Kebijakan Work From Home (WFH) pasca-Lebaran 2025 masih belum bisa diterapkan secara serentak di seluruh sektor. Meskipun banyak perusahaan digital dan layanan sudah mulai mengadaptasi model kerja jarak jauh, sektor riil seperti manufaktur, perdagangan, dan pertanian masih sangat bergantung pada kehadiran fisik karyawan. Dinamika ini menciptakan ketimpangan dalam penerapan kebijakan fleksibel pasca-libur lebaran, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih sensitif terhadap kenaikan harga, termasuk harga BBM.
Pemerintah sendiri belum memaksakan WFH untuk semua sektor. Kebijakan ini lebih dibiarkan menyesuaikan dengan karakteristik industri. Sektor yang bersifat produktif dan membutuhkan aktivitas langsung di lapangan, seperti produksi barang atau pengelolaan gudang, belum siap untuk sepenuhnya beralih ke sistem kerja dari rumah. Hal ini juga berdampak pada pola konsumsi masyarakat, karena mobilitas yang tinggi tetap diperlukan untuk aktivitas kerja.
Dampak WFH Terbatas pada Mobilitas dan Konsumsi Masyarakat
WFH yang belum merata memberi dampak langsung pada mobilitas masyarakat. Banyak pekerja tetap harus keluar rumah setiap hari, terutama di sektor riil. Ini berarti kebutuhan transportasi, makanan di luar rumah, dan pengeluaran lainnya tetap tinggi.
Akibatnya, konsumsi rumah tangga tidak mengalami penurunan signifikan seperti yang terjadi saat WFH diterapkan secara masif di masa pandemi. Padahal, penghematan dari segi transportasi dan makan siang di luar bisa menjadi andalan untuk menahan laju pengeluaran rumah tangga.
1. Sektor yang Masih Bergantung pada Kerja Fisik
Beberapa sektor belum bisa menerapkan WFH karena sifat pekerjaannya yang membutuhkan kehadiran langsung.
-
Manufaktur
Produksi barang memerlukan tenaga kerja di lapangan. Dari operator mesin hingga quality control, semua harus hadir untuk memastikan jalannya produksi. -
Pertanian dan Perkebunan
Petani dan pekerja lapangan lainnya tidak bisa bekerja dari rumah. Aktivitas seperti panen, pemeliharaan tanaman, dan pengolahan hasil pertanian tetap harus dilakukan secara langsung. -
Konstruksi dan Infrastruktur
Proyek fisik seperti pembangunan gedung, jalan, dan jembatan tidak bisa dilakukan dari rumah. Semua pekerja harus hadir di lokasi. -
Perdagangan Tradisional dan Pasar
Pedagang di pasar tradisional, warung, dan toko kelontong tetap harus membuka lapak setiap hari. Mereka sangat bergantung pada interaksi langsung dengan pelanggan.
2. Alasan Kebijakan WFH Belum Bisa Diseragamkan
Meski manfaat WFH banyak dibahas, penerapannya tidak serta merta bisa disamakan di semua bidang. Ada beberapa alasan mengapa kebijakan ini belum bisa serentak.
-
Kebutuhan Aktivitas Fisik
Banyak pekerjaan yang memang harus dilakukan di lapangan. Tidak bisa digantikan dengan aktivitas digital atau virtual. -
Infrastruktur yang Belum Mendukung
Tidak semua perusahaan memiliki sistem digital yang memadai untuk mendukung WFH secara penuh. Terutama di sektor usaha kecil dan menengah. -
Budaya Kerja yang Masih Konvensional
Banyak perusahaan masih mengutamakan pengawasan langsung. Mereka percaya bahwa produktivitas lebih tinggi jika karyawan hadir secara fisik. -
Keterbatasan SDM yang Terlatih
Tidak semua karyawan siap bekerja secara mandiri dari rumah. Banyak yang masih membutuhkan arahan langsung dan bimbingan supervisor.
Perbandingan Produktivitas: WFH vs On-site di Berbagai Sektor
| Sektor | Produktivitas WFH | Produktivitas On-site | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Teknologi Informasi | Tinggi | Sedang | Bisa dikerjakan dari mana saja |
| Manufaktur | Rendah | Tinggi | Harus ada di lapangan |
| Perdagangan | Sedang | Tinggi | Interaksi langsung penting |
| Pertanian | Sangat Rendah | Sangat Tinggi | Tidak bisa dijauhkan dari lapangan |
| Jasa Keuangan | Tinggi | Sedang | Banyak yang bisa diotomatisasi |
3. Dampak pada Pengeluaran Rumah Tangga
WFH yang terbatas berdampak pada pengeluaran harian masyarakat. Karena banyak orang tetap harus keluar rumah, maka pengeluaran untuk transportasi, makan siang, dan kebutuhan lainnya tetap tinggi.
-
Transportasi
Penggunaan kendaraan umum atau pribadi tetap tinggi karena mobilitas kerja belum berkurang. -
Makanan di Luar
Banyak pekerja yang membeli makan siang karena tidak bisa pulang ke rumah. -
Kebutuhan Harian
Kebutuhan seperti bensin, parkir, dan pengeluaran tak terduga lainnya tetap menjadi bagian dari anggaran harian.
4. Tantangan di Tengah Kenaikan Harga BBM
Kenaikan harga BBM yang terjadi beberapa waktu lalu semakin memperberat beban masyarakat. Karena kebijakan WFH belum merata, banyak orang tetap harus keluar rumah untuk bekerja. Ini berarti pengeluaran untuk transportasi terus meningkat.
Padahal, sektor riil yang masih mengandalkan kerja fisik ini juga belum mendapat insentif khusus untuk mengimbangi kenaikan biaya operasional. Kondisi ini bisa memicu penurunan daya beli masyarakat, terutama kalangan pekerja harian dan kelas menengah bawah.
5. Strategi Jangka Pendek untuk Menjaga Produktivitas
Meski belum bisa menerapkan WFH secara penuh, beberapa perusahaan mulai mencoba pendekatan campuran. Misalnya, mengurangi jam kerja di lapangan atau memberikan fleksibilitas jam masuk.
-
Sistem Shift yang Lebih Fleksibel
Memberikan pilihan jam kerja agar mengurangi kepadatan di jalan dan transportasi umum. -
Pemanfaatan Teknologi untuk Monitoring
Meski tetap harus hadir, penggunaan aplikasi untuk pencatatan aktivitas bisa meningkatkan efisiensi. -
Pengurangan Jam Kerja di Hari Tertentu
Beberapa perusahaan mencoba sistem kerja setengah hari untuk mengurangi beban transportasi dan pengeluaran karyawan.
6. Harapan ke Depan: Adaptasi Bertahap
Penerapan WFH secara menyeluruh memang belum saatnya. Namun, sektor riil perlu mulai mempersiapkan diri untuk adaptasi jangka panjang. Ini bukan soal mengganti kehadiran fisik sepenuhnya, tapi mencari keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan karyawan.
Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain pelatihan digital untuk SDM, pengembangan sistem manajemen berbasis aplikasi, dan peningkatan infrastruktur pendukung. Dengan begitu, ketika kondisi memungkinkan, transisi ke model kerja yang lebih fleksibel bisa dilakukan dengan lebih mulus.
Penyesuaian Ekonomi Pasca-Lebaran Harus Cerdas dan Realistis
Kondisi WFH yang belum merata bukan hanya soal kebijakan, tapi juga cerminan dari kesiapan sektor-sektor produktif dalam menghadapi perubahan. Sementara itu, masyarakat harus tetap cerdas mengelola pengeluaran di tengah kenaikan harga dan mobilitas kerja yang masih tinggi.
Kebijakan yang terlalu memaksakan WFH bisa justru berdampak negatif pada sektor riil yang menjadi tulang punggung ekonomi. Oleh karena itu, pendekatan yang seimbang dan realistis menjadi kunci agar produktivitas tetap terjaga tanpa mengorbankan kesejahteraan pekerja.
Disclaimer: Data dan kondisi yang disebutkan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan pemerintah dan perkembangan ekonomi nasional.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













