Di tengah perlambatan pertumbuhan kredit konsumer dan meningkatnya rasio kredit bermasalah (NPL) di sektor rumah tangga, Bank Central Asia (BCA) terus menunjukkan ketahanan lewat strategi pengelolaan risiko yang ketat. Meski kondisi makro ekonomi memberi tekanan, BCA berhasil menjaga rasio NPL tetap stabil dan memperkuat pencadangan sebagai bentuk antisipasi risiko.
Pada akhir 2025, Bank Indonesia mencatat NPL sektor rumah tangga naik menjadi 2,39%, dari 2,02% di tahun sebelumnya. Pertumbuhan kredit konsumer nasional pun melambat dari 10,5% menjadi 6,4%. Di tengah situasi ini, BCA mencatat pertumbuhan kredit konsumer hanya 0,2% tahun ke tahun, turun drastis dari 12,4% pada 2024. Meski begitu, rasio NPL BCA secara keseluruhan justru turun dari 1,78% menjadi 1,7%—tanda bahwa bank ini mampu menjaga kualitas portofolio kreditnya tetap terjaga.
Strategi BCA Menjaga Kualitas Kredit Rumah Tangga
Menjaga kualitas kredit rumah tangga bukan perkara mudah, apalagi saat tekanan ekonomi mulai dirasakan di berbagai sektor. BCA menangani tantangan ini dengan pendekatan yang terstruktur dan berkelanjutan. Langkah-langkah yang diambil tidak hanya bersifat reaktif, tapi juga proaktif, terutama dalam mengelola risiko dan memperkuat cadangan.
1. Penguatan Pencadangan Kredit Bermasalah
Salah satu pilar utama dalam menjaga kualitas kredit adalah penguatan pencadangan. BCA mencatat rasio pencadangan terhadap kredit bermasalah (NPL coverage) sebesar 183,8% pada akhir 2025. Angka ini menunjukkan bahwa BCA memiliki dana cadangan yang lebih tinggi daripada total NPL-nya, memberikan buffer yang cukup kuat terhadap risiko kredit macet.
2. Evaluasi Berkala Portofolio Kredit
BCA tidak hanya mengandalkan pencadangan. Evaluasi rutin terhadap portofolio kredit juga menjadi bagian penting dari strategi pengelolaan risiko. Bank ini memantau risiko konsentrasi kredit dan melakukan penyesuaian limit kredit secara berkala. Dengan begitu, risiko terhadap portofolio bisa diminimalkan sejak dini.
3. Disiplin dalam Penerapan Manajemen Risiko
Prinsip kehati-hatian menjadi landasan dalam penyaluran kredit. BCA tetap menyalurkan kredit ke berbagai segmen, namun tetap disiplin dalam penerapan manajemen risiko. Hal ini memastikan bahwa setiap kredit yang disetujui telah melalui proses seleksi yang ketat.
4. Pengelolaan Loan at Risk (LAR)
Selain NPL coverage, BCA juga memantau Loan at Risk (LAR) yang berada di level 71,6%. Angka ini menunjukkan proporsi kredit yang berpotensi bermasalah. Dengan memantau LAR secara berkala, BCA bisa mengambil langkah antisipatif sebelum kredit benar-benar macet.
Faktor yang Mendorong Peningkatan NPL di Sektor Rumah Tangga
Meskipun BCA berhasil menjaga NPL tetap terkendali, tren kenaikan NPL sektor rumah tangga secara nasional tidak bisa diabaikan. Ada beberapa faktor yang memicu kondisi ini.
1. Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi
Perlambatan ekonomi berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Ketika pendapatan terbatas, risiko gagal bayar kredit meningkat. Hal ini terutama terlihat pada kredit konsumer yang sensitif terhadap kondisi ekonomi.
2. Kenaikan Suku Bunga Acuan
Kenaikan suku bunga acuan BI membuat biaya pinjaman menjadi lebih mahal. Masyarakat cenderung lebih hati-hati dalam mengambil kredit, dan yang sudah memiliki pinjaman menghadapi beban bunga yang lebih besar.
3. Perubahan Pola Konsumsi
Perubahan perilaku konsumen juga turut berkontribusi. Masyarakat lebih memilih menabung atau menunda pengeluaran, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi.
Perbandingan Kinerja Kredit BCA dan Nasional (2024–2025)
| Indikator | 2024 | 2025 |
|---|---|---|
| Pertumbuhan Kredit Konsumer Nasional | 10,5% | 6,4% |
| Pertumbuhan Kredit Konsumer BCA | 12,4% | 0,2% |
| NPL Nasional Sektor Rumah Tangga | 2,02% | 2,39% |
| NPL BCA Keseluruhan | 1,78% | 1,7% |
| NPL Coverage BCA | – | 183,8% |
| Loan at Risk (LAR) BCA | – | 71,6% |
Tips Menjaga Kualitas Kredit dari Sisi Nasabah
Meskipun bank sudah melakukan berbagai langkah, peran nasabah juga penting dalam menjaga kualitas kredit. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan agar kredit tetap sehat dan tidak bermasalah.
1. Disiplin dalam Pembayaran
Keterlambatan pembayaran adalah awal dari risiko macet. Disiplin membayar cicilan tepat waktu sangat penting untuk menjaga riwayat kredit yang baik.
2. Hindari Over Kredit
Ambil kredit sesuai dengan kemampuan. Jangan memaksakan diri mengambil pinjaman yang melebihi kapasitas penghasilan bulanan.
3. Cek Riwayat Kredit Secara Berkala
Pastikan tidak ada kesalahan data dalam riwayat kredit. Kesalahan administrasi bisa berdampak pada penilaian risiko oleh bank.
4. Komunikasi dengan Bank Saat Mengalami Kesulitan
Jika mengalami kesulitan keuangan, segera hubungi bank. Banyak bank menawarkan solusi restrukturisasi atau penundaan pembayaran untuk membantu nasabah.
Penutup
BCA terbukti mampu menjaga kualitas kredit rumah tangga meski di tengah tekanan ekonomi yang cukup signifikan. Dengan penguatan pencadangan, evaluasi berkala, dan disiplin dalam manajemen risiko, bank ini tetap menjaga portofolio kreditnya tetap sehat. Namun, tantangan ke depan tetap ada, terutama jika perlambatan ekonomi berlangsung lebih lama.
Disclaimer: Data dan angka dalam artikel ini bersifat estimasi berdasarkan informasi hingga akhir tahun 2025. Angka-angka bisa berubah seiring perkembangan kondisi makro ekonomi dan kebijakan Bank Indonesia.
Herdi Susianto adalah Reporter USAID IUWASH Tangguh. Jurnalis ekonomi berpengalaman dengan keahlian di bidang bisnis, infrastruktur, dan transportasi.













