Permata Bank mencatatkan laba bersih sebesar Rp 697 miliar hingga Februari 2026. Angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 820,63 miliar. Meski demikian, pencapaian ini tetap menunjukkan bahwa bank yang berfokus pada segmen menengah ke bawah masih mampu bertahan di tengah tekanan makro ekonomi yang berlangsung sepanjang tahun.
Penurunan laba bersih tidak serta merta menunjukkan kinerja buruk. Sebaliknya, ini lebih dipengaruhi oleh alokasi impairment yang cukup besar pada periode ini. Beban impairment yang tercatat mencapai Rp 197,55 miliar, naik signifikan dari Rp 24,26 miliar pada Februari 2025. Alokasi ini menjadi salah satu faktor utama yang menyusutkan laba operasional bank.
Penyebab Penurunan Laba Bersih Permata Bank
1. Penurunan Pendapatan Bunga Bersih (NII)
Pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) Permata Bank mengalami koreksi sebesar 3,45% secara tahunan menjadi Rp 1,6 triliun. Penurunan ini sejalan dengan turunnya pendapatan bunga secara keseluruhan sebesar 8,28% menjadi Rp 2,56 triliun. Kondisi ini mencerminkan tantangan dalam mempertahankan spread bunga di tengah fluktuasi suku bunga acuan Bank Indonesia.
2. Lonjakan Beban Impairment
Beban impairment yang dialokasikan bank naik hampir delapan kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu. Impairment merupakan cadangan yang dibuat untuk mengantisipasi risiko kredit macet. Lonjakan ini menunjukkan bahwa bank lebih waspada terhadap kualitas portofolio kreditnya, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi.
3. Kenaikan Beban Operasional
Beban operasional Permata Bank naik 20,03% secara tahunan menjadi Rp 718,95 miliar. Lonjakan ini sebagian besar dipicu oleh peningkatan biaya teknologi dan investasi pada layanan digital. Meski terasa berat di short term, pengeluaran ini diharapkan bisa meningkatkan efisiensi jangka panjang.
Kinerja Pendapatan Non-Bunga Permata Bank
Meski pendapatan bunga terkoreksi, sisi pendapatan non-bunga justru menunjukkan performa positif. Pendapatan dari komisi, provisi, fee, dan administrasi naik 2,94% secara tahunan menjadi Rp 280,26 miliar. Ini menunjukkan bahwa bank terus mengembangkan bisnis non-interest income sebagai diversifikasi sumber pendapatan.
Pertumbuhan Kredit dan Dana Pihak Ketiga
1. Kredit Tumbuh 8,89% Secara Tahunan
Permata Bank berhasil menjaga pertumbuhan kredit yang sehat sebesar 8,89% menjadi Rp 136,67 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa permintaan kredit dari nasabah masih cukup tinggi, terutama dari segmen usaha kecil dan menengah yang menjadi fokus utama bank ini.
2. Aset Bank Naik Menjadi Rp 261,05 Triliun
Total aset bank juga mengalami pertumbuhan sebesar 2,06% secara tahunan. Peningkatan ini sejalan dengan penyaluran kredit yang terus meningkat dan optimalisasi struktur neraca bank.
3. Dana Pihak Ketiga Capai Rp 183,72 Triliun
Dana pihak ketiga (DPK) Permata Bank tumbuh tipis sebesar 1,54% menjadi Rp 183,72 triliun. Meski pertumbuhan tidak terlalu tinggi, komposisi DPK mengalami perubahan yang positif. Giro naik 17,64% menjadi Rp 71,5 triliun dan tabungan naik 8,77% menjadi Rp 46,86 triliun. Sementara itu, deposito justru turun 15,2% menjadi Rp 65,36 triliun.
Struktur Pendanaan yang Lebih Sehat
Penurunan deposito dan peningkatan giro serta tabungan menunjukkan bahwa bank berhasil menarik dana murah. Dana murah ini penting untuk menjaga spread bunga dan meningkatkan efisiensi biaya dana. Permata Bank berhasil menekan beban bunga sebesar 15,24% menjadi Rp 961,81 miliar, yang turut mendukung kinerja laba operasional.
Tabel Rincian Kinerja Keuangan Permata Bank per Februari 2026
| Indikator | Februari 2026 | Februari 2025 | Pertumbuhan (%) |
|---|---|---|---|
| Laba Bersih | Rp 697,03 miliar | Rp 820,63 miliar | -15,06% |
| NII | Rp 1,6 triliun | Rp 1,657 triliun | -3,45% |
| Pendapatan Bunga | Rp 2,56 triliun | Rp 2,79 triliun | -8,28% |
| Beban Bunga | Rp 961,81 miliar | Rp 1,134 triliun | -15,24% |
| Impairment | Rp 197,55 miliar | Rp 24,26 miliar | +714,3% |
| Beban Operasional | Rp 718,95 miliar | Rp 598,97 miliar | +20,03% |
| Laba Operasional | Rp 878,42 miliar | Rp 1,055 triliun | -16,78% |
| Kredit | Rp 136,67 triliun | Rp 125,51 triliun | +8,89% |
| Aset | Rp 261,05 triliun | Rp 255,79 triliun | +2,06% |
| DPK | Rp 183,72 triliun | Rp 180,94 triliun | +1,54% |
| Giro | Rp 71,5 triliun | Rp 60,78 triliun | +17,64% |
| Tabungan | Rp 46,86 triliun | Rp 43,08 triliun | +8,77% |
| Deposito | Rp 65,36 triliun | Rp 77,08 triliun | -15,2% |
Strategi Jangka Pendek Permata Bank
1. Fokus pada Efisiensi Operasional
Bank terus berupaya menekan biaya operasional melalui digitalisasi layanan dan optimalisasi jaringan cabang. Ini terlihat dari penurunan beban bunga yang cukup signifikan meski beban operasional naik akibat alokasi impairment.
2. Perkuat Segmentasi Nasabah
Permata Bank konsisten menggarap segmen usaha kecil dan menengah. Bank terus mengembangkan produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan nasabah di segmen ini, terutama dalam hal aksesibilitas dan kemudahan transaksi.
3. Tingkatkan Kualitas Aset
Dengan meningkatkan alokasi impairment, bank menunjukkan komitmen untuk menjaga kualitas portofolio kreditnya. Ini penting untuk meminimalkan risiko macet dan menjaga kepercayaan nasabah serta investor.
Proyeksi Kinerja ke Depan
Meski laba bersih terkoreksi di awal tahun, Permata Bank masih memiliki potensi untuk memperbaiki kinerjanya. Fokus pada efisiensi biaya, optimalisasi struktur pendanaan, dan pertumbuhan kredit yang sehat menjadi kunci utama pemulihan laba di kuartal-kuartal berikutnya.
Namun, tantangan makro ekonomi seperti fluktuasi suku bunga dan ketidakpastian global masih menjadi penghalang. Bank harus terus adaptif dan responsif terhadap perubahan kondisi pasar agar tetap bisa menjaga kinerja keuangan yang stabil.
Proyeksi Kinerja Ke depan
Meski laba bersih terkoreksi di awal tahun, Permata Bank masih memiliki potensi untuk tumbuh. Fokus pada efisiensi biaya, peningkatan kualitas aset, dan pengembangan sumber pendapatan non-bunga menjadi kunci utama dalam memperbaiki kinerja ke depan. Apalagi dengan komposisi DPK yang semakin sehat, bank memiliki fondasi yang kuat untuk mendukung pertumbuhan kredit berkelanjutan.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat simulatif dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi makro ekonomi serta kebijakan internal bank.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













