Pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2025 mencatatkan angka yang cukup positif, yakni 5,11% secara year-on-year. Angka ini menunjukkan bahwa meski berada di tengah ketidakpastian global, ekonomi nasional tetap mampu bertahan dan bahkan tumbuh. Salah satu pendorong utamanya adalah sektor perbankan yang terus menyalurkan kredit, terutama ke sektor-sektor prioritas pemerintah.
Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa ruang penyaluran kredit masih terbuka lebar. Dengan likuiditas perbankan yang terjaga dan dukungan kebijakan makroprudensial yang akomodatif, BI optimistis bahwa intermediasi perbankan akan terus berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi di tahun 2026.
Potensi Kredit Masih Terjaga
Pertumbuhan kredit perbankan pada Desember 2025 mencapai 9,69% (yoy), dan terus menunjukkan tren positif di awal 2026. Pada Januari 2026 saja, pertumbuhan kredit sudah mencapai 9,96% (yoy). Angka ini menunjukkan bahwa permintaan kredit belum sepenuhnya pulih, tetapi kapasitas perbankan untuk menyalurkan pinjaman masih sangat besar.
-
Undisbursed Loan Capai Rp2.506 Triliun
Fasilitas pinjaman yang belum disalurkan oleh perbankan pada Januari 2026 mencapai Rp2.506,47 triliun. Angka ini setara dengan 22,65% dari total plafon kredit yang tersedia. Ini menunjukkan bahwa potensi penyaluran kredit masih sangat besar. -
Kebijakan Likuiditas Makroprudensial Diperkuat
BI telah memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang berbasis kinerja dan berorientasi ke depan. Hingga minggu pertama Februari 2026, insentif yang telah disalurkan mencapai Rp427,5 triliun.
Faktor Pendukung Pertumbuhan Kredit
Dalam mendorong penyaluran kredit yang lebih efektif, BI menggarisbawahi pentingnya sinergi antarlembaga. Kolaborasi dengan pemerintah dan otoritas terkait dalam kerangka KSSK (Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan) menjadi kunci utama dalam membangun optimisme pasar.
-
Penurunan Suku Bunga Kredit
BI mengimbau perbankan untuk menyesuaikan special rate agar suku bunga kredit bisa turun lebih cepat. Penurunan ini diharapkan dapat meningkatkan daya serap masyarakat terhadap kredit, terutama di sektor produktif. -
Peningkatan Transmisi Kebijakan
Sinergi lintas sektor juga penting untuk memastikan bahwa kebijakan yang dikeluarkan BI bisa dirasakan langsung oleh pelaku usaha dan masyarakat luas. Dengan begitu, roda perekonomian bisa berputar lebih cepat.
Target dan Proyeksi Kredit Tahun 2026
BI memperkirakan pertumbuhan kredit pada tahun 2026 akan berada di kisaran 8% hingga 12% (yoy). Proyeksi ini sejalan dengan kondisi likuiditas perbankan yang masih memadai serta peningkatan kapasitas intermediasi.
-
Intermediasi Diprakirakan Stabil
Intermediasi perbankan diproyeksikan akan tetap solid sepanjang 2026. Ini mencerminkan bahwa perbankan tidak hanya sehat secara likuiditas, tetapi juga mampu menyalurkan kredit secara efektif. -
Kredit ke Sektor Prioritas Dipacu
Penyaluran kredit akan terus diarahkan ke sektor-sektor prioritas seperti infrastruktur, pertanian, dan industri kecil menengah (IKM). Ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong inklusi ekonomi dan pemerataan pembangunan.
Peran Kebijakan Makroprudensial
Kebijakan makroprudensial yang diterapkan BI tidak hanya bertujuan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, tetapi juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
-
KLM Berbasis Kinerja
Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) yang diperkuat berfokus pada kinerja bank dan orientasi ke depan. Ini membuat perbankan lebih aktif dalam menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif. -
Pengawasan yang Ketat
BI terus melakukan pengawasan ketat terhadap risiko sistemik yang dapat muncul dari ketidakseimbangan penyaluran kredit atau fluktuasi suku bunga pasar.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski prospek penyaluran kredit terlihat cerah, sejumlah tantangan tetap harus diwaspadai. Permintaan kredit dari sektor konsumer masih terbilang lesu, terutama di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.
-
Permintaan Konsumer Masih Lambat
Meski kredit ke sektor produktif meningkat, permintaan dari sektor konsumer belum sepenuhnya pulih. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi BI dalam memastikan bahwa pertumbuhan kredit benar-benar mendorong ekonomi secara menyeluruh. -
Ketidakpastian Global
Fragmentasi ekonomi dunia dan ketegangan geopolitik masih menjadi risiko yang bisa memengaruhi stabilitas keuangan nasional. BI terus waspada dan menyesuaikan kebijakan untuk menjaga ketahanan sistem keuangan.
Sinergi dengan Pemerintah dan Otoritas Terkait
Untuk memastikan bahwa kredit bisa menopang pertumbuhan ekonomi secara maksimal, BI terus menjalin sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait lainnya. Kolaborasi ini penting untuk membangun keyakinan pasar dan mendorong investasi jangka panjang.
-
Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)
Melalui KSSK, BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Kementerian Keuangan terus berkoordinasi untuk memastikan bahwa kebijakan keuangan nasional berjalan seimbang dan efektif. -
Dorong Investasi dan Produktivitas
Kebijakan penyaluran kredit yang tepat sasaran diharapkan bisa mendorong investasi di sektor riil, sehingga produktivitas ekonomi nasional meningkat secara berkelanjutan.
Kesimpulan
Ruang penyaluran kredit di Indonesia masih sangat terbuka. Dengan dukungan likuiditas yang memadai dan kebijakan makroprudensial yang tepat sasaran, BI optimistis bahwa kredit bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi lebih tinggi di tahun 2026. Namun, tetap dibutuhkan sinergi antarlembaga dan pengawasan ketat untuk memastikan bahwa penyaluran kredit berjalan efektif dan inklusif.
Disclaimer: Data dan angka yang disajikan dalam artikel ini bersifat simulasi berdasarkan informasi yang tersedia hingga Februari 2026. Angka-angka ini dapat berubah seiring perkembangan ekonomi dan kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak terkait.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













