Harga minyak mentah dunia sepanjang 2026 terus menjadi sorotan, terutama di tengah gejolak geopolitik dan dinamika produksi global. Volatilitas harga yang terjadi sejak awal tahun memberi gambaran bahwa pasar minyak masih sangat rentan terhadap isu luar negeri dan kebijakan energi besar dunia.
Di awal Maret 2026, harga minyak bahkan mencatatkan lonjakan hingga USD90 per barel. Lonjakan ini dipicu oleh sejumlah ketegangan internasional, termasuk penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh militer AS, ambisi Trump untuk menguasai Greenland, serta eskalasi konflik antara AS dan Iran. Lonjakan ini menjadi salah satu puncak tertinggi setelah sebelumnya harga hanya berkisar di level USD57 per barel pada Januari.
Proyeksi Harga Minyak Dunia di 2026
Melihat kondisi pasar saat ini, para analis memperkirakan harga minyak mentah global sepanjang 2026 akan berada di kisaran USD95 hingga USD100 per barel. Namun, tetap ada risiko penurunan yang ditandai dengan level support di kisaran USD75 hingga USD80 per barel.
1. Faktor Utama yang Mempengaruhi Harga
Beberapa faktor utama masih menjadi penggerak utama fluktuasi harga minyak, terutama:
- Ketegangan geopolitik, khususnya konflik AS-Iran
- Kebijakan produksi dari OPEC+
- Kebijakan tarif perdagangan yang diambil oleh pemerintahan Trump
2. Perkembangan Harga Sepanjang 2025
Sebelum memasuki 2026, harga minyak dunia sebenarnya sempat mengalami tekanan besar di sepanjang 2025. Rata-rata harga minyak pada akhir tahun itu hanya berada di level USD60 per barel, turun lebih dari 21 persen dari level awal tahun yang mencapai USD77 per barel.
Pada paruh pertama 2025, harga sempat turun hampir 10 persen, dengan rata-rata berada di sekitar USD69 per barel. Penurunan ini dipicu oleh perang tarif yang dilancarkan Presiden AS Donald Trump terhadap Tiongkok, Kanada, dan Meksiko.
3. Penguatan Harga di Kuartal Pertama 2026
Harga kembali menguat di awal 2026. Penguatan ini didukung oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya setelah Israel melancarkan operasi "Rising Lion" ke Iran. Sentimen bullish mulai muncul dan harga sempat mencapai level tertinggi di awal Maret.
Namun, tren penguatan ini tidak bertahan lama. Ancaman tarif AS yang lebih tinggi, meski beberapa negara telah melakukan negosiasi, kembali menekan harga minyak.
4. Tekanan di Paruh Kedua 2025
Memasuki paruh kedua 2025, harga kembali tertekan. Isu peningkatan produksi dari OPEC+ dan gencatan senjata di Gaza membuat pasar kembali bearish. Harga rata-rata saat itu turun hampir 13 persen, berada di kisaran USD64 per barel.
Namun, optimisme kembali muncul menjelang 2026. OPEC+ menyatakan komitmen untuk mempertahankan produksi hingga Desember 2026. Pernyataan ini menjadi katalis positif yang mendorong harga kembali naik.
Perbandingan Harga Minyak Mentah Global (2025–2026)
Berikut adalah rincian pergerakan harga minyak mentah global dalam beberapa periode penting:
| Periode | Rata-rata Harga | Keterangan |
|---|---|---|
| Awal 2025 | USD77/barel | Harga awal tahun sebelum tekanan geopolitik |
| Mei 2025 | USD62/barel | Titik terendah akibat perang tarif |
| Akhir 2025 | USD60/barel | Penutupan tahun dengan tren bearish |
| Awal Maret 2026 | USD90/barel | Lonjakan akibat ketegangan AS-Iran |
| Proyeksi 2026 | USD95–100/barel | Kisaran harga yang diproyeksikan |
Tantangan dan Peluang di Tahun 2026
Tahun 2026 akan menjadi tahun penuh tantangan sekaligus peluang bagi pasar minyak global. Di satu sisi, ketidakpastian geopolitik masih menjadi ancaman besar. Di sisi lain, kebijakan produksi yang terkendali dari OPEC+ bisa menjadi penopang harga.
1. Ketegangan Geopolitik
Ketegangan antara AS dan Iran masih menjadi variabel utama yang bisa mengubah arah harga dalam hitungan hari. Setiap eskalasi konflik, baik di Timur Tengah maupun Eropa, berpotensi mendorong harga naik tajam.
2. Kebijakan Produksi OPEC+
OPEC+ tetap menjadi aktor kunci dalam stabilitas harga minyak. Komitmen mereka untuk menjaga produksi tetap rendah hingga akhir tahun menjadi salah satu faktor positif yang bisa menahan laju penurunan harga.
3. Kebijakan Tarif dan Perdagangan Global
Kebijakan perdagangan yang diambil oleh pemerintahan Trump masih menjadi sorotan. Setiap keputusan tarif baru bisa berdampak langsung pada permintaan minyak global, terutama dari negara-negara besar seperti Tiongkok, Kanada, dan Meksiko.
Kesimpulan
Harga minyak mentah dunia di tahun 2026 akan sangat ditentukan oleh tiga faktor utama: geopolitik, produksi, dan kebijakan perdagangan. Meskipun fluktuasi masih akan terjadi, proyeksi awal menunjukkan bahwa harga akan bergerak dalam kisaran USD95 hingga USD100 per barel, dengan potensi koreksi jika situasi global membaik.
Namun, semua ini tetap bersifat prediksi. Data dan situasi bisa berubah sewaktu-waktu tergantung perkembangan dunia luar. Maka dari itu, pengamatan terus-menerus terhadap isu global menjadi hal yang penting dalam memahami arah harga minyak ke depannya.
Disclaimer: Data dan proyeksi dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan kondisi hingga Maret 2026. Situasi geopolitik dan ekonomi global dapat berubah sewaktu-waktu dan memengaruhi harga minyak secara signifikan.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













