Pemisahan Unit Usaha Syariah (UUS) dari induk perusahaan menjadi kewajiban yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bagi industri asuransi syariah di Indonesia. Batas waktu pelaksanaan spin off ini ditetapkan paling lambat akhir 2026. Salah satu perusahaan yang telah melaksanakan proses ini adalah PT Sinar Mas Asuransi Syariah (SMAS), yang resmi menjadi perusahaan asuransi umum syariah berdiri mandiri sejak akhir 2025.
Direktur Utama SMAS, Daniel Armagatlie, membeberkan sejumlah tantangan yang dihadapi selama proses pemisahan. Meski secara permodalan tidak menjadi kendala karena sudah memenuhi dan bahkan melebihi ketentuan, tantangan lain justru datang dari kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur teknologi informasi. Kedua elemen ini menjadi krusial karena harus mampu menjalankan bisnis secara paralel selama masa transisi.
Tantangan Saat Melakukan Pemisahan UUS
1. Kekurangan Sumber Daya Manusia Kompeten
Salah satu tantangan utama yang dihadapi SMAS adalah ketersediaan sumber daya manusia yang kompeten dan mencukupi. Selama proses spin off, perusahaan harus memastikan semua departemen dan divisi memiliki SDM yang mumpuni untuk menjalankan operasional secara mandiri.
2. Infrastruktur Teknologi Informasi yang Harus Handal
Infrastruktur TI juga menjadi poin penting. Sistem harus bisa diandalkan untuk menjalankan proses transisi, pengalihan portofolio, dan penerimaan bisnis baru secara bersamaan. Ini bukan hal yang mudah karena sistem harus dirancang agar bisa berjalan paralel dengan sistem induk sebelum benar-benar terpisah.
Kompleksitas Proses Spin Off
Proses pemisahan UUS tidak semudah yang dibayangkan. Daniel menyebut ini sebagai salah satu corporate transformation paling kompleks di industri asuransi. Banyak perusahaan menemui kendala teknis maupun regulasi selama proses, seperti:
- Kelengkapan dokumen
- Proses perizinan yang rumit
- Uji kemampuan dan kepatutan (fitness and proper test)
- Kerja sama sharing service dengan induk dan pihak ketiga
- Pengalihan portofolio yang memakan waktu
Opsi Pendekatan dalam Spin Off
Perusahaan memiliki beberapa pilihan dalam menjalankan proses spin off. SMAS sendiri memilih pendekatan mandiri, namun opsi lain seperti menggunakan jasa konsultan atau membentuk tim task force juga bisa dipertimbangkan. Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan yang tergantung pada kebijakan dan kapabilitas perusahaan.
Rencana Pasca-Spin Off SMAS
Setelah mendapatkan izin resmi dari OJK berdasarkan Surat Keputusan Nomor KEP-123/D.05/2025, SMAS mulai fokus pada pengalihan portofolio. Proses ini ditargetkan selesai pada kuartal II-2026. Di sisi lain, perusahaan juga akan melakukan penyesuaian strategi bisnis untuk lebih agresif di pasar, termasuk pengembangan produk baru.
Data Keuangan SMAS saat Masih Menjadi UUS
Sebelum resmi menjadi perusahaan mandiri, SMAS mencatat kontribusi gabungan sebesar Rp 168 miliar pada tahun 2025. Ekuitas dana gabungan mencapai Rp 809,14 miliar dengan rasio solvabilitas (Risk Based Capital/RBC) sebesar 931,87%. Angka ini menunjukkan kondisi keuangan yang sehat dan siap untuk berdiri sendiri.
| Parameter | Nilai (2025) |
|---|---|
| Kontribusi Gabungan | Rp 168 miliar |
| Ekuitas Dana Gabungan | Rp 809,14 miliar |
| Rasio Solvabilitas (RBC) | 931,87% |
Disclaimer: Data di atas bersifat historis dan dapat berubah seiring perkembangan bisnis dan regulasi.
Strategi Ke depan SMAS
Setelah resmi berdiri mandiri, fokus utama SMAS adalah memperkuat portofolio dan mempercepat proses transisi bisnis. Perusahaan juga berencana melakukan inovasi produk untuk meningkatkan daya saing di pasar asuransi syariah yang terus berkembang.
Langkah ini sejalan dengan arahan OJK yang ingin industri asuransi syariah berdiri kuat dan mandiri. Dengan begitu, asuransi syariah bisa tumbuh lebih sehat dan memberikan kontribusi lebih besar pada ekosistem keuangan nasional.
Penutup
Proses pemisahan UUS memang penuh tantangan, tapi bukan berarti tidak bisa dilalui. Dengan strategi yang tepat, dukungan SDM yang kompeten, dan sistem teknologi yang andal, perusahaan seperti SMAS bisa melalui proses ini dengan sukses. Yang terpenting adalah kesiapan menghadapi perubahan dan komitmen untuk terus berkembang.
Retno Ramadhanti adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis berpengalaman dengan keahlian di bidang ekonomi, bisnis, ritel, dan inklusi keuangan.













