Finansial

Kebijakan KLM BI Berhasil Turunkan Suku Bunga Meski Pergerakannya Masih Perlahan

Retno Ayuningrum
×

Kebijakan KLM BI Berhasil Turunkan Suku Bunga Meski Pergerakannya Masih Perlahan

Sebarkan artikel ini
Kebijakan KLM BI Berhasil Turunkan Suku Bunga Meski Pergerakannya Masih Perlahan

Kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) dari Bank Indonesia (BI) terus menunjukkan dampaknya dalam menekan suku bunga kredit. Meski penurunannya masih tergolong perlahan, arahnya tetap konsisten, terutama di sektor-sektor prioritas.

Sejumlah data terbaru menunjukkan bahwa sektor jasa, ekonomi kreatif, konstruksi, real estate, dan perumahan merasakan manfaat langsung dari kebijakan ini. Namun, tidak semua sektor mengalami penurunan. Ada beberapa segmen yang justru mencatat kenaikan kecil, meski tidak signifikan.

Penurunan Suku Bunga di Sektor Prioritas

Penurunan suku bunga kredit paling terasa terjadi pada sektor jasa, termasuk ekonomi kreatif. Di sini, suku bunga turun sebesar 3 basis poin (bps) menjadi 7,80%. Penurunan ini didukung oleh kinerja sektor jasa dunia dan jasa sosial.

Sektor lain yang juga merasakan efek positif adalah konstruksi, real estate, dan perumahan. Suku bunga di sektor ini turun 2 bps menjadi 6,87%. Penurunan ini didukung oleh sektor pendukung seperti jasa dunia usaha dan jasa lainnya.

Sebaliknya, sektor pertanian, industri pengolahan, dan hilirisasi mencatat kenaikan kecil dari 8,66% menjadi 8,67%. Kenaikan ini dipengaruhi oleh sektor pendukung seperti listrik, gas, dan air (LGA).

Sementara itu, suku bunga di sektor non-KLM masih bertahan di level dua digit, yaitu 10,69% per 2026. Angka ini tidak berubah dibanding bulan sebelumnya.

Perkembangan Suku Bunga UMKM dan Industri

Segmen UMKM juga mencatat sedikit penurunan suku bunga kredit dari 10,57% di Januari menjadi 10,55% di Februari. Meski penurunan kecil, ini menunjukkan bahwa kebijakan KLM mulai menembus segmen usaha kecil dan menengah.

Sementara itu, suku bunga kredit untuk industri tetap di level 8,8% selama dua bulan terakhir. Ini menunjukkan bahwa sektor ini belum banyak merasakan efek penurunan BI rate secara langsung.

Risiko NPL dan Dampaknya

Penurunan suku bunga kredit terjadi meski non performing loan (NPL) di sejumlah sektor mengalami kenaikan. NPL rata-rata masih berada di bawah batas aman 5%, kecuali NPL segmen UMKM.

NPL segmen UMKM mencatat level 4,68% di Februari 2026, naik dari 4,60% sebulan sebelumnya. Sementara NPL sektor transportasi, pariwisata, dan ekonomi kreatif naik tipis dari 1,65% menjadi 1,66%.

Meski begitu, BI menilai kondisi ini masih dalam batas wajar dan tidak mengancam stabilitas perbankan secara keseluruhan.

Penurunan Biaya Dana (CoF) Belum Merata

Salah satu tujuan kebijakan KLM adalah menurunkan biaya dana (cost of fund/CoF) bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas. Namun, penurunan CoF di sektor perbankan masih berjalan lambat.

Berikut rincian penurunan CoF berdasarkan jenis bank:

Jenis Bank Penurunan CoF (%) CoF Akhir 2025
BUMN -0,4 3,16%
Bank -0,18 3,40%
BPD -0,08 4,40%
Kantor Bank Asing -0,33 1,64%

Bank Tabungan Negara (BTN) menjadi salah satu bank yang berhasil menurunkan CoF, terutama setelah mendapat penempatan dana SAL pemerintah sebesar Rp 25 triliun. CoF BTN pada 2025 berada di level 2,9%, turun dari 4,1% pada 2024.

Bank Mandiri juga mencatat penurunan CoF dari 2,31% menjadi 2,15% pada kuartal IV-2025. BNI turun dari 2,9% menjadi 2,5%, dan CIMB Niaga dari 3,58% menjadi 3,28%.

Strategi Bank Dalam Menekan Biaya Dana

  1. BTN
    BTN memanfaatkan dana murah dari pemerintah untuk menurunkan CoF. Meski tidak merinci target CoF tahun ini, bank ini optimis bisa menjaga CoF tetap stabil hingga akhir tahun. Target pertumbuhan DPK juga dipasang moderat, yaitu antara 7%-9%.

  2. Bank Mandiri
    Mandiri mencatat penurunan CoF menjadi 2,15% di kuartal IV-2025. Langkah ini sejalan dengan upaya bank dalam menyesuaikan diri dengan kebijakan BI.

  3. BNI
    BNI mencatat CoF turun dari 2,9% menjadi 2,5%. Penurunan ini menunjukkan bahwa bank mulai merasakan efek dari kebijakan KLM.

  4. CIMB Niaga
    CIMB Niaga mencatat penurunan CoF dari 3,58% menjadi 3,28%. Ini menunjukkan bahwa bank swasta juga mulai merespons kebijakan BI.


  5. BCA terus mengandalkan dana murah dari CASA (Current Account Saving Account) yang tumbuh 13,1% secara tahunan hingga Desember 2025. CASA menyumbang sekitar 84,6% dari .

  6. OK Bank
    OK Bank mengakui bahwa penurunan CoF belum sebanding dengan penurunan BI rate. Namun, bank tetap optimis bisa menekan CoF di tahun 2026 dengan memperbaiki struktur DPK dan likuiditas.

Tantangan dan Prospek ke Depan

Meski kebijakan KLM telah menunjukkan dampak positif, transmisi penurunan BI rate ke suku bunga kredit masih berjalan lambat. BI terus mendorong bank untuk mempercepat penyesuaian suku bunga agar lebih sejalan dengan arah kebijakan moneter.

Penurunan suku bunga kredit yang lebih cepat diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit, terutama di sektor-sektor prioritas yang menjadi fokus pemerintah. Namun, bank juga harus tetap menjaga kualitas aset dan likuiditas agar tidak terjadi peningkatan secara signifikan.

Disclaimer

Data dalam artikel ini bersumber dari resmi Bank Indonesia dan informasi yang dirilis oleh sejumlah bank pelaksana kebijakan. Angka-angka dapat berubah seiring perkembangan kebijakan dan kondisi makro ekonomi. Informasi ini disajikan untuk tujuan edukasi dan pemantauan kebijakan moneter.

Artikel ini tidak bermaksud memberikan saran investasi atau . Pembaca disarankan untuk melakukan kajian lebih lanjut sebelum membuat keputusan keuangan.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.