Premi bancassurance di Indonesia mencatatkan penurunan sebesar 5,2% pada tahun 2025, turun dari Rp81,10 triliun menjadi Rp76,91 triliun secara year-on-year. Angka ini mencerminkan perlambatan pertumbuhan di salah satu kanal distribusi utama industri asuransi jiwa.
Penurunan ini dipicu oleh melemahnya permintaan terhadap produk asuransi yang dikaitkan investasi atau unit-linked. Produk ini selama ini menjadi andalan utama bancassurance dalam menarik minat nasabah melalui kerja sama dengan sektor perbankan.
Penyebab Penurunan Premi Bancassurance
-
Penurunan Penjualan Unit-Linked
Produk unit-linked memang menjadi pilar utama dalam strategi bancassurance. Namun, tren investasi yang tidak stabil serta ketidakpastian pasar keuangan membuat minat masyarakat terhadap produk ini mulai surut. -
Ketidakpastian Makroekonomi
Kondisi ekonomi global dan likuiditas yang ketat berdampak pada daya beli masyarakat. Hal ini secara langsung memengaruhi keputusan nasabah untuk membeli produk asuransi berbasis investasi. -
Ketergantungan pada Kinerja Sektor Perbankan
Bancassurance sangat bergantung pada kinerja institusi perbankan mitranya. Jika sektor perbankan melambat, maka distribusi produk asuransi juga ikut terdampak.
Respons AAJI dan Regulator
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah merevisi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) terkait unit-linked. Tujuannya agar produk ini bisa kembali diminati dan berkontribusi positif terhadap premi bancassurance.
Albertus Wiroyo, Ketua Dewan Pengurus AAJI, menyatakan bahwa unit-linked masih memiliki potensi pasar yang besar. Dengan regulasi yang lebih responsif dan edukasi yang lebih baik, produk ini bisa kembali tumbuh.
Perbandingan Premi Kanal Distribusi Asuransi Jiwa (2023–2025)
| Kanal Distribusi | 2023 | 2024 | 2025 | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| Bancassurance | Rp76,73 triliun | Rp81,10 triliun | Rp76,91 triliun | Turun 5,2% YoY |
| Keagenan | Rp57,30 triliun | Rp57,55 triliun | Rp58,40 triliun | Naik 1,5% YoY |
| Alternatif | Rp43,72 triliun | Rp46,03 triliun | Rp45,96 triliun | Stagnan |
| Total Industri | Rp177,75 triliun | Rp184,68 triliun | Rp181,27 triliun | Turun 1,8% YoY |
Meski bancassurance mengalami penurunan, kanal ini tetap menjadi kontributor terbesar terhadap total premi industri asuransi jiwa. Sementara itu, kanal keagenan menunjukkan pertumbuhan positif, meski kontribusinya masih di bawah bancassurance.
Potensi Pemulihan di 2026
Handojo G Kusuma, Ketua Bidang Pengembangan & Pelatihan SDM AAJI, menyebut bahwa likuiditas ketat di tahun lalu turut menyebabkan perlambatan di sektor perbankan. Ini berdampak langsung pada distribusi produk asuransi melalui kanal bancassurance.
Namun, optimisme mulai bangkit. Dengan adanya upaya revisi regulasi dan peningkatan literasi keuangan, diharapkan kontribusi bancassurance bisa pulih di tahun 2026.
Fokus pada Edukasi dan Perlindungan Jiwa
AAJI terus menekankan pentingnya perlindungan jiwa sebagai kebutuhan dasar. Perlindungan ini bukan lagi kebutuhan nomor dua atau tiga, melainkan prioritas utama dalam pengelolaan keuangan keluarga.
Mindset masyarakat perlu bergeser. Setiap pemasukan sebaiknya dialokasikan sebagian untuk proteksi. Ini bukan soal tabungan atau investasi semata, tapi tentang menjaga keberlanjutan finansial keluarga.
Strategi Jangka Panjang AAJI
-
Peningkatan Literasi Keuangan
Edukasi masyarakat menjadi fokus utama agar lebih memahami manfaat asuransi jiwa, bukan hanya sebagai produk investasi. -
Kolaborasi dengan Regulator dan Akademisi
Sinergi ini penting untuk menciptakan regulasi yang lebih adaptif dan produk yang lebih ramah konsumen. -
Diversifikasi Produk Asuransi
Selain unit-linked, pengembangan produk proteksi murni dan hybrid menjadi fokus agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Proyeksi Industri Asuransi Jiwa
Meski menghadapi tantangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, industri asuransi jiwa di Indonesia masih memiliki prospek yang positif. Pasar domestik yang besar menjadi modal kuat untuk terus tumbuh.
AAJI memproyeksikan jumlah tertanggung akan terus meningkat seiring dengan peningkatan kesadaran akan pentingnya proteksi finansial. Apalagi, dengan populasi muda dan penetrasi asuransi yang masih rendah, potensi pasar masih sangat besar.
Disclaimer
Data dan proyeksi yang disajikan dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi terkini dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Angka-angka bisa berubah seiring perkembangan regulasi, kondisi ekonomi, dan dinamika pasar.
Rista Wulandari adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis senior berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, industri, dan telekomunikasi.






