Harga minyak dunia kembali terperosok, turun sekitar 2 persen pada perdagangan Jumat pagi. Penurunan ini terjadi seiring dengan isu potensi pencabutan sanksi terhadap minyak Iran yang sedang dalam perjalanan laut. Langkah tersebut dipandang sebagai upaya pemerintah Amerika Serikat untuk menstabilkan harga energi yang sempat melonjak tajam akibat ketegangan di Timur Tengah.
Sentimen pasar juga terpengaruh oleh kemungkinan deeskalasi antara Amerika dan Israel terhadap Iran. Pernyataan dari pihak AS yang meminta Israel untuk menahan diri dari serangan terhadap infrastruktur energi Iran ikut memperlemah harga minyak. Investor tampaknya mulai mengantisipasi bahwa tekanan geopolitik yang selama ini mendorong kenaikan harga bisa mereda.
Harga Minyak Dunia Anjlok di Awal Pekan
Harga minyak Brent berjangka turun 2 persen menjadi USD106,48 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) berjangka juga terpuruk 2,1 persen ke level USD93,56 per barel. Meski begitu, kinerja mingguan kedua jenis minyak ini berbeda. Brent masih mencatat kenaikan 3,2 persen, sedangkan WTI justru mengalami kerugian hingga 3,3 persen.
Pergerakan harga ini mencerminkan volatilitas pasar yang tinggi. Sehari sebelumnya, Brent sempat melonjak hingga USD119 per barel. Namun, momentum bullish tergerus setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengisyaratkan rencana pencabutan sanksi terhadap minyak Iran. Langkah ini diperkirakan bisa menambah pasokan global sebanyak 140 juta barel.
3 Faktor Utama yang Mendorong Penurunan Harga Minyak
-
Rencana Pencabutan Sanksi terhadap Minyak Iran
Pernyataan dari pemerintah AS bahwa mereka mungkin mencabut sanksi terhadap minyak Iran yang sudah berada di laut menjadi pemicu utama penurunan harga. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk menambah pasokan global dan menekan harga. -
Isu Deeskalasi Konflik Iran-Israel
Washington meminta Israel untuk tidak melakukan serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Isyarat ini membuat pasar minyak bereaksi negatif karena mengurangi ekspektasi gangguan pasokan jangka panjang. -
Penguatan Dolar AS
Meskipun tidak disebut secara langsung dalam laporan, penguatan mata uang AS juga turut menekan harga komoditas dalam dolar, termasuk minyak mentah.
Konflik Iran-Israel Makin Memanas
Tegangan di Timur Tengah terus memanas. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Iran tidak memiliki kemampuan untuk memperkaya uranium atau memproduksi rudal balistik. Ia juga mengklaim bahwa Israel bertindak sendiri saat menyerang South Pars, ladang gas terbesar di dunia yang berlokasi di Iran.
Serangan tersebut memicu respons sengit dari Iran. Teheran menargetkan beberapa lokasi energi di kawasan, terutama di Timur Tengah. Garda Revolusi Iran bahkan belum menunjukkan tanda-tanda akan mengurangi intensitas serangan mereka.
Iran juga terus memblokir Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi lewatinya sebagian besar ekspor minyak global. Blokade ini berdampak langsung pada aliran minyak dan gas ke pasar internasional, terutama untuk negara-negara Asia.
Perbandingan Harga Minyak Brent dan WTI (Per 20 Maret 2026)
| Jenis Minyak | Harga Hari Ini | Perubahan (%) | Kinerja Mingguan |
|---|---|---|---|
| Brent | USD106,48 | -2,0% | +3,2% |
| WTI | USD93,56 | -2,1% | -3,3% |
Data di atas menunjukkan bahwa meskipun keduanya mengalami penurunan pada hari itu, tren mingguan mereka berbeda. Brent masih menunjukkan pertumbuhan, sementara WTI justru terkoreksi cukup dalam.
5 Dampak Penurunan Harga Minyak terhadap Ekonomi Global
-
Biaya Produksi Lebih Rendah
Penurunan harga minyak berdampak langsung pada biaya produksi berbagai industri, terutama yang bergantung pada energi fosil. -
Inflasi Global Cenderung Turun
Harga energi yang lebih murah membantu menekan laju inflasi di banyak negara, terutama yang mengimpor minyak. -
Keuntungan untuk Negara Importir
Negara-negara pengimpor minyak seperti Jepang, India, dan negara Eropa bisa merasakan tekanan defisit neraca perdagangan yang lebih ringan. -
Tekanan pada Negara Eksportir
Sebaliknya, negara eksportir minyak seperti Arab Saudi, Rusia, dan Nigeria mungkin akan mengalami penurunan pendapatan negara. -
Investor Lebih Optimis
Harga energi yang stabil dan terkendali bisa meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar saham dan obligasi.
Apa Selanjutnya untuk Harga Minyak?
Pergerakan harga minyak ke depan akan sangat bergantung pada dua faktor utama: perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan energi dari pemerintah besar seperti AS dan China. Jika ketegangan antara Iran dan Israel mereda, harga bisa terus tertekan. Namun, jika konflik kembali memanas, lonjakan harga bisa terjadi lagi dalam waktu singkat.
Investor dan pelaku pasar juga akan terus memantau kebijakan AS terkait sanksi terhadap Iran. Jika rencana pencabutan sanksi benar-benar diterapkan, pasokan global akan bertambah dan harga bisa terus turun. Namun, jika langkah itu ditunda atau dibatalkan, tekanan pada harga minyak bisa kembali meningkat.
Disclaimer
Data harga minyak dan informasi geopolitik dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi global. Harga komoditas sangat rentan terhadap fluktuasi pasar, sehingga pembaca disarankan untuk selalu merujuk pada sumber terpercaya untuk informasi terkini.
Fadhly Ramadan adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang finansial, investasi, dan bisnis.













