suku bunga bisa tetap tinggi lebih lama dari yang diperkirakan jika konflik Iran berlarut-larut.
  • Dolar AS bisa terus menguat selama perang berlangsung, menekan harga emas lebih jauh.
  • Eskalasi tak terduga ke negara lain seperti Arab Saudi atau penutupan jalur Hormuz bisa mengubah skenario pasar secara drastis.

Cara Cerdas Investasi Emas Saat Volatilitas Tinggi

Volatilitas seperti ini justru bisa menjadi peluang bagi investor yang disiplin. Beberapa prinsip yang bisa diikuti:

  1. Alokasi berbasis rencana
    Tetapkan alokasi portofolio untuk emas—umumnya 5 hingga 15 persen untuk investor ritel—lalu eksekusi secara disiplin.

  2. Gunakan fitur DCA di Pluang
    Fitur pembelian rutin bisa mengotomatiskan strategi DCA (Dollar Cost Averaging) tanpa harus memantau chart setiap hari. Mulai dari Rp10.000.

  3. Pantau sinyal makro
    Dua indikator penting: ekspektasi suku bunga Fed dan harga minyak. Jika pasar mulai mengantisipasi penurunan suku bunga, emas akan bereaksi positif. Stabilisasi harga minyak di bawah USD90 juga bisa mengurangi tekanan inflasi.

Kesimpulan

Penurunan harga emas di tengah ketegangan Iran bukan berarti emas kehilangan nilainya. Ini lebih merupakan koreksi sehat yang dipercepat oleh forced selling dan repositioning institusional. Faktor fundamental yang mendorong emas ke level tertinggi sebelumnya—seperti utang global yang terus meningkat, de-dolarisasi, dan pembelian emas oleh bank sentral—masih tetap kuat.

Koreksi dari USD5.595 ke USD4.264 bukanlah akhir dari bull market emas. Justru, ini bisa menjadi peluang bagi investor jangka panjang untuk membangun portofolio emas dengan harga yang lebih terjangkau.


Disclaimer: Data dan prediksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan kondisi pasar saat ini dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.