Pertumbuhan transaksi digital di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Pada Februari 2026, Bank Indonesia mencatat volume transaksi digital mencapai 4,67 miliar kali, naik 40,35% secara tahunan. Angka ini mencerminkan semakin tingginya adopsi teknologi pembayaran digital di tengah masyarakat dan pelaku usaha.
Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Lonjakan transaksi digital didukung oleh infrastruktur pembayaran yang terus diperkuat, termasuk sistem seperti BI-FAST dan QRIS. Selain itu, kebiasaan masyarakat yang semakin terbiasa dengan transaksi nontunai ikut mendorong pertumbuhan ini.
Pertumbuhan Transaksi Digital di Februari 2026
1. Volume Transaksi Digital Tembus 4,67 Miliar
Pada Februari 2026, volume transaksi digital mencapai 4,67 miliar transaksi. Angka ini meningkat tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan sebesar 40,35% menunjukkan bahwa ekosistem digital di Tanah Air semakin matang.
2. Mobile dan Internet Banking Masih Jadi Andalan
Transaksi melalui mobile banking dan internet banking tetap menjadi pilihan utama. Mobile banking tumbuh 9,49% secara tahunan, sedangkan internet banking naik 22,16%. Kedua saluran ini masih menjadi tulang punggung transaksi digital perbankan.
3. QRIS Catat Lonjakan Tertinggi
Salah satu bintang kemahalan dari ekosistem ini adalah QRIS. Pada Februari 2026, transaksi QRIS melonjak hingga 133,20% secara tahunan. Lonjakan ini didorong oleh semakin banyaknya merchant yang menerima pembayaran QRIS, terutama di kalangan UMKM.
Infrastruktur Pendukung Transaksi Digital
1. BI-FAST Proses 434 Juta Transaksi Ritel
Sistem BI-FAST menjadi tulang punggung transaksi ritel digital. Pada Februari 2026, sistem ini memproses 434 juta transaksi, naik 31,49% secara tahunan. Nilai transaksi yang terproses mencapai Rp1.092 triliun. Ini menunjukkan bahwa BI-FAST berhasil memfasilitasi transaksi kecil hingga menengah dengan cepat dan efisien.
2. BI-RTGS untuk Transaksi Besar Masih Stabil
Untuk transaksi bernilai besar, BI-RTGS tetap menjadi pilihan utama. Meski jumlah transaksi turun 5,33% menjadi 0,76 juta, nilai transaksi justru naik 9,19% menjadi mencapai Rp16.105 triliun. Ini menunjukkan bahwa BI-RTGS tetap andal dalam menangani transaksi skala besar.
3. Uang Kartal Masih Dibutuhkan
Meski transaksi digital naik, permintaan uang kartal juga meningkat. Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 15,78% secara tahunan, mencapai Rp1.287 triliun. Ini menunjukkan bahwa uang tunai masih memiliki peran penting, terutama di daerah-daerah tertentu.
Stabilitas dan Keandalan Sistem
Bank Indonesia memastikan bahwa stabilitas sistem pembayaran tetap terjaga. Infrastruktur pembayaran digital yang andal menjadi kunci utama dalam mendukung pertumbuhan transaksi. Interkoneksi antar pelaku industri juga terus ditingkatkan agar ekosistem semakin inklusif dan efisien.
1. Manajemen Risiko Teknologi
Ke depan, BI berkomitmen untuk terus memperkuat manajemen risiko dan keandalan teknologi. Ini penting mengingat semakin kompleksnya ancaman siber dan kebutuhan masyarakat akan keamanan data.
2. Persiapan Ramadan dan Idulfitri 1447 H
Bank Indonesia juga memastikan kelancaran transaksi selama Ramadan dan Idulfitri 1447 H. Langkah ini mencakup kesiapan sistem pembayaran nontunai dan penyediaan uang tunai yang cukup di seluruh wilayah Indonesia.
Perbandingan Pertumbuhan Transaksi Digital
| Jenis Transaksi | Pertumbuhan (YoY) | Volume/Nilai |
|---|---|---|
| Mobile Banking | 9,49% | 4,67 miliar transaksi |
| Internet Banking | 22,16% | – |
| QRIS | 133,20% | – |
| BI-FAST (ritel) | 31,49% | 434 juta transaksi |
| BI-RTGS (besar) | -5,33% (jumlah) | 0,76 juta transaksi |
| BI-RTGS (nilai) | 9,19% | Rp16.105 triliun |
| Uang Kartal | 15,78% | Rp1.287 triliun |
Catatan: Data bersifat estimasi berdasarkan rilis BI Februari 2026. Angka dapat berubah seiring evaluasi lebih lanjut.
Tantangan dan Prospek Ke Depan
Pertumbuhan transaksi digital yang tinggi membawa tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, BI harus terus memastikan keamanan dan keandalan sistem. Di sisi lain, ekosistem digital memberi peluang besar untuk inklusi keuangan yang lebih luas.
1. Regulasi Terbaru dan Adaptasi Teknologi
Implementasi regulasi terbaru menjadi salah satu fokus BI ke depan. Regulasi ini dirancang untuk menjaga stabilitas sistem sekaligus mendorong inovasi teknologi dalam ekosistem pembayaran.
2. Perluasan Jaringan QRIS ke Internasional
Langkah strategis lainnya adalah ekspansi QRIS ke pasar internasional. Pada kuartal pertama 2026, BI telah membawa QRIS ke China dan Korea Selatan. Ini membuka peluang ekspor jasa pembayaran digital dari Indonesia.
3. Dukungan untuk UMKM
UMKM menjadi salah satu pendorong utama transaksi QRIS. Bank Indonesia terus mendorong edukasi dan adopsi QRIS di kalangan pelaku usaha kecil agar mereka bisa menikmati manfaat transaksi digital.
Kesimpulan
Pertumbuhan transaksi digital sebesar 40,35% pada Februari 2026 menunjukkan bahwa Indonesia semakin siap menghadapi transformasi ekonomi digital. Dengan infrastruktur yang kuat dan regulasi yang adaptif, BI terus memastikan bahwa pertumbuhan ini berjalan stabil dan inklusif.
Namun, tantangan seperti keamanan siber dan inklusi daerah terpencil tetap harus diwaspadai. Dengan pendekatan yang tepat, ekosistem pembayaran digital Indonesia berpotensi menjadi salah satu yang terbaik di kawasan Asia Tenggara.
Disclaimer: Data dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi resmi BI per Februari 2026. Angka dapat berubah seiring evaluasi lebih lanjut oleh otoritas terkait.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













