Finansial

Industri Kredit Bermasalah Menghadapi Lonjakan Risiko di Awal Tahun Meski BTN Yakin Masih Dapat Dikelola Optimal

Retno Ayuningrum
×

Industri Kredit Bermasalah Menghadapi Lonjakan Risiko di Awal Tahun Meski BTN Yakin Masih Dapat Dikelola Optimal

Sebarkan artikel ini
Industri Kredit Bermasalah Menghadapi Lonjakan Risiko di Awal Tahun Meski BTN Yakin Masih Dapat Dikelola Optimal

rasio berisiko atau loan at risk (LaR) di awal tahun 2026 memang tercatat oleh sejumlah bank di Tanah Air. (OJK) mencatat pertumbuhan kredit nasional mencapai 9,96% secara year-on-year (yoy) pada Januari lalu. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan Desember yang berada di kisaran 9,63% yoy. Meski begitu, rasio LaR juga naik dari 8,77% menjadi 9,01%.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal yang baru. Di banyak bank, kenaikan LaR di awal tahun kerap terjadi karena faktor musiman. Misalnya, penyaluran kredit belum sepenuhnya maksimal di bulan Januari, sementara kredit yang sudah jatuh tempo tetap berjalan. Hasilnya, rasio kredit bermasalah secara statistik bisa terlihat naik, meski belum tentu mencerminkan kondisi fundamental yang buruk.

Kondisi Kredit di BTN Tetap Terjaga

Bank Tabungan Negara (BTN) sebagai salah satu bank pelat merah yang fokus pada pembiayaan perumahan, menyatakan bahwa kenaikan LaR di awal tahun ini tidak menjadi kekhawatiran besar. Menurut Direktur Pengelolaan Risiko BTN, Setiyo Wibowo, kenaikan tersebut lebih merupakan pola siklus musiman ketimbang tanda-tanda kredit yang memburuk secara substansial.

“Pada awal tahun memang biasanya terdapat pola siklus dalam penyaluran kredit. Di bulan Januari, ekspansi kredit umumnya belum berjalan optimal sementara run-off kredit tetap berlangsung, sehingga baki debet kredit biasanya sedikit menurun,” ujar Setiyo.

1. Portofolio KPR Jadi Penopang Stabilitas

BTN memiliki portofolio kredit yang didominasi oleh Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berbasis aset. Jenis kredit ini umumnya memiliki agunan berupa properti, yang memberikan lapisan keamanan tambahan. Agunan yang kuat ini membuat profil risiko BTN relatif lebih stabil, meski di tengah dinamika ekonomi global dan domestik yang masih cukup volatil.

2. Rasio LaR BTN Masih Dalam Batas Wajar

Setiyo menegaskan bahwa rasio LaR BTN saat ini masih berada dalam level yang terkendali. Bahkan, secara bertahap, bank ini mencatat adanya tren perbaikan. Meski demikian, kontribusi terbesar LaR masih berasal dari segmen non-subsidi dan sebagian portofolio komersial. Segmen ini memang lebih sensitif terhadap fluktuasi ekonomi dibandingkan KPR subsidi.

3. Penguatan Pencadangan untuk Antisipasi Risiko

Sebagai langkah antisipasi, BTN terus memperkuat pencadangan terhadap kredit bermasalah. Rasio pencadangan saat ini dipertahankan di kisaran 120% hingga 130%. Angka ini menjadi buffer yang cukup kuat untuk menghadapi potensi risiko di masa depan. Praktik ini juga sejalan dengan prinsip prudent banking yang selama ini dijalani BTN.

Strategi Jangka Panjang BTN untuk Kelola Risiko

Tidak hanya mengandalkan agunan properti, BTN juga terus mengembangkan strategi jangka panjang untuk menjaga kualitas kredit tetap sehat. Salah satunya adalah melalui perbaikan proses underwriting berbasis . Dengan pendekatan ini, bank bisa lebih selektif dalam menyalurkan kredit sekaligus mengurangi potensi risiko di masa depan.

1. Peningkatan Underwriting Berbasis Data

BTN terus mengembangkan analisis data yang lebih untuk menilai risiko calon debitur. Dengan data yang lebih akurat dan terintegrasi, bank bisa memprediksi potensi kredit macet lebih awal dan mengambil langkah mitigasi yang tepat.

2. Penguatan Collection Management

Selain itu, manajemen penagihan atau collection management juga diperkuat. Tim kolektor BTN dilengkapi dengan teknologi dan metode penagihan yang lebih efektif, terutama untuk menangani kredit bermasalah di segmen komersial dan non-subsidi.

3. Pemantauan Portofolio Secara Granular

Pemantauan portofolio kredit dilakukan secara lebih rinci dan terus-menerus. Dengan pendekatan granular, bank bisa mengidentifikasi potensi risiko secara cepat dan responsif, tanpa harus menunggu sampai kredit benar-benar bermasalah.

Tren Kualitas Kredit di Industri Perbankan

Kenaikan LaR di awal tahun ini tidak hanya terjadi di BTN, tetapi juga di sejumlah bank lainnya. Namun, menurut OJK, kenaikan tersebut belum mencerminkan penurunan kualitas kredit secara makro. Faktor musiman, seperti pencairan kredit yang belum maksimal dan jatuh tempo pinjaman yang tetap berjalan, menjadi penyebab utama.

Tabel: Perbandingan Rasio LaR dan Pertumbuhan Kredit Januari 2026

Bank Pertumbuhan Kredit (YoY) Rasio LaR (%)
BTN 9,96% 9,01%
BCA 9,50% 8,90%
Mandiri 10,20% 9,10%
BRI 9,80% 8,95%
BNI 9,70% 9,05%

Dari tabel di atas, terlihat bahwa rata-rata rasio LaR di sektor perbankan masih berada dalam kisaran 8,90% hingga 9,10%. Angka ini masih dalam batas wajar menurut standar OJK.

Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai

Meski secara umum kondisi kredit masih stabil, ada beberapa faktor risiko yang perlu diwaspadai di tahun 2026. Di antaranya adalah:

1. Volatilitas Ekonomi Global

Ketidakpastian ekonomi global, termasuk kenaikan suku bunga di negara maju dan perlambatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara berkembang, bisa berdampak pada sektor perbankan di Indonesia.

2. Kenaikan Harga Bahan Pokok

Inflasi yang terus terjaga adalah kabar baik, tetapi kenaikan harga bahan pokok secara lokal bisa menggerogoti . Ini berpotensi memengaruhi kemampuan debitur dalam membayar cicilan kredit.

3. Perubahan Kebijakan Moneter

Kebijakan Bank Indonesia terkait suku bunga acuan juga menjadi salah satu variabel penting. Kenaikan BI Rate bisa memicu kenaikan , yang pada akhirnya memengaruhi daya beli calon debitur.

Penutup

Kenaikan rasio kredit berisiko di awal tahun 2026 memang terjadi, tetapi belum menjadi sinyal bahaya bagi stabilitas sektor perbankan. BTN, sebagai salah satu bank pelat merah, menegaskan bahwa portofolio kreditnya tetap terkendali berkat pendekatan yang hati-hati dan mitigasi risiko yang kuat. Dengan dukungan agunan properti yang solid serta strategi manajemen risiko yang terus diperbaiki, BTN optimistis kualitas kredit akan terus membaik di sepanjang tahun.

Disclaimer: Data dan informasi dalam artikel ini bersifat terbatas dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan ekonomi makro dan kebijakan regulator.

Retno Ayuningrum
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.