Finansial

CNAF Yakin Pembiayaan Mobil Listrik 2026 Masih Prospektif dan Menjanjikan

Herdi Alif Al Hikam
×

CNAF Yakin Pembiayaan Mobil Listrik 2026 Masih Prospektif dan Menjanjikan

Sebarkan artikel ini
CNAF Yakin Pembiayaan Mobil Listrik 2026 Masih Prospektif dan Menjanjikan

Permintaan terhadap di Tanah Air terus menunjukkan tren positif. PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) pun optimistis bahwa prospek kendaraan listrik tahun ini masih menjanjikan. Tidak hanya sebagai respon terhadap kebutuhan pasar, tapi juga sebagai bagian dari komitmen mendukung green mobility.

Kenaikan permintaan ini sejalan dengan semakin banyaknya pilihan kendaraan listrik yang tersedia. Masyarakat juga mulai lebih sadar akan pentingnya transportasi yang ramah . Hal ini membuat segmen kendaraan listrik bukan lagi hal asing, melainkan mulai menjadi pilihan nyata.

Permintaan Kendaraan Listrik Naik Tajam

1. Data Penjualan 2025 Catat Lonjakan Signifikan

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) mencatat lonjakan kendaraan listrik nasional pada 2025. Dari 43.000 unit pada tahun sebelumnya, angka ini meningkat hingga 104.000 unit atau naik sebesar 141%. Lonjakan ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap kendaraan listrik semakin tinggi.

2. Pembiayaan Kendaraan Listrik Terus Bertumbuh

Otoritas Jasa (OJK) juga mencatat pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik di sektor multifinance. Pada Januari 2026, total pembiayaan mencapai Rp 21,05 triliun, naik 39,13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang memilih skema pembiayaan untuk membeli kendaraan listrik.

Tantangan di Balik Peluang

Meski prospeknya cerah, tidak semua mulus. Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi, terutama oleh perusahaan pembiayaan seperti CNAF.

1. Harga Kendaraan Listrik Masih Tinggi

Salah satu hambatan utama adalah harga kendaraan listrik yang masih tinggi. Ini dipicu antara lain oleh hilangnya pajak yang diberikan pemerintah. Tanpa insentif, harga jual kendaraan listrik naik, dan ini berdampak pada daya beli konsumen.

2. Resale Value yang Masih Tidak Stabil

Kendaraan listrik juga masih menghadapi tantangan terkait resale value atau nilai jual kembali. Banyak konsumen masih ragu karena khawatir nilai kendaraan akan turun drastis setelah beberapa tahun. Ini menjadi pertimbangan penting sebelum memutuskan untuk membeli.

3. Belum Menjangkau Pasar Massal

Saat ini, kendaraan listrik masih belum sepenuhnya menjadi produk mass market. Mayoritas pembeli masih berasal dari kalangan menengah ke atas. Padahal, untuk bisa berkembang secara berkelanjutan, kendaraan listrik perlu menembus pasar yang lebih luas.

Strategi CNAF Dorong Pembiayaan Kendaraan Listrik

1. Perkuat Kolaborasi dengan Dealer dan ATPM

Untuk mengatasi tantangan tersebut, CNAF mengambil langkah strategis. Salah satunya dengan memperkuat kolaborasi dengan dealer dan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM). Tujuannya agar ketersediaan unit kendaraan tetap terjaga sesuai dengan permintaan pasar.

2. Tingkatkan Penyaluran Pembiayaan

internal CNAF menunjukkan bahwa pembiayaan baru untuk kendaraan , baik listrik maupun hybrid, mencapai Rp 303 miliar pada Februari 2026. Angka ini naik dari Rp 149 miliar pada bulan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa strategi yang diambil mulai menunjukkan hasil.

Perbandingan Pembiayaan Kendaraan Listrik

Bulan Total Pembiayaan Kenaikan (%)
Januari 2026 Rp 149 miliar
Februari 2026 Rp 303 miliar 103%

Catatan: Data berdasarkan laporan internal CNAF

Tren Elektrifikasi Kendaraan di Indonesia

1. Dukungan Pemerintah dan Regulasi

Pemerintah terus mendorong percepatan elektrifikasi kendaraan melalui berbagai kebijakan. Meski beberapa insentif sempat dicabut, upaya untuk menciptakan ekosistem yang mendukung kendaraan listrik tetap berjalan.

2. Peran Multifinance dalam Mendorong Adopsi

Perusahaan multifinance seperti CNAF memainkan peran penting dalam mendorong adopsi kendaraan listrik. Dengan menyediakan skema pembiayaan yang menarik, mereka membantu masyarakat memiliki kendaraan listrik tanpa harus membayar tunai penuh.

Potensi dan Harapan ke Depan

1. Semakin Banyaknya Model Kendaraan Listrik

Semakin banyaknya model kendaraan listrik yang dirilis oleh produsen membuat konsumen memiliki lebih banyak pilihan. Ini berpotensi meningkatkan permintaan dan mendorong pertumbuhan pembiayaan.

2. Kesadaran Lingkungan Masyarakat Meningkat

Masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Green mobility bukan lagi sekadar tren, tapi sudah menjadi pilihan gaya hidup. Ini menjadi salah satu pendorong permintaan kendaraan listrik.

3. Infrastruktur Pengisian yang Terus Dikembangkan

Pemerintah dan swasta terus mengembangkan infrastruktur pengisian kendaraan listrik. Semakin banyak stasiun pengisian yang tersebar, semakin nyaman masyarakat menggunakan kendaraan listrik.

Kesimpulan

Pembiayaan kendaraan listrik di tahun 2026 masih menyimpan potensi besar. Meski ada tantangan, optimisme dari CNAF dan pihak terkait menunjukkan bahwa sektor ini akan terus tumbuh. Dengan strategi yang tepat dan dukungan ekosistem yang kuat, kendaraan listrik bisa menjadi bagian penting dari masa depan transportasi Indonesia.

Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat simulatif dan didasarkan pada tren serta informasi hingga tahun 2026. Nilai dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, serta dinamika pasar yang berlaku.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.