Finansial

Saham Bank Besar Mengalami Penurunan, Ahli Keuangan Sarankan Investasi Jangka Panjang untuk Akumulasi Nilai

Herdi Alif Al Hikam
×

Saham Bank Besar Mengalami Penurunan, Ahli Keuangan Sarankan Investasi Jangka Panjang untuk Akumulasi Nilai

Sebarkan artikel ini
Saham Bank Besar Mengalami Penurunan, Ahli Keuangan Sarankan Investasi Jangka Panjang untuk Akumulasi Nilai

big banks kembali melemah dalam sepekan terakhir. Meski begitu, bukan berarti prospek saham perbankan besar sudah habis. Justru di tengah koreksi harga ini, banyak analis yang mulai melirik peluang akumulasi jangka panjang.

Pergerakan saham bank besar memang tengah terkoreksi. Tapi bukan berarti kinerja keuangan mereka juga ikut melemah. Justru sebaliknya, laba hingga Februari 2026 justru menunjukkan pertumbuhan yang solid. Ini jadi sinyal bahwa fundamental sektor perbankan masih kuat meski harga sahamnya sedang lesu.

Kinerja Laba Big Banks Hingga Februari 2026

Meski harga sahamnya sedang turun, kinerja keuangan beberapa big banks justru menunjukkan tren positif. Laporan laba yang dirilis sejumlah emiten besar justru memberi gambaran bahwa sektor perbankan masih punya pondasi yang kokoh.

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat laba sebesar Rp 9,2 triliun atau naik 2,81% secara tahunan (yoy). Pertumbuhannya memang lebih rendah dibanding bank lain, tapi tetap mencatat angka yang besar.

  2. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membukukan laba Rp 7,73 triliun dengan pertumbuhan laba 17,05% (yoy). Angka ini menunjukkan ekspansi kredit yang agresif dan perbaikan aset.

  3. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga mencatat laba Rp 8,9 triliun atau tumbuh 16,7% (yoy). Kinerja ini menempatkan BMRI sebagai salah satu bank dengan pertumbuhan laba tertinggi di antara big banks.

Belum semua big banks merilis laporan keuangan terbarunya. Misalnya PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang masih menunggu pengumuman resmi. Namun dari data yang ada, kinerja laba hingga Februari 2026 menunjukkan bahwa sektor perbankan masih punya daya tahan yang kuat.

Sentimen Makro Masih Jadi Penentu Pergerakan Saham

Meski kinerja laba menunjukkan tren positif, harga saham big banks tetap saja melemah. Ini karena sentimen makro ekonomi masih lebih dominan dibandingkan faktor fundamental. Muhammad Wafi, Head Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), menyebut bahwa pergerakan saham masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Ketiga faktor ini jadi pendorong utama volatilitas pasar saham saat ini. Sentimen global seperti kebijakan suku bunga AS dan geopolitik internasional juga berpengaruh besar.

Namun, Wafi menilai bahwa kinerja keuangan yang solid menunjukkan bahwa fundamental big banks tetap kuat. Ini menjadikan saham perbankan besar tetap menarik untuk investasi jangka panjang.

Saham Big Banks Cocok Jadi Core Holdings

Dengan fundamental yang terjaga, big banks tetap layak jadi instrumen investasi inti (core holdings) dalam portofolio investor. Meski volatilitas jangka pendek masih tinggi, prospek jangka panjang saham big banks tetap menjanjikan.

BBCA, meski pertumbuhan labanya lebih konservatif, tetap jadi pilihan aman () di sektor perbankan. Sementara BBRI dan BMRI, dengan pertumbuhan laba yang lebih tinggi, cocok untuk investor yang mencari capital gain (growth).

Berikut rekomendasi dari analis untuk beberapa big banks:

Emiten Laba Februari 2026 Pertumbuhan YoY Rekomendasi
BBCA Rp 9,2 triliun 2,81% Safe Haven, konservatif
BBRI Rp 7,73 triliun 17,05% Growth, agresif
BMRI Rp 8,9 triliun 16,7% Growth, agresif

Catatan: Data di atas berdasarkan laporan kinerja hingga Februari 2026. Informasi ini bisa berubah seiring rilis laporan dari masing-masing emiten.

Penutupan Saham Big Banks di Akhir Pekan

Pada penutupan perdagangan Jumat (27/3/2026), seluruh saham big banks berada di zona merah. Meski begitu, koreksi ini justru bisa jadi peluang bagi investor untuk akumulasi saham dengan harga yang lebih terjangkau.

  • BBCA: Rp 6.700 (turun 2,55%)
  • BBNI: Rp 3.900 (turun 2,50%)
  • BBRI: Rp 3.420 (turun 2,01%)
  • BMRI: Rp 4.760 (turun 1,65%)

Meski semua saham big banks kompak turun, bukan berarti ini jadi sinyal negatif jangka panjang. Koreksi harga bisa jadi penyesuaian diri terhadap sentimen eksternal, bukan karena kinerja internal yang buruk.

Prospek Jangka Panjang Masih Menjanjikan

Pergerakan saham sektor perbankan ke depan akan tetap sangat dipengaruhi oleh dinamika global. Terutama kebijakan suku bunga bank sentral dan arus modal asing. Namun, dengan fundamental yang kuat, big banks punya daya tahan lebih baik dibandingkan sektor lain.

Investor yang mencari instrumen investasi stabil dan punya prospek jangka panjang, saham big banks tetap jadi pilihan utama. Apalagi saat ini sedang dalam fase koreksi, peluang akumulasi bisa dimanfaatkan dengan baik.

Meski sentimen pasar saat ini masih hati-hati, daya tahan sektor perbankan tetap terjaga. Saham big banks bukan cuma soal harga hari ini, tapi juga soal potensi yang akan datang.

Herdi Alif Al Hikam
Reporter at USAID IUWASH Tangguh

Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.