Pembiayaan berisiko atau financing at risk (FaR) di Bank Syariah Indonesia (BSI) mengalami lonjakan pada akhir 2025. Lonjakan ini terutama dipicu oleh kebijakan relaksasi bagi nasabah yang terdampak bencana di Aceh. Meski begitu, BSI tetap menjaga kualitas aset dan kesehatan portofolio melalui penguatan pencadangan.
Peningkatan FaR ini tidak serta merta menjadi beban besar bagi BSI. Justru, langkah antisipatif yang diambil bank syariah terbesar kedua di Tanah Air ini menunjukkan kesiapan menghadapi risiko sementara tanpa mengorbankan pertumbuhan usaha. Strategi ini juga menjadi cerminan bahwa bank tetap bisa menjaga keseimbangan antara ekspansi dan mitigasi risiko.
Peningkatan Pembiayaan Berisiko di Tengah Relaksasi Bencana
Salah satu dampak langsung dari kebijakan relaksasi pembiayaan adalah naiknya rasio FaR. Pada akhir 2025, FaR BSI mencapai 9,2%, naik dari rata-rata 7% sebelumnya. Lonjakan ini terutama berasal dari segmen ritel, khususnya UMKM dan konsumer yang terdampak bencana di Aceh.
BSI memberikan kelonggaran berupa penundaan pembayaran angsuran selama tiga bulan, dari Desember 2025 hingga Maret 2026. Kebijakan ini dirancang untuk membantu pemulihan ekonomi masyarakat yang terkena dampak bencana, tanpa membebani nasabah secara instan.
1. Penyaluran Pembiayaan Tetap Tumbuh
Meski FaR naik, total penyaluran pembiayaan BSI pada 2025 mencapai Rp 318,84 triliun, naik 14,49% secara tahunan. Mayoritas besar, sekitar Rp 285,70 triliun atau 90%, disalurkan ke segmen pro-rakyat seperti UMKM, mikro, konsumer, serta sektor pendidikan dan kesehatan.
2. Kualitas Pembiayaan Masih Terjaga
NPF (Non Performing Financing) gross BSI justru mengalami penurunan dari 1,9% menjadi 1,81%. Ini menunjukkan bahwa meski FaR naik, bank tetap menjaga kualitas portofolio secara keseluruhan. Kenaikan FaR lebih merupakan dampak kebijakan kemanusiaan, bukan masalah struktural.
3. Pencadangan Impairment Diperkuat
Untuk mengantisipasi risiko yang mungkin muncul, BSI memperkuat pencadangan impairment. Pada akhir 2025, nilai impairment mencapai Rp 2,46 triliun, naik dari Rp 1,99 triliun di tahun sebelumnya. Namun, pada Februari 2026, angka ini turun menjadi Rp 439,37 miliar.
Dampak Relaksasi Pembiayaan pada Berbagai Pihak
Kebijakan relaksasi dan restrukturisasi pembiayaan BSI membawa dampak yang beragam bagi berbagai pihak. Mulai dari masyarakat Aceh yang terdampak bencana, pelaku UMKM, hingga kinerja BSI itu sendiri.
1. Masyarakat Aceh
Bagi masyarakat Aceh, keringanan pembayaran selama tiga bulan memberi ruang bernapas ekonomi. Ini sangat membantu dalam proses pemulihan pasca-bencana, terutama untuk masyarakat yang kehilangan sumber penghasilan sementara.
2. Pelaku UMKM
Pelaku UMKM yang terdampak bencana juga mendapat manfaat langsung dari kebijakan ini. Kebijakan relaksasi memberikan kepastian bahwa kewajiban pembiayaan tidak menjadi beban tambahan saat usaha sedang pulih.
3. Kinerja BSI
Dari sisi kinerja BSI, kebijakan ini memang menaikkan FaR. Namun, bank tetap menjaga kualitas portofolio dan kesehatan keuangan secara keseluruhan. Langkah antisipatif seperti penguatan pencadangan menunjukkan bahwa risiko ini dikelola secara profesional.
Strategi BSI Menghadapi Lonjakan FaR
Langkah BSI dalam menghadapi lonjakan FaR tidak hanya berhenti pada pencadangan. Bank juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap portofolio di wilayah terdampak, khususnya Aceh.
1. Evaluasi Portofolio di Aceh
Saat ini, BSI masih dalam tahap evaluasi terhadap kondisi portofolio di Aceh. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa risiko yang muncul bisa dikelola secara tepat dan tidak berdampak luas ke portofolio nasional.
2. Fokus Impairment pada Wilayah Terdampak
Pencadangan impairment saat ini lebih difokuskan pada wilayah Aceh. Ini menunjukkan bahwa BSI mengambil pendekatan yang selektif dan terarah dalam mengelola risiko.
3. Menjaga Keseimbangan Ekspansi dan Risiko
Meski FaR naik, BSI tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan kualitas aset. Ini menunjukkan bahwa bank tidak mengorbankan pertumbuhan demi menghindari risiko, tapi justru mengelolanya secara profesional.
Tabel: Rincian Data Pembiayaan dan Impairment BSI 2025–2026
| Parameter | 2024 | 2025 | Februari 2026 |
|---|---|---|---|
| Total Pembiayaan | – | Rp 318,84 triliun | – |
| Pertumbuhan Pembiayaan YoY | – | 14,49% | – |
| NPF Gross | 1,9% | 1,81% | – |
| Impairment | Rp 1,99 triliun | Rp 2,46 triliun | Rp 439,37 miliar |
| FaR | 7% (rata-rata) | 9,2% | – |
Catatan: Data dapat berubah sewaktu-waktu sesuai evaluasi internal BSI.
Kesimpulan
Lonjakan FaR di BSI pada akhir 2025 memang terjadi akibat kebijakan relaksasi untuk masyarakat terdampak bencana di Aceh. Namun, langkah mitigasi yang diambil, seperti penguatan pencadangan dan evaluasi portofolio, menunjukkan bahwa bank tetap menjaga kualitas aset dan kesehatan kinerja secara keseluruhan.
Kebijakan ini juga mencerminkan komitmen BSI terhadap keberlanjutan ekonomi masyarakat, khususnya di wilayah rawan bencana. Dengan pendekatan yang seimbang antara pertumbuhan dan risiko, BSI tetap menjadi salah satu bank syariah yang stabil dan responsif terhadap kondisi eksternal.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat informasional dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada evaluasi internal dan kondisi makroekonomi.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













