Finansial

Bank Mandiri Waspadai Gejolak Global dengan Perketat Penyaluran Kredit dan Perkuat Likuiditas 2026

Retno Ayuningrum
×

Bank Mandiri Waspadai Gejolak Global dengan Perketat Penyaluran Kredit dan Perkuat Likuiditas 2026

Sebarkan artikel ini
Bank Mandiri Waspadai Gejolak Global dengan Perketat Penyaluran Kredit dan Perkuat Likuiditas 2026

mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 1.764,32 triliun pada September 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan yang positif, namun di balik pencapaian tersebut, bank pelat merah ini mulai menerapkan kebijakan yang lebih ketat dalam menyalurkan kredit. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap potensi gejolak ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.

Langkah pencegahan ini juga sejalan dengan upaya penguatan likuiditas. Dengan memperkuat posisi kas dan aset likuid lainnya, Bank Mandiri ingin memastikan operasional tetap berjalan lancar meski terjadi goncangan dari luar. Kebijakan ini mencerminkan strategi jangka panjang yang tidak hanya fokus pada pertumbuhan, tapi juga pada ketahanan dan keberlanjutan bisnis perbankan.

Pengetatan Kredit, Langkah Strategis di Tengah Ketidakpastian Global

global yang masih rentan terhadap berbagai tekanan, seperti kenaikan suku bunga di negara maju dan ketidakpastian geopolitik, membuat Bank Mandiri harus lebih selektif dalam menyalurkan kredit. Ini bukan berarti pertumbuhan dihentikan, melainkan dikelola dengan lebih hati-hati agar risiko tetap terjaga.

Bank Mandiri juga tidak sendirian dalam langkah ini. Banyak bank besar di Indonesia mulai menyesuaikan kebijakan kreditnya seiring dengan ketatnya likuiditas global dan potensi perlambatan ekonomi dunia. Namun, Bank Mandiri tampak lebih proaktif dalam menyesuaikan strategi operasionalnya.

1. Evaluasi Risiko Kredit Secara Berkala

Salah satu langkah awal yang dilakukan adalah evaluasi risiko secara menyeluruh terhadap calon penerima kredit. Evaluasi ini mencakup kemampuan bayar, riwayat kredit, serta kondisi sektor usaha yang digeluti. Dengan pendekatan ini, bank bisa meminimalkan potensi kredit bermasalah di .

2. Peningkatan Syarat Kelayakan Peminjam

Bank Mandiri juga mulai meningkatkan standar kelayakan calon debitur. Syarat dokumen yang lebih lengkap dan analisis finansial yang lebih mendalam menjadi bagian dari proses seleksi yang ketat. Ini dilakukan agar hanya peminjam yang benar-benar layak yang mendapatkan akses ke .

3. Diversifikasi Portofolio Kredit

Alih-alih fokus pada satu sektor, Bank Mandiri memilih untuk mendiversifikasi portofolio kreditnya. Dengan menyebar risiko ke berbagai sektor, seperti ritel, korporasi, UMKM, dan infrastruktur, bank ini bisa mengurangi dampak jika salah satu sektor mengalami tekanan.

Penguatan Likuiditas, Jaminan Stabilitas Jangka Pendek

Di sisi lain, penguatan likuiditas menjadi fokus utama agar operasional tetap stabil meski terjadi gejolak pasar. Likuiditas yang kuat memungkinkan bank untuk tetap bisa memenuhi kewajiban jangka pendek, termasuk penarikan dana nasabah dan pembayaran .

1. Penyesuaian Alokasi Aset

Bank Mandiri melakukan penyesuaian alokasi aset untuk memastikan porsi likuid tidak terlalu kecil. Aset-aset yang mudah dicairkan, seperti surat berharga negara dan deposito antarbank, ditingkatkan alokasinya. Ini memberikan cadangan yang cukup untuk menghadapi permintaan likuiditas mendadak.

2. Optimalisasi Dana Pihak Ketiga

Dana pihak ketiga (DPK) tetap menjadi tulang punggung likuiditas bank. Bank Mandiri terus mengembangkan produk-produk tabungan dan deposito yang menarik untuk menjaga laju pertumbuhan DPK. Dengan begitu, sumber dana internal tetap terjaga dan tidak terlalu bergantung pada pasar uang eksternal.

3. Pengelolaan Utang yang Lebih Ketat

Bank Mandiri juga memperhatikan struktur utangnya. Jatuh tempo utang yang terlalu bisa menjadi beban likuiditas. Oleh karena itu, bank ini mengatur jadwal pembayaran utang agar lebih merata dan tidak membebani kas dalam waktu bersamaan.

Perbandingan Kinerja Kredit Bank Mandiri (2023–2025)

Untuk melihat gambaran lebih jelas, berikut adalah perbandingan penyaluran kredit Bank Mandiri dalam tiga tahun terakhir:

Tahun Total Penyaluran Kredit Pertumbuhan Tahunan Catatan Kebijakan
2023 Rp 1.582,40 triliun 9,2% Fokus pada UMKM dan ritel
2024 Rp 1.678,55 triliun 6,1% Mulai pengetatan kredit korporasi
2025 Rp 1.764,32 triliun 5,1% Peningkatan syarat kredit & penguatan likuiditas

Dari tabel di atas, terlihat bahwa meskipun pertumbuhan kredit melambat, Bank Mandiri tetap mencatatkan peningkatan setiap tahun. Penurunan laju pertumbuhan seiring dengan kebijakan yang lebih ketat, namun hal ini dianggap wajar sebagai langkah antisipatif.

Sektor Prioritas yang Masih Mendapat Perhatian

Meski secara umum kredit diperketat, ada beberapa sektor yang tetap menjadi prioritas. Sektor tersebut dianggap memiliki risiko rendah dan prospek yang cukup baik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Infrastruktur dan Proyek Pemerintah

Proyek infrastruktur yang didukung langsung oleh pemerintah menjadi salah satu sektor yang tetap mendapat perhatian. Proyek ini dinilai memiliki risiko kecil karena didukung anggaran negara dan memiliki jaminan yang kuat.

UMKM dan Ekonomi Produktif

UMKM juga tetap menjadi fokus utama. Bank Mandiri terus mengembangkan program kredit mikro yang mudah diakses oleh pelaku usaha kecil. Ini sejalan dengan program pemerintah untuk mendorong inklusi keuangan dan penguatan ekonomi produktif.

Ritel dan Konsumsi

Sektor ritel dan konsumsi masih menjadi andalan pertumbuhan kredit. Produk kredit kendaraan bermotor, , dan kartu kredit terus dikembangkan dengan syarat yang lebih fleksibel namun tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Strategi Jangka Panjang Menuju Ketahanan Keuangan

Langkah-langkah yang diambil Bank Mandiri saat ini bukan sekadar respons jangka pendek. Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun yang lebih kuat. Dengan likuiditas yang terjaga dan portofolio kredit yang sehat, bank ini siap menghadapi berbagai di masa depan.

Pemanfaatan Teknologi dalam Pengawasan Risiko

Teknologi menjadi alat penting dalam mempercepat proses evaluasi risiko. Dengan sistem analisis data yang canggih, Bank Mandiri bisa lebih cepat mengenali potensi risiko dan mengambil langkah pencegahan sebelum terlambat.

Kolaborasi dengan Regulator

Bank Mandiri juga terus menjalin komunikasi erat dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia. ini penting untuk memastikan kebijakan yang diambil selaras dengan arah kebijakan makroprudensial nasional.

Disclaimer

Data dan kebijakan yang disebutkan dalam artikel ini bersifat terbuka dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi ekonomi dan regulasi yang berlaku. Pembaca disarankan untuk merujuk pada sumber resmi untuk informasi terkini.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.