Penurunan suku bunga terus menjadi sorotan di tengah upaya Bank Indonesia untuk mendorong pertumbuhan kredit. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa transmisi kebijakan moneter masih berjalan, namun belum sepenuhnya optimal. Oleh karena itu, BI mendorong perbankan untuk menurunkan suku bunga secara lebih agresif, baik di sisi dana maupun kredit.
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap likuiditas yang relatif longgar namun belum sepenuhnya mendorong ekspansi kredit secara signifikan. BI mencatat, sejak awal 2025 hingga Maret 2026, suku bunga deposito tenor satu bulan turun 62 basis poin, dari 4,81% menjadi 4,19%. Sementara suku bunga kredit turun 44 basis poin, dari 9,20% menjadi 8,76%. Meski begitu, BI menilai masih ada ruang untuk penurunan lebih lanjut.
Penurunan Suku Bunga Jadi Kunci Stimulus Kredit
Penurunan suku bunga bukan sekadar angka. Ini adalah instrumen penting untuk mendorong aktivitas ekonomi lewat peningkatan kredit perbankan. BI memandang bahwa likuiditas yang tinggi belum sepenuhnya berbanding lurus dengan pertumbuhan kredit. Artinya, bank masih "pelit" menyalurkan dana meski dana murah tersedia dalam jumlah besar.
Salah satu penyebabnya adalah ketergantungan bank pada special rate untuk menarik dana besar. BI mencatat, porsi special rate masih mencapai 26,30% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK). Ini menunjukkan bahwa sebagian besar dana masih ditarik dengan suku bunga tinggi, yang pada akhirnya membebani biaya dana bank.
1. Koordinasi Tekan Special Rate untuk Turunkan Biaya Dana
Langkah pertama yang diambil BI adalah memperkuat koordinasi dengan perbankan untuk menekan porsi special rate. Dengan mengurangi ketergantungan pada suku bunga tinggi untuk menarik dana besar, BI berharap biaya dana bank bisa turun secara signifikan.
Penurunan biaya dana ini diharapkan menjadi pendorong utama bagi penurunan suku bunga kredit. Saat biaya dana rendah, bank punya lebih banyak ruang untuk menurunkan suku bunga pinjaman tanpa mengorbankan margin keuntungan.
2. Dorong Penyaluran Kredit Lebih Efektif
Langkah kedua adalah mendorong penyaluran kredit yang lebih efektif. BI tidak hanya ingin suku bunga turun, tapi juga ingin kredit benar-benar tersalurkan ke sektor riil. Ini penting agar stimulus moneter tidak hanya menjadi angka di buku, tapi benar-benar dirasakan oleh pelaku usaha dan konsumen.
BI juga terus memberikan insentif likuiditas kepada bank yang aktif menyalurkan kredit. Program ini telah menyalurkan dana hingga Rp 427,1 triliun. Namun, BI menyadari bahwa penyaluran kredit masih terbatas. Salah satu penyebabnya adalah belum meratanya transmisi kebijakan moneter ke tingkat lapangan.
3. Tingkatkan Efisiensi Intermediasi Perbankan
Langkah ketiga adalah meningkatkan efisiensi intermediasi perbankan. Intermediasi adalah proses bank menampung dana dari masyarakat dan menyalurkannya sebagai kredit. Semakin efisien proses ini, semakin besar dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi.
BI berharap, dengan penurunan suku bunga yang lebih agresif, bank akan lebih termotivasi untuk menyalurkan dana. Likuiditas yang longgar menjadi peluang, bukan beban. Namun, ini membutuhkan komitmen kuat dari perbankan untuk tidak hanya menimbun likuiditas, tapi juga menggerakkan roda kredit.
Perbandingan Suku Bunga Sebelum dan Sesudah Penurunan
| Jenis Suku Bunga | Awal Januari 2025 | Maret 2026 | Penurunan |
|---|---|---|---|
| Deposito (1 bulan) | 4,81% | 4,19% | 62 bps |
| Kredit Rata-rata | 9,20% | 8,76% | 44 bps |
Catatan: Data bersifat estimasi dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dinamika kebijakan moneter dan kondisi makro ekonomi.
Faktor Penghambat Transmisi Suku Bunga
Meski BI telah menurunkan suku bunga acuan, transmisi ke tingkat lapangan masih menghadapi beberapa hambatan. Salah satunya adalah perilaku bank yang cenderung konservatif dalam menyalurkan kredit. Banyak bank masih memilih menyimpan likuiditas daripada menyalurkan pinjaman karena risiko kredit yang tinggi.
Selain itu, permintaan kredit dari pelaku usaha juga belum sepenuhnya pulih. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan dinamika harga komoditas, banyak pengusaha masih menahan diri untuk mengajukan pinjaman.
1. Risiko Kredit yang Tinggi
Salah satu alasan utama bank enggan menurunkan suku bunga kredit secara agresif adalah risiko kredit yang tinggi. Dalam kondisi ekonomi yang belum stabil, bank cenderung lebih hati-hati dalam menyalurkan pinjaman. Ini menyebabkan penurunan suku bunga belum berdampak langsung pada peningkatan volume kredit.
2. Keterbatasan Permintaan dari Pelaku Usaha
Permintaan kredit dari pelaku usaha juga belum pulih sepenuhnya. Banyak perusahaan masih menahan diri untuk mengajukan pinjaman karena ketidakpastian ekonomi global. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi BI dalam mendorong pertumbuhan kredit.
3. Kebijakan Fiskal yang Belum Sinkron
Sinkronisasi antara kebijakan moneter dan fiskal juga menjadi faktor penting. Jika kebijakan fiskal tidak mendukung, stimulus dari BI bisa kurang efektif. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk memastikan bahwa kebijakan anggaran dan investasi mendukung pertumbuhan kredit.
Strategi Jangka Panjang BI untuk Mendorong Kredit
Bank Indonesia tidak hanya mengandalkan penurunan suku bunga, tapi juga mengembangkan strategi jangka panjang. Salah satunya adalah melalui digitalisasi layanan perbankan dan penguatan infrastruktur keuangan. BI juga terus mendorong inklusi keuangan agar lebih banyak masyarakat yang bisa mengakses layanan perbankan.
Selain itu, BI juga berupaya meningkatkan literasi keuangan. Dengan masyarakat yang lebih paham tentang produk perbankan, diharapkan permintaan kredit bisa meningkat secara organik.
1. Digitalisasi Layanan Perbankan
Digitalisasi menjadi salah satu fokus utama BI dalam mendukung pertumbuhan kredit. Dengan layanan yang lebih mudah dan cepat, bank bisa menjangkau lebih banyak nasabah. Ini juga membantu mengurangi biaya operasional bank, yang pada akhirnya bisa diterjemahkan ke dalam suku bunga yang lebih kompetitif.
2. Penguatan Infrastruktur Keuangan
Infrastruktur keuangan yang kuat menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan kredit. BI terus memperkuat sistem pembayaran dan jaringan perbankan agar lebih merata, terutama di daerah terpencil. Ini membantu mendorong inklusi keuangan dan meningkatkan akses terhadap kredit.
3. Literasi Keuangan untuk Masyarakat
Literasi keuangan juga menjadi bagian dari strategi BI. Dengan masyarakat yang lebih paham tentang pentingnya kredit dan cara mengelola pinjaman, BI berharap permintaan kredit bisa meningkat secara berkelanjutan.
Kesimpulan
Bank Indonesia terus mendorong penurunan suku bunga secara lebih agresif untuk mendorong pertumbuhan kredit. Meski sudah ada kemajuan, transmisi kebijakan moneter masih menghadapi tantangan. Dengan strategi yang komprehensif, BI berharap likuiditas yang longgar bisa benar-benar mendorong ekspansi kredit dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, perlu dicatat bahwa data dan kebijakan yang disebutkan dalam artikel ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi makro ekonomi serta arah kebijakan Bank Indonesia ke depan.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













